KETIK, YOGYAKARTA – Riuh rendah suara tawar-menawar di Pasar Kejambon, Sindumartani, Ngemplak, pada Senin sore, 23 Februari, terdengar lebih bersemangat dari biasanya.
Puluhan Aparatur Sipil Negara (ASN) dari berbagai Organisasi Perangkat Daerah di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sleman tampak membaur dengan warga, menenteng kantong belanjaan berisi aneka takjil.
Kehadiran mereka bukan sekadar kunjungan kerja biasa, melainkan bagian dari peluncuran program Grebeg Pasar Takjil yang diinisiasi oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sleman sebagai rangkaian dari Gerakan Meramaikan Pasar atau "Gempar".
Sekretaris Daerah Sleman, Susmiarto, yang memimpin langsung rombongan tersebut menegaskan bahwa Grebeg Pasar Takjil adalah manifestasi nyata dari dukungan pemerintah terhadap ekonomi kerakyatan.
Menurutnya, momentum Ramadan harus menjadi jembatan silaturahmi sekaligus pengungkit kesejahteraan bagi warga lokal.
"Kegiatan Grebeg Pasar Takjil ini dilaksanakan guna untuk ‘nglarisi’ pedagang lokal di pasar saat Ramadhan. Kami berharap rezeki bapak ibu lancar dan berkah," ujar Susmiarto di sela-sela kegiatannya menyapa pedagang.
Ia juga berpesan agar seluruh elemen masyarakat bersama-sama menjaga pasar agar ekosistem ekonomi lokal tetap berdenyut kencang.
Kepala Dinas Perindag Sleman, Mae Rusmi, menjelaskan bahwa Grebeg Pasar Takjil ini direncanakan secara maraton di lima pasar tradisional strategis.
Setelah dimulai di Pasar Kejambon yang melibatkan 55 pedagang, agenda serupa akan berlanjut ke Pasar Potrojayan dengan 23 pedagang, serta puncaknya di Pasar Sleman Unit II, Pasar Cebongan, dan Pasar Godean pada 6 Maret mendatang.
Mae menekankan bahwa esensi program ini melampaui sekadar transaksi jual-beli.
"Grebeg Pasar Takjil dimaksudkan untuk pemberdayaan UMKM yang dimana bagaimana kita meningkatkan UMKM pendapatan di bulan Ramadhan dan penataan pedagang agar lingkungan lebih bersih, rapi dan nyaman bagi pengunjung serta menggiatkan ekonomi lokal," tuturnya.
Selain berbelanja langsung untuk Selain berbelanja langsung untuk "nglarisi" pedagang, Pemkab Sleman juga menyalurkan stimulus berupa voucher belanja dan bantuan sembako bagi masyarakat. (Foto: Prokopim Sleman for Ketik.com)
Intervensi ekonomi dalam kegiatan ini diperkuat dengan skema stimulus yang menarik di Pasar Kejambon. Selain belanja mandiri oleh para ASN, terdapat penyaluran voucher belanja takjil senilai total Rp3,4 juta hasil kolaborasi dengan BMT MUU Sejahtera.
Voucher dengan pecahan lima ribu dan sepuluh ribu rupiah tersebut dibagikan agar langsung dibelanjakan di lapak-lapak pedagang, sehingga menciptakan daya beli instan di lokasi acara.
Langkah ini menjadi cara kreatif pemerintah dalam memberikan suntikan modal bagi pedagang kecil tanpa prosedur yang rumit, sekaligus memastikan 55 pedagang takjil di lokasi tersebut merasakan dampak ekonomi langsung.
Sisi kemanusiaan juga tidak luput dari perhatian dalam setiap titik Grebeg Pasar Takjil. Sinergi antara pemerintah, BUMD, BPD, hingga Baznas Sleman diwujudkan melalui penyerahan bantuan sosial berupa 30 bingkisan sembako Ramadan di tiap lokasi pasar.
Khusus di Pasar Kejambon, dukungan sosial dipertebal dengan tambahan 20 paket bingkisan dari BMT MUU Sejahtera.
Melalui kolaborasi lintas sektor ini, Pemkab Sleman berupaya memastikan bahwa kebahagiaan Ramadan tidak hanya dirasakan lewat omzet yang meningkat, tetapi juga melalui jaring pengaman sosial bagi warga prasejahtera di sekitar pasar. (*)
