KETIK, SURABAYA – Menjelang Lebaran, saat banyak orang bersiap merayakan Hari Raya bersama keluarga, Welliam Marthinus Christian Fanggidae justru bersiaga sebagai staf Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Mojokerto untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan kejadian darurat.
Guna menghadapi meningkatnya mobilitas masyarakat selama masa Lebaran, PMI Kota Mojokerto mulai menggelar siaga Lebaran sejak Jumat, 14 Maret 2026. Ambulans disiagakan selama 24 jam dengan posko yang ditempatkan di dua titik, yakni Alun-Alun dan Sekar Putih.
Dalam siaga Lebaran, setiap shift diisi tiga petugas, terdiri dari satu pengemudi ambulans dan dua tenaga kesehatan.
“Untuk di kota, posko ada dua, di Alun-Alun dan Sekar Putih,” terang Welliam.
Menurutnya, tim PMI harus selalu siap bertugas, bahkan di hari-hari besar.
“Kecelakaan tidak melihat waktu. Tidak melihat umur atau status. Karena itu meskipun Lebaran, tetap ada personel yang berjaga,” katanya.
Pengalaman pahit ketika sepupunya menjadi korban kecelakaan lalu lintas di Jakarta mendorong Welliam bergabung sebagai anggota PMI sejak 2015. Ia tergerak setelah melihat korban tidak segera mendapat pertolongan karena minimnya kesadaran masyarakat untuk membantu.
“Waktu itu orang-orang hanya menonton, memfoto, atau merekam kejadian untuk media sosial. Berawal dari situlah saya akhirnya berkecimpung di PMI,” ujarnya.
Sejak saat itu, ia aktif sebagai anggota PMI Kota Mojokerto. Dalam kesehariannya, Welliam bertugas sebagai pengemudi ambulans sekaligus petugas pertolongan pertama.
Selama sepuluh tahun lebih menjadi tim PMI, ia telah menangani berbagai kejadian darurat, mulai dari kecelakaan lalu lintas, kebakaran, banjir, hingga pencarian korban tenggelam di sungai.
Saat menangani korban, tim PMI juga harus berkoordinasi dengan rumah sakit tujuan. Menurut Welliam, koordinasi biasanya dilakukan melalui pesan WhatsApp untuk menyampaikan kondisi korban serta jumlah pasien yang akan dibawa.
Berdasarkan kondisi tersebut, tim PMI kemudian menentukan rumah sakit tujuan. Jika korban membutuhkan penanganan khusus, pasien akan dibawa ke rumah sakit dengan fasilitas memadai, sementara korban dengan luka ringan biasanya diarahkan ke rumah sakit terdekat.
Salah satu pengalaman yang paling menantang baginya adalah saat mengevakuasi korban kecelakaan yang terjepit di dalam kendaraan. Proses penyelamatan bahkan bisa memakan waktu berjam-jam.
“Pernah ada korban yang masih hidup, tetapi terjepit di badan mobilnya sendiri. Proses evakuasinya bahkan sampai tiga jam karena harus menunggu alat dari petugas pemadam kebakaran atau teman-teman relawan yang memiliki peralatan untuk membebaskan korban,” katanya.
Saat bertugas di lapangan, Welliam juga kerap menghadapi berbagai kendala, seperti kemacetan lalu lintas atau kondisi korban yang sulit dievakuasi.
Ia juga mengaku memiliki sejumlah pengalaman berkesan selama bergabung di PMI, salah satunya ketika keluarga korban datang langsung menyampaikan terima kasih.
“Beberapa momen berkesan justru datang dari keluarga korban. Sebenarnya kami tidak saling mengenal, tetapi mereka lebih dulu mengenali kami. Kadang saat bertemu di jalan mereka menyapa, bahkan ada yang datang ke kantor untuk memberikan apresiasi, misalnya dengan membawa makanan,” ujarnya.
Menjelang meningkatnya mobilitas masyarakat saat Lebaran, Welliam juga mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati saat berkendara.
Selain itu, ia mengingatkan agar masyarakat tidak sembarangan memindahkan korban kecelakaan sebelum petugas datang.
“Kalau menemukan korban kecelakaan, jangan langsung dipindah dan jangan diberi minum. Kesalahan dalam mengangkat korban bisa berakibat fatal,” jelasnya.
PMI juga membuka kesempatan bagi masyarakat yang ingin bergabung sebagai relawan. Para relawan nantinya akan mendapatkan pelatihan khusus sehingga menjadi “awam terlatih” yang mampu memberikan pertolongan dengan benar.
Dalam pelatihan tersebut, relawan diajarkan cara menangani korban hingga teknik memindahkannya dengan aman.
“Semua akan dilatih oleh pelatih yang profesional dan bersertifikat,” pungkasnya. (*)
