KETIK, JEMBER – Gelombang unjuk rasa mengecam kekerasan oleh Polri terus terjadi. Setelah sehari sebelumnya didemo pengemudi ojek online (ojol), Mapolres Jember kini menjadi sasaran demo ratusan mahasiswa, pelajar dan masyarakat pada Sabtu, 30 Agustus 2025. Sekitar 800 demonstran yang tergabung dalam Aliansi Amarah Masyarakat Jember (AMJ) ini menggelar tuntutan yang kurang lebih sama dengan para ojol.
Massa AMJ menggelar aksi jalan kaki (long march) dari Double Way Universitas Jember menuju Gedung DPRD Jember. Mereka kemudian melanjutkan aksi jalan kaki sembari berorasi dengan membawa poster ke Mapolres Jember.
Aksi itu salah satunya dipicu oleh tragedi meninggalnya Affan Kurniawan (21), seorang pengemudi ojek online yang terlindas kendaraan taktis Brimob di Jakarta Pusat, Kamis malam, 28 Agustus 2025 lalu.
"Peristiwa itu sebagai bukti nyata bahwa wajah represif Polri masih bertahan di tengah klaim mereka telah berbenah," ujar salah satu orator aksi.
Begitu tiba di depan Mapolres Jember, massa membentangkan lima tuntutan dibacakan secara lantang oleh koordinator aksi. Tuntutan tersebut yakni
1. Bebaskan peserta aksi yang ditahan polisi
2. Adili dengan tegas Brimob yang membunuh Affan Kurniawan, tidak hanya pelaksana di lapangan tetapi juga pemberi perintah
3. Polri harus direformasi
4. Copot Kapolri Jenderal (Pol) Listyo Sigit Prabowo karena gagal menjalankan reformasi Polri
5. Cabut kebijakan Presiden dan DPR yang tidak berpihak pada rakyat
Dari atas mobil komando, Kapolres Jember, AKBP Bobby Adimas Candra Putra, ikut menemui massa. Perwira menengah ini berbicara kepada massa dengan pengeras suara dengan didampingi korlap aksi.
Bobby menyatakan bisa memenuhi tuntutan massa untuk menandatangani tuntutan tersebut sebagai bentuk dukungan. Namun, ia menolak poin keempat.
"Pencopotan Kapolri bukan kewenangan saya. Saya bersedia tanda tangan ini jika poin nomor 4 dihapus. Kami hormat pada pimpinan kami," tutur mantan Kapolres Lamongan ini.
Sontak, pernyataan Bobby ini memicu kekecewaan demonstran. Bahkan, lemparan botol air mineral beberapa kali diarahkan kepadanya, namun kemudian ditenangkan oleh korlap aksi.
Korlap aksi, Abdul Aziz Al-Fazri, menyebut Kapolres Jember tidak berani untuk berpihak pada rakyat. Menurutnya, sejak Listyo Sigit menjabat Kapolri, kasus represivitas dan kekerasan aparat justru meningkat.
“Kapolri tidak bisa lagi hanya menangis atau meminta maaf. Ia harus mundur atau dicopot. Sayangnya, Kapolres lebih takut kehilangan jabatan daripada menandatangani tuntutan rakyat,” ujar Aziz lantang.
Sore hari, tepat pukul 16.48 WIB, barisan mahasiswa mulai terpecah. Sebagian mengikuti seruan Aziz untuk menghentikan aksi. Namun, sekitar 200 mahasiswa memilih bertahan di depan Mapolres Jember.
Bagi mereka, tanda tangan Kapolres tidak sah karena mencoret poin pencopotan Kapolri. Kelompok yang bertahan itu menegaskan komitmen mereka: semua tuntutan harus dipenuhi tanpa terkecuali.
Bagi massa aksi, jawaban itu hanya memperlihatkan dilema lama Polri: di satu sisi mengaku reformis, di sisi lain mempertahankan wajah represif. Tragedi Affan Kurniawan, yang tewas di bawah rantis Brimob, menjadi simbol kegagalan institusi ini untuk benar-benar berubah.
Aksi AMJ pun berakhir dengan rasa kecewa sekaligus tekad. Mahasiswa yang bubar menganggapnya kemenangan moral, sedangkan yang bertahan berjanji akan kembali dengan kekuatan yang lebih besar. (*)