Greenland dan Aceh: Bedanya di Mana, Peluangnya Apa?

2 Februari 2026 22:22 2 Feb 2026 22:22

Thumbnail Greenland dan Aceh: Bedanya di Mana, Peluangnya Apa?

Oleh: Adhifatra Agussalim, CIE, CIAPA, CASP, CPAM, C.EML*

Opini ini ditulis sebenarnya dipicu oleh Gerakan Mr Trump di utara Eropa dan Kebijakan Mr Prabowo di Baratnya Indonesia, ya benar masih cukup hangat untuk dibicarakan dan malah menjadi meja kasino oleh pemerhati hubungan internasional, dengan beragam visi, dan analis mereka, intinya ini layak kita diskusikan baik secara ilmiah, historis dan semangat self determination. 

Greenland dan Aceh, sama-sama punya bendera berbeda dengan induknya, sama-sama punya rakyat yang selalu berjuang secara demokratis untuk menentukan diri sendiri, dan juga sama-sama memiliki wilayah yang sangat strategis. 

Ketika membandingkan Greenland dan Aceh, banyak orang mungkin langsung berpikir: “Apa hubungannya dua wilayah ini?” Secara geografis, budaya, dan iklim, keduanya memang sangat berbeda. Namun, di balik perbedaan itu, ada kesamaan strategis yang menarik terutama dari sisi sumber daya alam dan posisi geopolitik.

Pertama, coba kita bahas mengenai perbedaan Geografis dan Iklim, Greenland terletak di kawasan Arktik, dengan mayoritas wilayah tertutup es. Suhu ekstrem, musim tanam terbatas, dan aktivitas ekonomi sangat bergantung pada laut serta pertambangan. Aceh, sebaliknya, berada di kawasan tropis dengan tanah subur, curah hujan tinggi, serta kekayaan laut dan hutan yang melimpah. Iklim ini membuat Aceh lebih fleksibel dalam pengembangan pertanian, perikanan, dan pariwisata.

Intinya Greenland kaya di bawah es, Aceh kaya di atas tanah dan laut, tetapi untuk kasus di Aceh kita cukup meributkan pergantian Sekda atau pergantian Ketua DPRA, karena itu menjadi isu seksi dibandingkan dengan kesejahteraan masyarakat yang habis ditimpa musibah hampir diseluruh Aceh, ya seluruh Aceh.

Selanjutnya masuk pada fase kedua, perbedaan Politik dan Posisi Strategis, Greenland merupakan wilayah otonom di bawah Denmark, tetapi memiliki posisi strategis global karena berada di jalur Arktik yang kini semakin penting akibat perubahan iklim. 

Aceh adalah daerah otonomi khusus di Indonesia, dengan kewenangan lebih luas dalam pengelolaan pemerintahan, hukum adat, dan keagamaan. Keduanya sama-sama memiliki nilai strategis, namun dalam konteks yang berbeda, jika Greenland menjadi geopolitik global, Aceh sendiri menjadi geopolitik regional dan nasional.

Di Aceh cukup dengan berita viral gubernurnya telah menikah lagi, walaupun berita tersebut belum benar adanya, ya kita cukup di suguhi berita tersebut berhari-hari, sehingga ramai pengungsi dan korban banjir kenyang dengan berita tersebut dan merasa nyaman dibawah sentuhan matahari dibawah terpal tenda pengungsi, ya hanya cukup dengan itu, Tenda itu indah. 

Tahap ketiga masuk pada Perbedaan Sumber Daya Alam, jika aspek tambang, Greenland dominan pada rare earth, uranium, mineral. Aceh sendiri dominan pada emas, gas dan batu bara. 

Coba perhatikan berita pengelolaan selama ini, Dilihat dari laut, Greeland memiliki perikanan dingin sedangkan Aceh perikanan tropis, jalur laut kita hanya mampu mengantarkan pengungsi rohingya kemari tidak lebih, jika di Greenland hutannya sangat terbatas, jika Aceh memiliku hutan yang luas dan sangat produktif, saking produktifnya, jika curah hujan tinggi tunggu banjir bandang di hlir dan pesisir Aceh.  

Pada aspek energi Greenland memiliki potensi energi terbarukan dan Aceh memiliki energi pada industri Migas dan energi hijau walaupun sedikit kekuning-kuningan saat ini. Greenland fokus pada mineral strategis dunia, sedangkan Aceh unggul dalam sumber daya hayati dan energi yang belum kita berdayakan sampai saat ini.

Tantangan Utama yang dihadapi oleh Greenland ketergantungan ekonomi, Keterbatasan SDM dan Infrastruktur mahal, dan Aceh juga menghadapi Tata kelola, Investasi belum optimal, Kualitas SDM serta Birokrasi. Jika Greenland “terhambat alam”, Aceh sering “terhambat sistem”.

Peluang Besar Aceh dalam belajar dari Greenland, Greenland mulai serius mengelola asetnya secara profesional dan transparan demi kemandirian ekonomi. 

Dari sini, Aceh bisa belajar beberapa hal penting seperti Hilirisasi Sumber Daya, Aceh tidak cukup hanya menjual bahan mentah. Perlu industri pengolahan, dari sektor Perikanan untuk mampu menuju industri ekspor, dari sektor Pertanian mampu mengembangkan agroindustri dan dari sektor Tambang mampu menciptakan smelter lokal

 

Untuk Diplomasi Ekonomi Daerah, 

Greenland aktif membangun kerja sama internasional.

Aceh juga bisa memperkuat Kerja sama investasi, Ekspor UMKM dan Pariwisata halal. Pada Ekonomi Berbasis Lingkungan, Greenland mulai menjaga keseimbangan ekologi.

Aceh punya peluang besar dalam Ekowisata, Energi terbarukan dan Hutan lestari.

Penguatan SDM Lokal, Tanpa SDM unggul, kekayaan alam hanya jadi “warisan yang habis”. Aceh perlu fokus pada Vokasi industry, Riset lokal dan Kewirausahaan muda

Peluang Strategis Aceh ke Depan, Jika dikelola serius, Aceh berpotensi menjadi Pusat ekonomi hijau Sumatra, Sentra kelautan barat Indonesia, Hub ekonomi syariah regional, Gerbang ekspor Samudera Hindia. Dengan kata lain, Aceh bisa menjadi “Greenland versi tropis”: wilayah kaya sumber daya, mandiri secara ekonomi, dan disegani secara strategis.

Bukan Soal Alam, Tapi Arah Kebijakan, Perbedaan Greenland dan Aceh bukan terutama pada kekayaan alam, tetapi pada cara mengelolanya. Greenland dengan alam yang keras berjuang membangun kemandirian. Aceh dengan alam yang ramah justru masih mencari format terbaik pengelolaan.

 Ini menunjukkan satu hal penting Kemajuan daerah tidak ditentukan oleh apa yang dimiliki, tetapi oleh bagaimana mengelolanya. Jika Aceh mampu memperkuat tata kelola, investasi, dan SDM, maka peluang untuk menjadi pusat pertumbuhan baru di barat Indonesia sangat terbuka. 

Opini ini sebenarnya ngga ada sangkut pautnya dengan Greeland, mereka telah 1000 km jauh dihadapan kita, jadi untuk apa kita teriak-teriak adat, budaya, sejarah kita beda, tapi kita sudah takluk dan dipaksa ...............di tanah sendiri. Cukup tidak perlu dikomentari dan diberi saran, karena ini cuma titipan permohonan dari pengungsi di Pidie, Takengon, Sawang, Peusangan, Langkahan dan Tamiang. Wassalam. 

Blang Peuria, Samudera, Aceh Utara, 2 Februari 2026/14 Sya’ban 1447 H

 

*) Adhifatra Agussalim, CIE, CIAPA, CASP, CPAM, C.EML merupakan penulis otodidak yang dididik di bawah tenda, dipayungi matahari, dimandikan oleh hujan di tanah endatu yang kehilangan hak warisnya.  

**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis

***) Ketentuan pengiriman naskah opini:

  • Naskah dikirim ke alamat email redaksi@ketik.com
  • Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
  • Panjang naskah maksimal 800 kata
  • Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
  • Hak muat redaksi. (*)

Tombol Google News

Tags:

Aceh cerita anak negeri 2026 opini Artikel opini Adhifatra Agussalim*