KETIK, SURABAYA – Apakah laki-laki khususnya ayah boleh menangis? Apakah boleh sekadar mengeluh? Apakah harus selalu terlihat kuat?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut acapkali ditujukan kepada lelaki. Konstruksi sosial yang membuat mereka harus selalu terlihat kuat, tidak cengeng, dan anti mengeluh biasanya bersumber dari dari lingkungan, tontonan, atau bahkan bacaan yang membuat paham seperti itu menjamur di mindset kebanyakan lelaki.
Hal-hal tersebut justru berbahaya bagi lelaki itu sendiri, teman, anak, bahkan istrinya sendiri. Dr. Irfan Aulia M.Psi melalui kanal YouTube pribadinya menjelaskan, bahwa fenomena ini dinamakan toxic masculinty. Ini adalah kepribadian racun yang menyangkut sifat-sifat kelelakian.
Pria berusia 45 tahun itu memaparkan bahwa pengidap gangguan mental tersebut berakar dari rasa insecure yang disebabkan oleh paparan media sosial. Efeknya, lelaki mempunyai kecenderungan membanding-bandingkan dirinya sendiri. Karena merasa tidak aman, maka kompensasinya adalah menonjolkan kemaskulinan mereka.
Tetapi perasaan-perasaan di atas berpeluang besar membuat lelaki bisa menekan pasangannya sendiri, agresif terhadap anak, kasar kepada temannya sendiri dan hal-hal buruk lainnya yang membuat orang lain tidak nyaman. Pengabaian atas rasa rentan itulah yang menyebabkan laki-laki berbuat demikian.
“Banyak orang beranggapan bahwa laki-laki enggak boleh menangis, laki-laki tidak boleh merasa khawatir, laki-laki tidak boleh merasa lemah, laki-laki tidak boleh merasa bodoh. Padahal dalam kenyataannya kita ngalamin semua. Kita pernah mengalami saat-saat bodoh. Kita pernah ngalamin saat-saat lemah, kita pernah ngalamin saat-saat kita merasa tidak berdaya. Dan ini normal dialami oleh semua,” ujar alumni Universitas Padjajaran itu.
Beliau juga menambahkan, pengidap toxic masculinity biasanya mudah marah dengan orang sekitar, khususnya anak. Dr. Irfan menjelaskan bahwa pemicu termudahnya adalah saat ayah pulang kerja, saat lelah.
“Kita mudah marah saat capek. Ditambah istri dan anak minta perhatian kita. Ketika kita tidak bisa memenuhi permintaan tersebut ada perasaan insecure, tidak aman. Lalu cara paling mudah ya marah,” ujar pria kelahiran Jakarta itu.
Dalam konteks hubungan ayah dan anak, Irfan menjelaskan, pria harus mengakui bahwa dirinya memiliki kekurangan. Hal itu bisa dibahasakan lewat obrolan kecil, sembari berkata dalam hati bahwa diri ini sudah hebat menghadapi apapun-pekerjaan, anak, istri, dan hal lain.
Bagi Irfan, ayah yang hebat bukan berarti ayah yang bisa di beberapa bidang atau hal lain yang bersifat performa, tapi ayah hebat adalah ayah yang mau belajar. ”Jadi ayah yang mau dengerin celoteh-celoteh anak kita,” imbuhnya. (*)
