Reses di Blitar, Guntur Wahono Dorong Seni Tiban Naik Kelas Lewat Reorganisasi Paguyuban

10 Februari 2026 11:23 10 Feb 2026 11:23

Thumbnail Reses di Blitar, Guntur Wahono Dorong Seni Tiban Naik Kelas Lewat Reorganisasi Paguyuban

Reses Guntur Wahono bersama para penggiat seni tiban Blitar, Senin 9 Februari 2026. (Foto: Favan/Ketik.com)

KETIK, BLITAR – Masa reses tak selalu soal infrastruktur atau keluhan jalan rusak. Bagi Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur dari Fraksi PDI Perjuangan, Guntur Wahono, reses juga menjadi ruang strategis untuk merawat denyut kebudayaan rakyat.

Hal itu tercermin dalam kegiatan reses masa sidang kedua tahun 2025–2026 yang digelar di Joglo Serbaguna Desa Sumber, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar, Senin malam 9 Februari 2026.

Dalam forum tersebut, Guntur memfasilitasi reorganisasi kepengurusan Paguyuban Seni Tradisi Tiban Blitar Raya yang dihadiri pelaku seni dari Kota dan Kabupaten Blitar.

Menurut Guntur, reorganisasi ini penting agar paguyuban memiliki arah kerja yang lebih tertata dan solid dalam satu periode ke depan.

“Reses malam ini kita manfaatkan untuk membenahi organisasi Paguyuban Tiban Blitar Raya. Prosesnya sudah kita jalankan secara terbuka dan demokratis, dan alhamdulillah menghasilkan kepengurusan baru,” kata Guntur kepada wartawan.

Ia menekankan bahwa proses pemilihan pengurus berlangsung tanpa tekanan dan intervensi. Seluruh peserta forum diberi ruang yang sama untuk menyampaikan pendapat, termasuk suara minoritas.

“Demokrasi itu bukan soal banyak-banyakan suara saja. Satu orang berbicara pun tetap kita dengarkan. Itu prinsip yang kita jaga dalam reorganisasi ini,” tegasnya.

Dalam paparannya, Guntur juga menyinggung perkembangan seni tradisi Tiban yang menunjukkan tren positif. Di Blitar, jumlah kelompok seni Tiban yang semula hanya beberapa grup kini berkembang pesat hingga puluhan kelompok.

“Dulu di Blitar hanya sekitar empat grup, sekarang sudah hampir 20. Di daerah lain seperti Tulungagung bahkan Lampung juga mengalami perkembangan serupa. Ini menandakan Tiban masih hidup dan dicintai masyarakat,” ungkapnya.

Ia menilai antusiasme publik dalam setiap pementasan menjadi bukti bahwa seni tradisi masih memiliki daya tarik kuat di tengah gempuran budaya modern.

Tak berhenti di tingkat lokal, Guntur juga membuka wacana penguatan organisasi hingga level yang lebih tinggi. Ia berharap ke depan seni Tiban dapat memiliki kepengurusan berskala nasional agar jejaring antardaerah semakin kuat.

“Kita punya mimpi ke sana. Dalam waktu dekat, kami juga berencana menggelar pelantikan dan pengukuhan Paguyuban Tiban Blitar Raya di Pendopo Kabupaten Blitar, tentu dengan persetujuan Bupati,” ujarnya.

Dari sisi dukungan konkret, Guntur menyebutkan bahwa Pemprov Jawa Timur melalui APBD telah menyalurkan berbagai sarana pendukung kesenian. Mulai dari panggung 3D berukuran 8x8 meter, gamelan, tenda, hingga perangkat sound system.

“Dengan fasilitas ini, harapannya saat ada event besar, paguyuban tidak lagi kerepotan soal perlengkapan. Bahkan mobil operasional juga sangat dibutuhkan karena setiap kegiatan bisa melibatkan puluhan kendaraan saat lawatan antardaerah,” jelasnya.

Melalui reses tersebut, Guntur menegaskan komitmennya untuk terus menyerap dan memperjuangkan aspirasi masyarakat, termasuk dalam upaya pelestarian seni tradisi sebagai identitas budaya sekaligus kekuatan sosial masyarakat Jawa Timur.

“Budaya bukan sekadar tontonan, tapi penyangga jati diri masyarakat. Negara harus hadir untuk menjaganya,” pungkasnya.(*)

Tombol Google News

Tags:

Guntur Wahono SENI Tiban Reorganisasi Blitar Kabupaten Blitar