KETIK, TULUNGAGUNG – Suasana Pesantren Al Azhaar Kedungwaru Kabupaten Tulungagung tampak berbeda pagi ini, Minggu, 5 April 2026. Kehangatan terasa diantara ribuan jamaah yang hadir dalam gelaran Istihlal (Halal Bihalal). Di sana, lisan saling menyapa dan hati saling meridai.
Udara pagi terasa jauh lebih sejuk, seolah alam turut bersaksi atas beningnya hati yang baru saja dibersihkan dari sisa-sisa khilaf.
KH. Imam Mawardi Ridlwan, Pengasuh Pesantren Al Azhaar, menegaskan bahwa Istihlal bukanlah ritual tahunan tanpa makna. Ia adalah sebuah jalan spiritual untuk membasuh diri.
"Ramadan telah memberi kita ruang ampunan dari Sang Pencipta, namun Syawal adalah momentum untuk menebus kesalahan antarsesama manusia. Mintalah halal kepada orang tua, guru, kerabat, hingga sahabat. Ikhlaskan yang mengganjal, halalkan yang mengganjal," pesan Abah Imam dengan penuh ketulusan.
Beliau juga memotivasi jamaah untuk menyempurnakan ibadah dengan puasa enam hari di bulan Syawal, yang pahalanya laksana berpuasa setahun penuh.
Meneladani Sang Singa Hijaz
Agenda Istihlal kali ini terasa kian sakral karena dirangkai dengan Haul Abuya Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki Al Hasani, Sang Mujaddid abad ke-21.
Pembacaan Yasin dan Tahlil dipimpin secara khidmat oleh Kyai Zainal Abidin, disusul dengan pembacaan Manaqib (biografi singkat) Abuya oleh Habib Muhammad Al Baiti. Sebagai alumni angkatan pertama Pesantren Darul Musthofa asuhan Habib Umar bin Hafidz, penuturan beliau memberikan gambaran mendalam tentang sosok Abuya sebagai teladan Ahli Sunnah Wal Jama’ah.
Sinergi Pesantren dan Negara
Turut hadir memberikan sambutan, Wakil Bupati Tulungagung, Ahmad Bahruddin. Dalam pesannya yang menyejukkan, beliau menekankan pentingnya harmoni antara spiritualitas dan nasionalisme.
"Muslim yang bertakwa adalah mereka yang taat secara agama sekaligus tertib dalam bernegara. Kami berharap Pesantren Al Azhaar terus bersinergi dengan Pemerintah Kabupaten Tulungagung," ucap Baharudin dalam sambutannya, Minggu 5 April 2026.
"Kebersamaan antara ulama, umara, dan pesantren adalah kunci utama dalam menjemput Generasi Emas Indonesia," pungkas sang Wabup.
Puncak Keberkahan
Gema selawat mulai membubung ke angit saat Habib Muhammad Idrus Al Jufri dari Tuban mengambil alih panggung. Suasana semakin larut dalam kekhusyukan; jamaah terhanyut dalam lantunan doa dan ceramah agama yang menyirami dahaga spiritual.
Di Pesantren Al Azhaar, kebersamaan bukanlah sekadar slogan, melainkan sebuah tradisi yang dirawat dengan doa dan maaf yang tulus. Pagi itu, di bawah kerindangan Kedungwaru, ikatan kasih sayang itu kembali diteguhkan, menjalin simpul kekuatan bagi umat dan bangsa. (*)
