Disperindag Lebak Tegaskan Ada 10 Pengecer Minyak Goreng di Pasar Rangkasbitung

13 Februari 2026 19:59 13 Feb 2026 19:59

Thumbnail Disperindag Lebak Tegaskan Ada 10 Pengecer Minyak Goreng di Pasar Rangkasbitung

Kabid Perdagangan Disperindag kabupaten Lebak, Yani. (Foto: Abdul Kohar/ketik.com)

KETIK, LEBAK – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Lebak menegaskan jumlah pengecer minyak goreng yang terdaftar dan menerima distribusi di Pasar Rangkasbitung mencapai 10 pengecer, bukan tiga seperti yang disebutkan dalam pemberitaan sebelumnya.

Kepala Bidang Perdagangan Disperindag Lebak, Yani, mengatakan pihaknya merasa perlu meluruskan informasi tersebut karena berpotensi menimbulkan persepsi kelangkaan di tengah masyarakat.

“Di Pasar Rangkasbitung itu ada 10 pengecer yang menerima distribusi. Data itu sesuai dengan yang kami pantau di lapangan,” ujar Yani ketika memberikan keterangan kepada Ketik.com di ruang kerjanya, Jumat 13 Februari 2026.

Ia menjelaskan, pemantauan harga dan distribusi bahan pokok dilakukan melalui Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP), aplikasi berbasis web yang dikembangkan oleh Kementerian Perdagangan Republik Indonesia. 

"Sistem tersebut digunakan untuk memantau harga dan ketersediaan bahan pokok secara harian dan real-time sebagai bagian dari upaya pengendalian inflasi dan stabilisasi harga," jelasnya 

Menurut Yani, penggunaan istilah “langka” harus disampaikan secara hati-hati. Pasalnya, penyebutan kelangkaan dapat berdampak langsung pada psikologis pasar dan memicu kenaikan harga.

“Kalau disebut langka, efeknya bisa ke mana-mana. Masyarakat bisa panik, harga bisa naik. Padahal setelah kami cek langsung ke lapangan, stok aman dan distribusi berjalan lancar,” katanya.

Yani memaparkan, setiap pengecer di Pasar Rangkasbitung mendapatkan kuota distribusi sekitar 50 dus minyak goreng per minggu atau setara kurang lebih 600 liter. Dengan total 10 pengecer, maka volume distribusi mencapai sekitar 6.000 liter per minggu.

Distribusi tersebut merupakan bagian dari penugasan pemerintah kepada Perum Bulog untuk menyalurkan sebagian kebutuhan minyak goreng ke pasar rakyat. 

Bulog, kata Yani, saat ini mendapat mandat untuk mendistribusikan sekitar 30 persen dari total pasokan guna menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen.

“Bulog rutin berkoordinasi dengan kami, hampir dua hari sekali. Tujuannya memastikan pasokan lancar dan harga tetap terkendali, terutama di pasar yang menjadi pantauan SP2KP,” jelasnya.

Ia menambahkan, sebelum isu kelangkaan mencuat, pihaknya bahkan telah menerima dorongan untuk mempercepat distribusi agar harga tidak mengalami kenaikan.

Terkait informasi kelangkaan yang sempat beredar hingga menjadi perhatian pihak provinsi, Yani mengaku telah melakukan pengecekan langsung bersama petugas di lapangan. Hasilnya, para pengecer menyatakan stok tersedia dan harga relatif stabil.

“Kami tanya langsung ke pengecer dan cek kondisi pasar. Tidak ada kelangkaan. Distribusi seminggu berjalan sesuai kuota,” ujarnya.

Yani juga menjelaskan bahwa rantai distribusi minyak goreng telah diatur berjenjang mulai dari produsen, distributor tingkat satu (D1), distributor tingkat dua (D2), hingga pengecer. 

"Setiap mata rantai memiliki batas harga masing-masing dan tidak diperkenankan melompati jalur distribusi agar struktur harga tetap terjaga,"jelasnya 

Menurutnya, pengawasan distribusi dan harga terus dilakukan untuk memastikan kebutuhan masyarakat terpenuhi serta mencegah spekulasi pasar.

“Kalau memang ada kendala di lapangan, tentu akan kami komunikasikan dengan Bulog dan pihak terkait. Tapi berdasarkan pengecekan terakhir, kondisinya aman dan terkendali,” pungkasnya. (*)

Tombol Google News

Tags:

Berita Tanggapan Minyak Goreng Langka Disperindag Lebak Yani Pasar Rangkasbitung ketik.com Kabupaten Lebak