KETIK, MALANG – Kegiatan soft opening Amtara Institute dikemas melalui talkshow dan buka bersama bertema “Aktivisme di Era AI: Mempertahankan Perjuangan Mahasiswa di Tengah Kuasa Algoritma” yang digelar di Kampung Mahasiswa Dau, Kabupaten Malang, Minggu, 8 Maret 2026.
Sejumlah aktivis dari berbagai organisasi seperti PMII, HMI, GMNI, IMM, hingga perwakilan BEM Malang Raya turut hadir dalam forum diskusi tersebut.
Kegiatan ini menjadi ruang refleksi sekaligus dialog kritis mengenai tantangan gerakan sosial mahasiswa di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Moh. Ainul Yaqin selaku Project Leader menjelaskan bahwa kehadiran Amtara Institute diharapkan menjadi ruang kolaborasi lintas sektor yang mempertemukan gagasan sosial, pendidikan, politik, budaya, serta teknologi AI dalam satu ekosistem diskusi dan pengembangan kapasitas generasi muda.
“Amtara Institute merupakan komunitas yang bergerak dalam pengembangan isu sosial, pendidikan, politik, budaya, serta teknologi AI. Lembaga ini hadir sebagai ruang belajar bersama, diskusi kritis, dan kolaborasi bagi para aktivis serta generasi muda agar mampu merespons perkembangan zaman secara lebih adaptif dan berintegritas,” ujar Yaqin.
Ia menjelaskan bahwa perkembangan AI telah mengubah cara produksi dan distribusi pengetahuan di masyarakat. Jika sebelumnya gerakan sosial lebih banyak berlangsung di ruang fisik dan lapangan, kini ruang digital menjadi arena baru yang turut mempengaruhi pembentukan opini publik.
"AI telah menggeser cara produksi dan distribusi pengetahuan. Ruang gerakan sosial kini tidak hanya berada di lapangan, tetapi juga di ruang digital yang dikendalikan oleh algoritma. Narasi dapat diperkuat oleh data, tapi juga berpotensi dimanipulasi oleh sistem teknologi,” jelasnya.
Menurutnya, dalam konteks tersebut para aktivis menghadapi tantangan baru, yakni bagaimana tetap menjaga kebenaran, integritas, serta nilai perjuangan di tengah arus informasi yang bergerak sangat cepat.
“Karena itu diperlukan ruang diskusi yang mampu membahas teknologi secara kritis sekaligus memperkuat kapasitas aktivis agar tetap adaptif tanpa kehilangan arah perjuangan,” tambahnya.
Diskusi menghadirkan dua narasumber dari perspektif yang berbeda.
Narasumber pertama, Akhmad Farroh Hasan, M.Si., menyampaikan perspektif aktivisme dengan menekankan pentingnya menjaga idealisme serta kebenaran di tengah dominasi algoritma yang mempengaruhi arus informasi di ruang digital.
Sementara itu, narasumber kedua, Muchammad Rudi Kurniawan dari kalangan pegiat teknologi AI, mengangkat tema AI sebagai Instrumen: Peluang dan Strategi untuk Gerakan Sosial.
Dalam pemaparannya dijelaskan bahwa teknologi AI tidak hanya menjadi tantangan, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai instrumen strategis untuk memperkuat gerakan sosial dan memperluas jangkauan advokasi.
Acara diskusi tersebut dipandu oleh Jennie Karmila Santi, Finalis Duta Pemudi Kebudayaan Nasional 2025, yang memoderatori jalannya diskusi secara interaktif antara pemateri dan peserta.
Dalam forum tersebut juga disoroti pentingnya literasi digital bagi para aktivis di era teknologi.
AI dinilai memiliki potensi besar dalam membentuk, memperkuat, bahkan memanipulasi opini publik sehingga para aktivis perlu memiliki kemampuan adaptasi teknologi yang memadai.
Karena itu, literasi digital serta kesadaran etis menjadi aspek penting dalam gerakan sosial kontemporer agar aktivisme tetap berpijak pada nilai kebenaran.
Melalui kegiatan ini, Amtara Institute berharap dapat mendorong lahirnya generasi aktivis yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, namun tetap teguh pada nilai integritas serta nilai perjuangan.
“Teknologi bukanlah ancaman bagi aktivis, melainkan instrumen yang harus dikuasai. Aktivis yang kuat adalah mereka yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman, tetapi tetap berpijak pada kebenaran dan nurani dalam setiap langkah perjuangannya,” pungkas Yaqin.(*)
