KETIK, SURABAYA – Ratusan umat muslim dari Muhammadiyah di kawasan Bulak Banteng, Kota Surabaya, mengikuti Salat Tarawih berjamaah di Masjid Al Mukminun pada Selasa, 17 Februari 2026.
Ketua Takmir Masjid Al Mukminun Humaidi menyampaikan salat tarawih berjamaah sudah diumumkannya sejak lama, bahkan sebulan sebelum masuk Ramadan 1447 Hijriah.
"Kami mengikuti anjuran Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang sudah mengumumkan jadwal 1 Ramadan, bahkan 1 Syawal pun sudah diumumkan juga," ujarnya ditemui usai salat tarawih.
Senada disampaikan Ustaz Amang Muazzam saat ceramah di mimbar di sela istirahat salat tarawih. Ia menjelaskan bahwa penetapan tersebut didasarkan pada sistem Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT) yang memandang bumi sebagai satu kesatuan wilayah hukum dalam penanggalan Islam.
“Pemerintah malam ini melalui Sidang Isbat mengumumkan 1 Ramadan dimulai pada Kamis,19 Februari 2026. Hendaknya perbedaan ini disikapi dengan rasa saling menghormati dan tidak ada yang perlu diperdebatkan,” ucapnya.
“Dulu juga pernah demikian dan semua lancar. Semoga Ramadan kali ini lebih berkah dan kita semua mendapat pahala berkah,” tambah pengurus Pimpnan Cabang Muhammadiyah Kenjeran tersebut.
Sementara itu, pantauan di Masjid Al Mukminun, ratusan jemaah yang terdiri dari pria, wanita maupun anak-anak dengan khusyuk mengikuti ibadah salat isya’ dan dilanjutkan tarawih.
Jumlah salat tarawih 11 rakaat dan ditambah dua rakaat salat iftitah (pembuka). Berlangsung tidak lebih dari satu jam, usai salat dilanjutkan tadarus Al Quran.
Salat tarawih juga berjalan lancar meski sejumlah masjid di sekitarnya belum menggelar karena mengikuti arahan pemerintah dan Nahdlatul Ulama. Selain itu, di kawasan masjd tersebut, Muhammadiyah dikenal minoritas.
Di sisi lain, dilansir dari laman resmi Muhammadiyah, bahwa KHGT menggunakan konsep satu hari satu tanggal global. Dalam sistem ini, satu siklus hari dihitung berdasarkan perputaran bumi yang dimulai dari Garis Tanggal Internasional dan berakhir di wilayah Pasifik bagian timur, termasuk kawasan Alaska.
Apabila pada satu siklus hari tersebut parameter visibilitas hilal terpenuhi di salah satu wilayah di muka bumi maka status bulan baru berlaku bagi seluruh dunia pada tanggal yang sama.
Muhammadiyah menggunakan kriteria visibilitas hilal yang ditetapkan dalam forum internasional penyatuan kalender Islam tahun 2016, yakni ketinggian minimal lima derajat dan elongasi delapan derajat.
Secara praktis, penetapan tanggal Ramadan tahun ini berpotensi bertepatan dengan kalender resmi Arab Saudi yang menggunakan parameter berbeda.
Penerapan KHGT merupakan hasil kajian panjang yang telah dikembangkan sejak pertengahan 2000-an melalui berbagai forum ilmiah dan musyawarah tarjih di lingkungan Muhammadiyah.
Masyarakat diharapkan dapat memahami penetapan awal Ramadan dalam kerangka kesatuan umat Islam secara global, bukan semata berdasarkan pengamatan lokal. Penggunaan kalender global merupakan upaya menghadirkan kepastian penanggalan sekaligus memperkuat persatuan umat dalam pelaksanaan ibadah. (*)
