KETIK, JAKARTA – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bahwa keputusan Amerika Serikat untuk batal melancarkan serangan militer terhadap Iran pada pertengahan Januari 2026 ini didasarkan kabar bahwa pemerintah Iran membatalkan rencana eksekusi massal terhadap para pengunjuk rasa.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump kepada wartawan pada 16 Januari 2026, di tengah spekulasi luas bahwa Amerika Serikat hampir saja melancarkan serangan terhadap Iran sebagai respons atas penindakan keras terhadap demonstrasi anti-pemerintah yang telah mengguncang negara itu sejak akhir Desember.
Trump menegaskan bahwa keputusan tersebut bukan hasil tekanan dari sekutu atau negara-negara Arab, melainkan keputusan pribadi yang ia ambil setelah menerima informasi terbaru dari Iran.
“Tidak ada yang meyakinkan saya. Tetapi saya yang meyakinkan diri saya sendiri,” kata Trump menjawab pertanyaan wartawan, seperti dikutip dari Times of Israel, Sabtu, 17 Januari 2026.
Trump mengklaim bahwa pemerintah Iran sebelumnya telah menjadwalkan lebih dari 800 eksekusi terhadap para demonstran, namun rencana tersebut tidak jadi dilaksanakan.
“Kamu kemarin sudah menjadwalkan lebih dari 800 gantungan,” ujar Trump.
“Mereka tidak menggantung siapa pun. Mereka membatalkan gantungan itu. Itu memiliki dampak besar,” sambung pria 79 tahun itu.
Dalam pernyataan terpisah di media sosial, Trump menyampaikan apresiasi kepada kepemimpinan Iran atas langkah tersebut.
“Saya sangat menghargai fakta bahwa semua gantungan yang dijadwalkan, yang akan terjadi kemarin — lebih dari 800 — telah dibatalkan oleh kepemimpinan Iran. Terima kasih!” tulis Trump.
Sejauh ini, belum ada konfirmasi independen yang dapat memverifikasi klaim Donald Trump tentang rencana eksekusi massal tersebut, maupun pembatalannya. Pemerintah Iran tidak secara resmi mengumumkan adanya jadwal eksekusi terhadap ratusan demonstran, dan organisasi pemantau hak asasi manusia belum merilis data yang mendukung angka tersebut.
Meski demikian, pernyataan Trump mengisyaratkan bahwa Amerika Serikat berada sangat dekat dengan keputusan untuk menyerang Iran. Ketegangan meningkat tajam setelah laporan mengenai penindakan keras aparat Iran terhadap gelombang protes nasional yang dipicu oleh krisis ekonomi dan tuntutan perubahan politik.
Sejak akhir Desember, demonstrasi di berbagai kota Iran dilaporkan telah menewaskan ribuan orang menurut kelompok hak asasi, meski angka pastinya sulit diverifikasi akibat pembatasan informasi dan pemadaman internet.
Trump dikabarkan memutuskan untuk menahan diri dari opsi militer.
Trump disebut masih berdiskusi dengan Israel dan sejumlah elite di AS terkait rencana serangan terhadap Iran. Media Israel melaporkan bahwa skenario serangan belum sepenuhnya dikesampingkan dan akan bergantung pada perkembangan situasi di Iran.
Dalam konteks ini, Trump dilaporkan telah melakukan dua kali percakapan telepon dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam dua hari, menunjukkan koordinasi tingkat tinggi antara Washington dan Tel Aviv. Baik Gedung Putih maupun kantor Netanyahu menolak memberikan komentar rinci mengenai isi pembicaraan tersebut.
Di sisi lain, Iran telah berulang kali memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap wilayahnya akan dibalas. Pemerintah Teheran menyatakan bahwa baik Amerika Serikat maupun Israel akan dianggap sebagai target sah jika konflik bersenjata pecah.
Tekanan diplomatik dari negara-negara kawasan juga menjadi bagian dari lanskap pengambilan keputusan. Sejumlah pemimpin Timur Tengah menyuarakan kekhawatiran bahwa serangan AS dapat memicu konflik regional yang lebih luas dan tidak terkendali.
Hingga pertengahan Januari 2026, keputusan Trump untuk menahan serangan menandai jeda sementara dalam eskalasi, namun ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran tetap tinggi. Pernyataan Trump bahwa pembatalan eksekusi memiliki dampak besar menunjukkan bahwa faktor kemanusiaan, setidaknya menurut versi Washington, turut mempengaruhi kalkulasi strategis yang hampir membawa kawasan menuju konflik terbuka. (*)
