SPPG Banjarbillah Sampang Diduga Abaikan SOP MBG, Distribusi Gunakan Bungkus Kertas Picu Kekhawatiran

5 April 2026 20:03 5 Apr 2026 20:03

Thumbnail SPPG Banjarbillah Sampang Diduga Abaikan SOP MBG, Distribusi Gunakan Bungkus Kertas Picu Kekhawatiran

Menu MBG untuk B3 diwadahi kertas diduga dari SPPG Banjarbillah Tambelangan Sampang (Foto: Mat Jusi/Ketik.com)

KETIK, SAMPANG – Pendistribusian program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Somber, Kecamatan Tambelangan, Kabupaten Sampang, Madura, menuai sorotan publik.

Penyaluran makanan kepada penerima manfaat diduga tidak sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) Badan Gizi Nasional (BGN), karena menggunakan bungkus kertas, alih-alih wadah food tray (ompreng).

Program MBG tersebut menyasar kelompok B3, yakni balita, ibu hamil, dan ibu menyusui. Dengan sasaran tersebut, aspek kualitas dan higienitas makanan menjadi sangat krusial.

Namun, penggunaan bungkus kertas dalam distribusi makanan memicu kekhawatiran masyarakat terkait kebersihan dan keamanan pangan bagi penerima manfaat.

Program MBG di wilayah tersebut diketahui dikelola oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sampang Tambelangan Banjarbillah yang berlokasi di Jalan Raya Banjurang, Dusun Palenggiyan, Desa Banjarbillah. Penyaluran dilakukan melalui kader posyandu di Dusun Somber kepada para penerima manfaat.

Salah satu penerima manfaat, Dewi, mengaku menerima MBG dalam kondisi terbungkus kertas saat diantar ke rumahnya ada Sabtu, 4 April 2026.

“Iya, saya menerima MBG sebagai ibu menyusui. Saat sampai di rumah, makanan sudah dibungkus kertas, bukan menggunakan ompreng. Yang mengantarkan kader posyandu,” ujarnya. Minggu, 5 April 2026.

Selain itu, Dewi juga mengeluhkan porsi makanan yang dinilai terlalu minim untuk kebutuhan ibu menyusui. Ia menyebut isi paket makanan hanya berupa sedikit nasi, sepotong lauk berukuran kecil, tempe orek, sayur, satu sachet saus, dan satu buah salak.

“Menunya sangat sedikit, seperti porsi anak-anak,” keluhnya.

Sementara itu, kader posyandu Dusun Somber, Saroh, membenarkan bahwa makanan didistribusikan kepada penerima manfaat dalam bentuk bungkus kertas. Ia menyebut hal tersebut merupakan inisiatif kader di lapangan.

“Dari dapur sebenarnya dikirim menggunakan ompreng. Namun, oleh kader diubah karena dinilai lebih sulit jika menggunakan ompreng. Dari pihak dapur juga tidak mempermasalahkan, asalkan makanan tetap diantar ke rumah penerima dan tidak diambil sendiri,” kata Saroh saat dikonfirmasi.

Saroh menjelaskan, pihak dapur sebenarnya juga menyediakan wadah plastik transparan (thinwall). Namun, saat distribusi, sebagian wadah tersebut tidak kembali karena tertinggal di rumah penerima manfaat.

“Sebagian thinwall tidak terkumpul karena ada yang tertinggal di rumah penerima yang sedang tidak ada orang. Akhirnya, sebagian menggunakan kertas minyak, sebagian lainnya tetap memakai thinwall,” ujarnya.

Ia menambahkan, penggunaan bungkus kertas tidak sepenuhnya menjadi inisiatif kader, melainkan juga hasil kesepakatan dengan pihak dapur SPPG.

“Hal ini sempat dibahas bersama. Pihak dapur memperbolehkan penggunaan kertas, dengan catatan kader menyediakan sendiri kertas minyak tersebut,” ucapnya.

Hingga berita ini diturunkan, pihak SPPG Sampang Tambelangan Banjarbillah belum memberikan keterangan resmi terkait polemik tersebut. Upaya konfirmasi kepada Kepala SPPG, Lailatul Fitria, melalui pesan dan panggilan telepon belum mendapat respons.(*)

Tombol Google News

Tags:

MBG Kertas Plastik SPPG Banjarbillah Tambelangan Sampang