KETIK, BONDOWOSO – Pemerintah Kabupaten Bondowoso memilih jalur pendidikan sebagai garda depan pelestarian budaya lokal. Melalui Dinas Pendidikan, upaya membangkitkan kembali Tari Remo Sutinah—tarian khas Bondowoso yang nyaris tenggelam oleh zaman—kini digerakkan secara sistematis lewat sekolah-sekolah.
Tari Remo Sutinah merupakan karya almarhum Sutinah, seniman daerah yang dikenal tajam membaca denyut sosial masyarakat Bondowoso. Berakar dari Tari Remo, tarian ini berkembang dengan karakter kuat yang merefleksikan perjuangan hidup, keteguhan sikap, serta dinamika sosial masyarakat Bondowoso pada masanya.
Kepala Dinas Pendidikan Bondowoso, Taufan Restuanto, menegaskan bahwa Tari Remo Sutinah bukan sekadar seni pertunjukan, melainkan identitas kultural yang membedakan Bondowoso dari daerah lain.
“Setiap daerah punya Remo, tapi Bondowoso punya Remo Sutinah. Di situlah letak keunikannya. Karena penciptanya sudah wafat, tanggung jawab pelestariannya ada pada kita semua,” ujar Taufan, Kamis (15/1/2026).
Ia menjelaskan, tarian tersebut lahir dari perenungan batin dan pengamatan sosial Sutinah sebagai seniman pancet. Nilai-nilai kehidupan yang ia tangkap kemudian diterjemahkan ke dalam gerak, irama, dan ekspresi yang sarat makna filosofis.
Sebagai langkah nyata, Dinas Pendidikan menggandeng MGMP Seni Budaya SMP untuk memasukkan Tari Remo Sutinah ke dalam proses pembelajaran. Sejak Desember 2025, tarian ini mulai diajarkan di sekolah-sekolah dan diperkuat dengan workshop khusus bagi siswa SMP se-Bondowoso.
Setiap sekolah mengirimkan lima siswa bersama guru seni budaya untuk mempelajari langsung teknik gerak sekaligus nilai filosofis di balik tarian tersebut. Hasil dari proses ini direncanakan akan ditampilkan secara kolosal dalam peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026.
“Budaya tidak cukup diajarkan lewat buku. Ia harus dialami. Ketika anak-anak menari, mereka sedang membangun ikatan emosional dengan identitasnya sendiri,” tegas Taufan.
Melalui integrasi pendidikan dan ruang ekspresi publik, Dinas Pendidikan Bondowoso berharap Tari Remo Sutinah tidak hanya bertahan, tetapi kembali berdenyut sebagai warisan budaya yang hidup dan terus diwariskan dari generasi ke generasi. (*)
