KETIK, BANGKALAN – Ribuan jamaah memadati kawasan Masjid Syaikhona Muhammad Kholil di Desa Martajasah Bangkalan, untuk mengikuti Haul Akbar ke-101 ulama besar Madura tersebut.
Sejak matahari terbit, gelombang peziarah dari berbagai daerah terus mengalir. Tidak hanya dari Bangkalan dan Madura, tetapi juga dari sejumlah wilayah luar Jawa yang datang khusus untuk menghadiri peringatan ini.
Suasana masjid dan kompleks pesarean dipenuhi lantunan doa dan zikir, menciptakan nuansa khidmat yang menjadi ciri khas haul akbar Syaikhona Muhamad Kholil.
Sejumlah ulama, pengasuh pesantren, dan tokoh agama dari berbagai daerah hadir, menambah semarak sekaligus kekhusyukan peringatan haul tahunan ini.
Haul Mbah Kholil tahun ini menghadirkan rangkaian kegiatan yang lebih kaya. Selain tahlil dan doa bersama, jamaah juga dapat menikmati pameran manuskrip karya Syaikhona Muhamad Kholil, bedah ilmiah, serta ceramah agama yang mengulas kontribusi keilmuan beliau.
Ceramah utama disampaikan oleh Said Agil Husin Al-Munawar yang menyoroti keteladanan Syaikhona Kholil, termasuk bagaimana pemikiran dan dedikasi beliau membentuk fondasi keilmuan pesantren di Nusantara.
Ketua panitia yang juga dzurriyah (keturunan) Syaikhona Kholil, KH. Hasbullah Muchtaram, menjelaskan bahwa konsep haul kali ini dirancang lebih komprehensif.
“Ada bakti sosial, pemeriksaan kesehatan dan donor darah. Selain itu, kami menampilkan pameran Al-Qur’an tulisan tangan karya Syaikhona Kholil beserta tafsirnya,” jelasnya. Rabu 1 April 2026.
Menurutnya, pameran tersebut bukan hanya menampilkan karya ulama besar, tetapi juga membuka ruang diskusi akademik.
"Dalam manuskripnya, Syaikhona Muhamad Kholil bahkan mengajak para ulama untuk ikut mengoreksi dan menyempurnakan tafsir yang beliau susun," tambah Ra Hasbullah.
Di tengah ribuan jamaah, hadir pula H. Khoirul Umam, tokoh masyarakat Medura, yang biasa dipanggil haji Her. Ia menilai haul ini sebagai pengingat mendalam bagi umat.
“Haul ini mengingatkan kita bahwa pada akhirnya semua manusia akan kembali kepada Allah. Yang paling perlu ditauladani dari beliau ya akhlaknya. Itu yang utama untuk zaman sekarang,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa sosok Syaikhona Kholil merupakan figur ulama yang sulit dicari tandingannya.
“Kita semua sudah tahu siapa beliau. Tidak perlu dijelaskan lagi. Sosok seperti beliau sangat langka,” katanya.
Menurutnya Haul Akbar ke-101 Syaikhona Muhamad Kholil ini kembali menegaskan pentingnya menjaga sanad keilmuan dan tradisi pesantren. Peringatan yang selalu diisi rangkaian kegiatan ilmiah dan spiritual ini menjadi ruang bagi masyarakat untuk memperkuat nilai-nilai keislaman, memperluas wawasan, sekaligus mempererat silaturahmi antarjamaah.
"Momentum ini menjadi pengingat bahwa keteladanan ulama besar tidak hanya dikenang, tetapi harus terus dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari," tegasnya. (*)
