Semakin ke sini, di medsos saya seringkali dilewati postingan konten video dengan gambaran tentang bagaimana anak-anak sekolah di Indonesia tidak bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan pada mereka sebagai bentuk tes kecerdasan.
Mereka yang usianya sudah SMP/MTs dan bahkan SMA/SMK/MA, sebagaimana ditunjukkan di video itu, tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan matematika sederhana.
Awalnya saya menduga bahwa itu adalah konten yang dibuat-buat alias drama. Tetapi ternyata banyak sekali konten sejenis yang muncul, dengan lokus kejadian di berbagai tempat dengan anak-anak yang berbeda-beda.
Akhirnya saya menyimpulkan bahwa pembuat konten memang sengaja ingin menunjukkan bahwa begitulah tingkat kecerdasan para remaja dan pelajar kita, generasi bangsa yang digadang-gadang akan menjadi pilar bagi bangsa Negara yang konon akan mencapai Indonesia Emas tahun 2045.
Konten yang hampir sama yang banyak beredar juga berisi gambaran perilaku remaja Indonesia yang suka goyang-goyang ala tiktok, adegannya sedang pakai seragam sekolah. Juga guru-guru perempuan berwajah ‘glowing’ yang melakukan goyang tiktok.
Dan pembuat konten membandingkannya dengan kondisi pelajar di Negara lain, khususnya di Cina, yang sedang melakukan tindakan bermain dan berlatih mengerjakan tugas di sekolah dengan begitu bersemangatnya.
Salah satu video yang saya lihat, misalnya, menggambarkan bagaimana anak-anak di Cina, di sebuah ruangan anak-anak kecil sedang menjahit dan membuat kursi, menggabungkan kayu dengan kayu lainnya menggunakan peralata-peralatan layaknya sedang belajar serius menjadi tukang.
Tenaga Produktif Bangsa: Tiada Hasil Kerja yang Dicuri
Tayangan-tayangan tersebut tampaknya memang mencerminkan keadaan yang sebenarnya. Anak-anak di Cina dibandingkan dengan dengan di Indonesia mendapatkan “treatment” yang jauh lebih serius dalam hal pendidikan dan pembudayaan tradisi belajar dan berpikir. Sistem pendidikan dan mentalitas pendidiknya jelas beda jauh. Mentalitas pemimpin dan pejabat Negara apalagi.
Cina adalah Negara dengan para pejabat yang memiliki mentalitas pengabdian yang tinggi dan punya keinginan untuk memajukan negaranya amat kuat. Kualitas pejabatnya ditempa oleh bentukan historis semangat revolusi rakyat yang sudah terjadi.
Kaum tani dan kelas pekerja menghancurkan tatanan feodal, mengganyang kapitalis-birokrasi, dan membangun tenaga produktif yang kuat berbasis pada industri pertanian kolektif di awal-awal Revolusi. Lalu beranjak pada industri manufaktur untuk digunakan dalam persaingan global.
Produk-produk industri Cina yang berbasis pada pengorganisiran produktivitas rakyat, yang terbiasa dengan berpikir ilmiah dan dilatih untuk mengembangkan teknologi dan mencegah agar “nilai lebih” dicuri oleh segelintir orang dan dijauhkan dari tindakan korupsi (mencuri uang rakyat), ada akhirnya akan menjadi produk yang membanjiri berbagai Negara lainnya—termasuk Indonesia.
Membuat rakyat produktif dan tidak ada eksploitasi terhadap kerja rakyat, mencegah hasil kerja itu dicuri oleh segelintir elit untuk kekayaan pribadi, adalah jalan Cina untuk mengemudikan negaranya.
Di awal-awal revolusi, partisipasi penuh rakyat yang aktif dan berkesadaran untuk melawan para penindas, penghisap, penumpuk modal, telah menghasilkan kekuatan dan kemampuan rakyat banyak untuk mengontrol alat-alat produksi dan sumber-sumber ekonomi serta lembaga kekuasaan dari upaya segelintir orang yang ingin memanfaatkan kekuasaan ekonomi dan politik untuk pribadi dan kelompoknya.
Pemimpin Cina yang revolusioner juga menjadi motivator para penyelenggara Negara untuk menjadi “birokrasi” yang melayani rakyat. Seperti pesan Mao Tse-Tung: “Kewajiban kita adalah bertanggung jawab pada rakyat.
Setiap kata, setiap tindakan, dan setiap kebijakan harus sesuai dengan kepentingan rakyat, dan jika terjadi kesalahan, kesalahan tersebut harus diperbaiki—itulah arti tanggungjawab pada rakyat.”
Nila-nilai kolektif komunis dan semangat revolusioner masyarakat yang telah dimulai sejak revolusi rakyat terjadi adalah penjaga moral bagi kemajuan Cina dan kesejahteraan rakyatnya hingga kini. Negara itu memiliki sumber daya manusia yang ditempa dengan doktrin tentang bagaimana manusia harus bergerak melawan kontradiksi dan tiap hambatan.
Tiap orang hidup bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk kolektivitas. Tenaga produksi tiap orang dimaksimalkan, eksploitasi terhadap tiap orang dihilangkan secara sistemik, lalu tiap orang dengan produktivitasnya akan menghasilkan nilai lebih untuk membangun masyarakat.
Makanya, para pemimpin di Cina melihat anak-anak, remaja, pemuda sebagai generasi yang harus diperlakukan sebaik-baiknya. Pendidikan jauh dari upaya mencari keuntungan dan keenakan hidup guru-guru dan birokrasi pendidikan karena nilai lebih kerja rakyat memang bisa digunakan untuk mensejahterakan guru.
Tidak adanya ketimpangan antara guru dan birokrasi membuat tindakan mendidik menjadi pengabdian penuh untuk membentuk generasi produktif dan berkarakter.
Pemuda dianggap sebagai pilar masyarakat yang amat penting. Pesan Mao pada para pemuda pada tahun 1957: “Dunia adalah milikmu, dan juga milik kami, tetapi pada akhirnya, dunia adalah milikmu.
Kalian para pemuda, penuh semangat dan vitalitas, sedang berada di puncak kehidupan, seperti matahari pukul delapan atau Sembilan pagi. Harapan ami bertumpu pada kalian. Masa depan Tiongkok adalah milik kalian.”
Kemunduran Generasi di Indonesia Gelap
Melihat situasi masyarakat Cina, kita bisa membaca keadaan di Negara dan masyarakat kita. Bagaimana pola pikir, kesadaran, dan mentalitas manusia-manusianya.
Bagaimana para pemimpin dan pejabat negaranya. Keadaan generasi bangsa memang terkait dengan situasi umum masyarakat. Keadaan anak-anak kita, remaja dan pemuda kita, tergantung pada orang tuanya dan para pemimpinnya.
Sebuah Negara bernama Indonesia yang elit-elitnya hanya memikirkan kekuasaan dan mereka saling berebut anggaran Negara dan berebut sektor-sektor strategis untuk dirinya sendiri, kelompoknya, dan bahkan keluarganya. Mereka selalu berpikir bagaimana saat ini mengeruk logistik saat mereka duduk di pos-pos Negara dan badan-badan usaha.
Untuk menyiapkan kompetisi Pemilu dan Pilkada lima tahunan. Sedangkan nasib rakyat jauh dari pikiran mereka, meskipun dalam banyak hal dieksploitasi untuk bahan debat politik dan opini publik menggalang citra partai dan tokoh-tokoh politik.
Dan politik ini didominasi oleh kaum tua secara umur, juga tua renta dan jompo secara perspektif politik. Para politisi hanya sibuk berebut mengeruk bumi, menggadaikan bumi ke investor dan pengusaha tambang. Lingkungan dirusak, tidak memikirkan ruang hidup bagi generasi mendatang.
Dilihat dari situ, politik dan praktik bernegara para pejabat Negara dan politisi yang mengangkangi Negara sangat jauh dari karakter ekologis dan sangat tidak berpihak pada kepentingan para pemuda. Dari sisi ini, bagaimana slogan Indonesia Emas 2045 bisa terwujud sementara perspektif ideologis dan kesadaran ke arah itu tidak ada?
Maka yang kita lihat, ruang budaya yang diisi anak-anak muda penuh sesak dengan gambaran budaya tidak produktif, bahkan budaya malas berpikir dan mencipta, budaya meniru dan di era media sosial muncul budaya narsisme. Para remaja perempuan hanya ingin tampil cantik dan berkulit glowing di medsos.
Dalam keseharian, anak-anak yang seharusnya banyak menghabiskan waktu belajar dan bermain yang edukatif justru bingung kalau kulitnya tidak mulus dan rambutnya tidak pirang. Di desa-desa, kita banyak menjumpai anak-anak perempuan yang masih kelas 5 atau 6 SD rambutnya sudah dicat pirang. Anak-anak SMP/MTs isi tasnya di sekolah adalah ‘lipstick’ dan ‘skincare’.
Sedang anak laki-lakinya banyak yang bergabung di perguruan pencak silat. Mereka lebih tertarik untuk membangun solidaritas kelompok berbasis pembangunan kekuatan fisik berupa ilmu bela diri dan ilmu menyerang lawan. Dalam latihan pencak silat, mereka belajar memukul, menendang, menyerang orang—selain bertahan dan bela diri.
Tapi betapa relevan kecakapan ini bagi anak-anak kita dibanding membaca buku, belajar giat, mengembangkan diri lewat pelatihan-pelatihan yang membantu mereka akrab dengan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek).
Dan kisahnya kadang berulang: Dalam kurun waktu tertentu kita mendengar dan melihat kumpulan anak-anak berbeda komunitas perguruan tawuran, berkelahi. Juga ada kisah anak yang terbunuh dan teraniaya dengan luka parah akibat perkelahian bernuansa sentimen perguruan.
Dan tragisnya, perkelahian terjadi secara keroyokan—yang ini mencerminkan bahwa mentalitas generasi kita adalah moralitas “kawanan”, sebuah gambaran bahwa secara alam bawah sadar masyarakat kita jauh dari mental “kemandirian”.
Banyak pengamatan dari para ahli terkait kemunduran kualitas masyarakat kita baik secara ilmu pengetahuan maupun moral. Dr. Ryu Hasan pernah mengatakan bahwa IQ masyarakat Indonesia amat rendah yang bahkan kalau turun sedikit saja sudah mendekati IQ simpanse.
Sedangkan Rocky Gerung mengatakan bahwa: “Lingkungan adalah cermin moral: Semakin keruh ia tampak, semakin dangkal jiwa yang mengelolanya!”
Kita diberikan fakta bahwa budaya merusak lingkungan dengan membabat hutan yang menyebabkan bencana (banjir dan longsor), yang dilakukan oleh—dan melibatkan peran dan kebijakan—para para pemilik modal yang juga para pemimpin dan tokoh-tokoh Negara. Kita melihat lingkungan kita amat kotor.
Masyarakat membuang sampah di sembarang tempat, termasuk sampah plastik dan pembalut wanita di sungai, serta budaya nyampah lainnya. Juga sampah berupa omongan para pemimpin dan tokoh bangsa dan elit masyarakat yang dangkal dan kadang tidak mengenakkan.
Itu semua mencerminkan betapa masyarakat ini amat tidak baik-baik saja. Ini adalah masyarakat di mana keadaan berpikirnya gelap, mentalitasnya jauh dari kemajuan, dan perilakunya juga jauh dari kualitas yang dibutuhkan bagi majunya dan jayanya sebuah bangsa. Indonesia Emas masih jauh panggang dari api. Yang ada adalah Indonesia lemas dan Indonesia cemas!
*) Nurani Soyomukti merupakan penulis dan pegiat literasi tinggal di Trenggalek sekaligus pendiri Indek (Institute Demokrasi dan Keberdesaan)
**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis
***) Ketentuan pengiriman naskah opini:
- Naskah dikirim ke alamat email redaksi@ketik.com
- Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
- Panjang naskah maksimal 800 kata
- Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
- Hak muat redaksi. (*)
