KETIK, PEMALANG – Majelis Taklim Nurul Huda Desa Rowosari, Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang menggelar Haflah Akhirussanah ke-37 sekaligus wisuda ke-18, Selasa, 10 Februari 2026.
Kegiatan tahunan ini diikuti puluhan santri dan dimeriahkan dengan arak-arakan atau karnaval yang melibatkan masyarakat lintas desa.
Pengasuh Majelis Taklim Nurul Huda, Kiai Shodiqon Habsy mengatakan, pada tahun ini pihaknya mewisuda sebanyak 60 santri putra dan putri. Para santri tersebut tidak hanya berasal dari Desa Rowosari, tetapi juga dari sejumlah desa sekitar, seperti Samong, Bumirejo, Wiyorowetan, Gandu, hingga Sikayu Comal.
“Alhamdulillah, santri yang belajar di Majelis Taklim Nurul Huda bukan hanya dari Rowosari, tapi melibatkan kurang lebih lima desa. Ini menjadi kebanggaan sekaligus amanah bagi kami,” kata Kiai Shodiqon Habsy.
Penampilan rombongan Barongsai Naga saat karnaval di Haflah Akhirussanah ke-37, Majelis Taklim Nurul Huda Rowosari (Foto: Slamet/Ketik)
Ia menjelaskan, kegiatan arak-arakan atau karnaval merupakan agenda rutin yang digelar setiap tahun sebagai sarana ta’aruf kepada masyarakat. Selain itu, kegiatan tersebut juga menjadi momen kebahagiaan bagi para santri setelah menjalani proses belajar selama satu tahun.
“Kalau bahasa umumnya karnaval, tapi kalau bahasa Jawa arak-arakan. Ini seperti lebarannya anak-anak santri, supaya mereka senang,” ujarnya.
Dalam arak-arakan tersebut, turut ditampilkan kesenian barongsai dan drum band. Menurut Kiai Shodiqon, kehadiran barongsai merupakan bentuk kerukunan antarumat beragama serta atas permintaan wali santri, dengan tetap berkoordinasi bersama aparat keamanan setempat.
“Ini bagian dari kerukunan beragama. Kami sudah izin ke Polsek dan Koramil, dan Alhamdulillah diperbolehkan,” ungkapnya.
Majelis Taklim Nurul Huda sendiri berdiri sejak tahun 1989 dan telah melaksanakan wisuda hingga 18 generasi. Sementara untuk lulusan umum, jumlahnya telah mencapai ratusan santri.
Selain karnaval, rangkaian Haflah Akhirussanah telah dimulai sejak bulan Rajab dengan berbagai perlombaan, seperti lomba adzan, hafalan tajwid, tartil Al-Qur’an, hingga lomba cerdas cermat.
Puncak kegiatan berlangsung selama empat hari empat malam dan ditutup dengan pemberian penghargaan kepada santri berprestasi.
Kiai Shodiqon menambahkan, usai kegiatan ini, Majelis Taklim Nurul Huda akan melakukan penutupan sementara menjelang bulan Ramadan. Meski demikian, para santri tetap diarahkan untuk mengisi Ramadan dengan tadarus Al-Qur’an di rumah masing-masing.
“Harapannya, anak-anak semakin lancar membaca Al-Qur’an dan mengamalkan ilmu yang telah dipelajari,” pungkasnya.(*)
