KETIK, SURABAYA – Kementerian Haji dan Umrah, berencana untuk membagi keberangkatan haji ke Bandara Doho Kediri. Hal ini disampaikan langsung oleh Menteri Haji dan Umroh Mochamad Irfan Yusuf.
Hal ini dikarenakan Embarkasi Surabaya yang selama ini melayani pemberangkatan Jemaah Calon Haji (JCH) dianggap sudah terlalu besar. Pernyataannya ini ia sampaikan Menteri Haju dan Umroh saat kunjungan di Asrama Haji Surabaya beberapa minggu lalu.
"Bandara Kediri kami pilih sebagai alternatif embarkasi karena secara teknis sudah siap dan posisinya strategis untuk melayani jemaah dari wilayah Jawa Timur bagian selatan," kata Mochamad Irfan Yusuf.
Kendati demikian, rencana pemberangkatan JCH dari Bandara Doho Kediri belum bisa dilakukan pada musim haji 2026. Melainkan pada haji 2027 mendatang.
Alasannya, karena keterbatasan waktu dan kesiapan administrasi. Walaupun secara infrastruktur fisik telah tersedia di Bandara Doho Kediri. Selain itu pemerintah pada tahap awal belum merencanakan pembangunan kawasan asrama haji di sana.
"Kami harapkan keberangkatan (JCH) melalui bandara baru ini bisa memberikan pengalaman yang lebih nyaman bagi jemaah haji Jawa Timur," tegasnya.
Dengan nanti dibukanya Embarkasi Kediri, JCH tidak perlu jauh-jauh lagi ke Surabaya, terutama daerah di selatan Jawa Timur, seperti Kediri, Tulungagung, Blitar, dan sekitarnya.
Plt. Kanwil Kemenhaj Provinsi Jatim, Mohammad As'adul Anam mengungkapkan pada haji 2026, pihaknya bakal memberangkatkan 42.409 orang. Jumlah tersebut, termasuk JCH dari Provinsi Bali dan Nusa Tenggara Timur (NTT), yang termasuk dalam
embarkasi Surabaya, mendapat tambahan kuota masing-masing 698 dan 516 orang. Total kuota untuk ketiga provinsi mencapai 43.200 orang. (*)
