KETIK, BANGKALAN – Wacana pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 di Demangan Bangkalan, kembali mencuat dan mendapat dukungan luas dari para ulama se-Madura Raya.
Usulan ini dinilai bukan sekadar romantisme sejarah, melainkan dorongan strategis agar NU kembali menegaskan identitas fundamentalnya menjelang memasuki abad kedua.
Demangan selama ini dikenal sebagai titik historis kelahiran NU, tempat embrio organisasi Islam terbesar di Indonesia dirintis oleh K.H. Hasyim Asy’ari dan K.H. Wahab Hasbullah.
Di kawasan inilah gagasan besar tentang organisasi ulama moderat bermula, dan dari sinilah tradisi keilmuan serta nilai kebangsaan dipupuk sejak awal.
Juru Bicara Ulama NU Madura Raya, Bindereh Ahrori Dofir, menegaskan bahwa momentum memasuki abad baru menjadikan wacana tersebut semakin relevan.
Menurutnya, mengembalikan Muktamar ke titik kelahiran akan menjadi penanda penting bahwa NU tetap berpijak pada fondasi historisnya.
“Demangan bukan sekadar nama tempat. Ini sumber sejarah, tempat gagasan besar NU tumbuh. Menggelar Muktamar di sini adalah bentuk penghormatan pada akar perjuangan para masyayikh,” ujarnya, Senin 6 April 2026
Ia menambahkan, Demangan memiliki makna simbolis yang melekat pada jati diri NU. Di tempat itu, tradisi pesantren, kearifan lokal, dan komitmen kebangsaan mulai dirawat oleh para pendiri.
Karena itu, kembali ke Demangan dipandang sebagai upaya meneguhkan kembali ruh organisasi.
“Kita ingin NU kembali menatap akarnya. Sejauh apa pun organisasi berkembang, fondasinya tetap dari tradisi ulama dan kesederhanaan para pendiri. Demangan adalah pengingat itu semua,” tambahnya.
Memasuki abad kedua, NU dihadapkan pada kebutuhan refleksi besar atas capaian seratus tahun pertama serta tantangan yang menanti. Ahrori menilai, memulai perjalanan baru dari titik kelahiran akan memberi energi segar bagi organisasi.
“Ini seperti kembali ke ‘titik nol’. Dari sini NU bisa merumuskan arah langkah yang lebih adaptif dan visioner,” tegasnya.
Dalam wacana ini, dua simbol penting NU kembali mencuat: Tongkat dan Tasbih. Tongkat merepresentasikan arah dan ketegasan kepemimpinan, sementara tasbih melambangkan spiritualitas dan ketenangan batin.
Keduanya, menurut para ulama, pertama kali hidup sebagai simbol kepemimpinan ulama di Demangan.
“Tongkat itu arah, tasbih itu jiwa. Mengembalikan Muktamar ke Demangan berarti menyegarkan kembali ruh kepemimpinan NU,” jelas Ahrori.
Ia berharap PBNU memberikan dukungan penuh agar momentum historis ini dapat terwujud. Dan Demangan Bangkalan siap menjadi tuan rumah Muktamar NU 35.
Menurutnya, jika terlaksana, Muktamar NU ke-35 berpotensi menjadi salah satu yang paling bersejarah, bukan karena kemegahan acara, tetapi karena keberanian organisasi untuk kembali ke akar kelahirannya.
“NU lahir dari ruang sederhana, bukan panggung megah. Dari kesederhanaan itu muncul kekuatan besar. Muktamar di Demangan akan mengingatkan kita pada nilai itu,” ucapnya.
Sebagai tempat yang menjadi saksi awal perjalanan para pendiri, Demangan dinilai sangat layak menjadi titik awal NU menata arah menuju abad kedua, dengan tongkat sebagai pedoman langkah, dan tasbih sebagai penuntun jiwa. (*)
