KETIK, SURABAYA – Menjelang Lebaran, berbagai hidangan khas mulai disiapkan oleh masyarakat untuk menyambut hari raya. Selain ketupat dan opor ayam, sebagian masyarakat Jawa juga menyajikan ayam ingkung sebagai hidangan tradisional saat Idulfitri.
Makanan khas dari Yogyakarta ini sering dihidangkan kepada tamu yang datang bersilaturahmi pada hari Lebaran.
Ayam ingkung memiliki ciri khas dalam cara memasak dan penyajiannya. Hidangan ini berupa ayam utuh yang dimasak dengan bumbu rempah dan santan, kemudian disajikan dengan posisi kaki terlipat seperti orang yang sedang duduk bersimpuh.
Cara penyajian tersebut menjadi ciri khas tersendiri yang membedakan ayam ingkung dengan hidangan ayam lainnya.
Tidak hanya dikenal sebagai sajian kuliner, ayam ingkung juga memiliki makna dalam tradisi masyarakat Jawa. Bentuk ayam yang disajikan utuh melambangkan sikap kerendahan hati serta ketundukan manusia kepada Tuhan.
Hidangan ini sering disajikan dalam berbagai acara selamatan atau doa bersama yang dilakukan menjelang maupun setelah Idulfitri.
Dalam tradisi Jawa, ayam ingkung umumnya menggunakan ayam jantan, karena memiliki makna sebagai pengingat agar manusia meninggalkan sifat-sifat buruk seperti kesombongan dan keangkuhan.
Selain itu, ayam jantan kampung juga dianggap memiliki daging yang lebih gurih sehingga cocok dimasak dengan bumbu rempah dan santan.
Namun, dalam kegiatan sehari-hari tidak ada aturan yang mewajibkan penggunaan ayam jantan. Ayam betina atau ayam kampung biasa juga dapat digunakan sebagai bahan untuk membuat ayam ingkung.
Bagi sebagian masyarakat Jawa, penyajian ayam ingkung juga dimaknai sebagai ungkapan rasa syukur setelah menjalani ibadah puasa selama Ramadan. Hidangan ini biasanya disajikan bersama menu lain seperti Ketupat atau Opor ayam.
Makanan tersebut kemudian disantap bersama keluarga setelah salat Idulfitri atau saat menerima tamu yang datang berkunjung.
Melalui tradisi tersebut, ayam ingkung tidak sekadar menjadi sajian Lebaran, tetapi juga bagian dari warisan budaya yang mencerminkan nilai kebersamaan, rasa syukur, serta kedekatan spiritual dalam kehidupan masyarakat. (*)
