KETIK, YOGYAKARTA – Prosesi pisah sambut Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM) yang berlangsung di Moral Integrity Room, RM Pring Sewu, Jalan Magelang, pada Selasa siang, 13 Januari 2026, bukan sekadar seremoni perpindahan jabatan biasa.
Di balik jabat tangan dan ucapan selamat, tersirat narasi ketegasan Muhammad Wahyudi yang kini resmi meninggalkan posisinya untuk mengemban tugas baru sebagai Kepala BKSDA Sulawesi Tenggara.
Kepergian Muhammad Wahyudi dari Yogyakarta diiringi kabar mengenai sikap tak komprominya dalam memerangi praktik penambangan ilegal di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM).
Selama menjabat, ia dikenal sebagai sosok yang gencar menutup ruang gerak para penambang liar yang mencoba merambah zona inti dan zona rehabilitasi Merapi.
Dalam beberapa kesempatan sebelumnya, Wahyudi kerap menegaskan bahwa kawasan ini merupakan benteng terakhir habitat satwa dilindungi sekaligus sumber air krusial bagi masyarakat Jawa Tengah dan DIY.
Atas dasar itulah, ia berkali-kali mengingatkan bahwa tidak ada izin, dan tidak diperbolehkan adanya aktivitas penambangan pasir di dalam kawasan konservasi tersebut.
Sikap tegas ini pun banyak dikaitkan dengan langkah besar Kementerian Kehutanan (Kemenhut) dan Direktorat Tindak Pidana Tertentu (Dittipidter) Bareskrim Polri yang beberapa waktu lalu menindak aktivitas tambang pasir ilegal di 36 titik di kawasan TN Gunung Merapi.
"Monggo teman-teman yang mau mengangkat berita tambang ilegal Merapi. Silahkan, jangan takut tekanan. Sampai saat ini Bareskrim dan BTNGM masih ada di lapangan untuk mengawasi aktifitas yang dihentikan saat operasi oleh Bareskrim," begitu bunyi pesan M Wahyudi di WA Grup Sahabat BTNGM, Minggu, 11 Januari 2026.
Keteguhan prinsip inilah yang disebut-sebut membuat posisinya kerap bersinggungan dengan kepentingan besar di lapangan.
Hingga memicu spekulasi bahwa mutasinya ke Sulawesi Tenggara berkaitan erat dengan upaya "pembersihan" kawasan TNGM dari aktivitas pengerukan (tambang) pasir ilegal yang ia lakukan sebelumnya.
Warisan Melawan Tambang Ilegal
Dalam sambutan perpisahannya di hadapan sekitar 200 tamu undangan, Muhammad Wahyudi tidak secara eksplisit menyinggung gesekan tersebut. Namun ia memberikan pesan kuat mengenai keberlanjutan perlindungan hutan.
"Semoga ke depan Merapi lebih baik lagi di bawah kepemimpinan Pak Tutut Heri Wibowo. Saya berharap beliau dapat menorehkan jejak yang tak terhapuskan, mulai dari upaya konservasi hutan hingga penanggulangan illegal logging," ujar Wahyudi dalam acara pisah sambut tersebut.
Ia berharap penggantinya, Tutut Heri Wibowo, mampu menorehkan jejak yang tak terhapuskan dalam upaya konservasi, terutama dalam menanggulangi pembalakan liar atau illegal logging yang masih membayangi Gunung Merapi.
Menurutnya, dedikasi dalam menjaga ekosistem adalah cahaya yang akan terus ia bawa ke tempat tugasnya yang baru di Kendari.
M Wahyudi menekankan bahwa selama masa tugasnya, pengembangan ekowisata yang berbasis masyarakat telah menjadi prioritas agar warga sekitar mendapatkan manfaat ekonomi tanpa harus merusak alam.
"Prioritas kita adalah bagaimana masyarakat sekitar mendapatkan manfaat ekonomi melalui ekowisata, namun tetap dengan komitmen menjaga kelestarian alam Merapi," tegasnya.
Ia pun memohon doa restu serta berharap Balai Taman Nasional Gunung Merapi tetap teguh menjalankan amanahnya dengam baik meskipun nakhoda telah berganti.
Di saat yang sama, Pairah yang sebelumnya menjabat Kepala Sub Bagian Tata Usaha BTNGM juga berpamitan untuk memulai tugas baru di SKW II Bantul, BKSDA Yogyakarta.
Suasana ruang pertemuan RM Pring Sewu yang dipadati sekitar 200 tamu undangan saat menghadiri prosesi pisah sambut pejabat administrator dan pejabat pengawas lingkup Balai TN Gunung Merapi. Kehadiran berbagai elemen mulai dari TNI, Polri, pemerintah daerah, hingga relawan menunjukkan besarnya atensi publik terhadap pergantian nakhoda Balai TNGM. (Foto: Lik Is for Ketik.com)
Dilema Komoditas Pasir Merapi
Tongkat estafet kepemimpinan kini berada di tangan Tutut Heri Wibowo, putra daerah asal Sleman yang kembali ke D I Yogyakarta setelah lama bertugas di Papua. Tutut menyadari sepenuhnya bahwa ia mewarisi wilayah dengan kompleksitas tinggi.
Merapi di matanya bukan sekadar gunung, melainkan pusaran kepentingan ekonomi dan ancaman bencana. Ia menyoroti kualitas pasir Merapi yang merupakan komoditas terbaik, namun di sisi lain menjadi akar dari berbagai masalah dan konflik yang selama ini terjadi.
Dalam sambutannya, Tutut menyampaikan bahwa kepulangannya ke tanah kelahiran adalah mandat untuk menjaga integritas Merapi dengan niat yang tulus.
"Mudah-mudahan dengan niat yang tulus, kebetulan perhatian dari pimpinan di Jakarta dikembalikan ke daerah asal untuk mengemban tugas sebagai Kepala Balai TNGM," ujarnya.
Ia menyadari bahwa keberadaan pasir Merapi yang tersohor hingga ke mancanegara memiliki dampak ganda bagi kawasan.
"Pasir yang ada di Merapi menjadi komoditas sampai saat ini memiliki kualitas terbaik, sehingga kemarin banyak problem dan masalah. Nanti kita lihat ke depan seperti apa, kita akan lakukan kajian," tegas Tutut.
Tutut berjanji akan melakukan kajian mendalam terkait dinamika di Merapi. Termasuk urusan penambangan dan potensi bencana yang tak bisa dilepaskan dari kerja sama dengan BNPB.
Ia menyebut akan menjahit kembali kekuatan sumber daya manusia di internal Balai TN Gunung Merapi agar mampu menghadapi tekanan eksternal. Serta meningkatkan pendapatan negara melalui sektor pariwisata yang lebih modern. Namun tetap terjaga secara ekologis.
"Saya mohon izin untuk bergabung di DIY dan Balai TN Gunung Merapi untuk bersama-sama menjahit SDM yang ada di sini," tambahnya.
Ujian Sinergi Lintas Sektoral
Pergantian kepemimpinan ini disaksikan oleh jajaran pejabat penting dan mitra strategis. Selain Muhammad Wahyudi dan Tutut Heri Wibowo, hadir pula Endarmiyati yang mengemban amanah baru sebagai Kepala Sub Bagian Tata Usaha (KSBTU) BTNGM, serta Anggit Haryoso selaku Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merbabu.
Dari jajaran internal dan tokoh undangan, tampak hadir Pairah selaku Kepala Sub Bagian Tata Usaha, Kelik Susilo Ardani, Bambang Dardmaja Ms, Sutris Haryanto, serta Akhmadi. Dukungan sektor perbankan diwakili oleh Akhmad Amri dari BRI Cabang Sleman.
Barisan penjaga wilayah juga tampak solid dengan hadirnya para perwira lapangan, antara lain Danramil Turi Kapten Czi Supriyanto, Danramil Pakem Kapten Arm Wahyu, Danramil Dukun Kapten Cpl Nurochim, serta Danramil Srumbung Kapten Caj Budi Krismanto.
Dari jajaran kepolisian, hadir Kapolsek Pakem Kompol Samiyono, Kapolsek Cangkringan AKP Suwanto, dan Kapolsek Turi AKP Adhi Irawan. Unsur kewilayahan dan relawan juga turut memperkuat barisan, di antaranya Lurah Girikerto Hari Sudibya, Kordinator Satlinmas Rescue Wilayah VII Kaliurang, serta perwakilan dari Basarnas DIY.
Pertemuan ini seakan menjadi titik tolak bagi BTNGM untuk membuktikan apakah ketegasan yang ditinggalkan oleh Muhammad Wahyudi dalam menjaga Merapi dari eksploitasi ilegal akan terus berlanjut atau justru melunak di tengah tekanan kepentingan politik dan ekonomi. (*)
