KETIK, JAKARTA – Ramadan sering dipandang sebagai momen spiritual yang penuh ketenangan dan kedekatan dengan Tuhan.
Namun bagi banyak orang, salah satu tantangan terbesar justru bukan menahan lapar atau haus, melainkan mengendalikan emosi, terutama rasa mudah tersinggung yang kerap muncul saat berpuasa.
Secara fisiologis, perubahan suasana hati saat berpuasa dapat dijelaskan melalui respons tubuh terhadap perubahan energi.
Ketika tubuh tidak menerima asupan makanan dan minuman dalam waktu lama, kadar gula darah menurun.
Kondisi ini memengaruhi fungsi otak yang berperan dalam mengatur kontrol emosi dan konsentrasi.
Penurunan glukosa di otak serta perubahan hormon seperti ghrelin (hormon lapar) dapat membuat seseorang menjadi lebih reaktif dan mudah marah.
Fenomena ini sering disebut hangry, gabungan dari hungry (lapar) dan angry (marah).
Selain itu, dehidrasi ringan serta perubahan pola tidur selama Ramadan, seperti bangun sahur, aktivitas malam seperti tarawih, dan waktu istirahat yang bergeser, turut memengaruhi kestabilan mood dan kemampuan seseorang dalam mengelola stres.
Di luar faktor biologis, terdapat dimensi psikologis yang turut memperkuat reaksi emosional tersebut.
Perubahan rutinitas harian, beban mental akibat tuntutan spiritual dan sosial, serta harapan tinggi terhadap kualitas ibadah dapat menjadi sumber stres tambahan.
Ketika energi mental menurun, kontrol diri pun melemah, sehingga komentar kecil atau situasi biasa bisa terasa lebih memicu emosi dibanding hari-hari normal.
Psikolog Klinis dari Universitas Indonesia, Dini Rahma Bintari, S.Psi., M.Psi., Ph.D., menjelaskan bahwa kondisi ini justru dapat dipandang sebagai bagian dari pelatihan emosional selama puasa.
“Proses menahan lapar dan haus selama puasa juga mengajarkan seseorang untuk mengenali dan mengelola emosi negatif. Rasa lelah dan emosi negatif yang mungkin muncul justru menjadi sarana latihan untuk tidak melampiaskannya secara berlebihan,” jelasnya dikutip dari laman psikologi.ui.ac.id, Selasa, 3 Maret 2026.
Artinya, mudah tersinggung bukan berarti puasa gagal. Justru kondisi tersebut bisa menjadi panggilan untuk lebih sadar terhadap keadaan batin dan cara seseorang merespons situasi di sekitarnya.
Sementara dari perspektif agama, tantangan emosional ini bukanlah hal yang asing.
Dalam ajaran Islam, puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, melainkan juga menahan perilaku buruk, termasuk ucapan yang tidak baik dan amarah.
Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW, “Jika salah seorang dari kalian berpuasa pada suatu hari, maka janganlah ia berkata-kata kotor dan berbuat kesia-siaan.”
Pesan tersebut menegaskan bahwa Ramadan merupakan latihan pengendalian diri secara menyeluruh, bukan sekadar ritual fisik.
Justru kemampuan menahan emosi di tengah tantangan puasa menjadi bagian penting dari makna spiritual yang ingin dibangun selama bulan suci Ramadan.(*)
