Rektor UNSAN Bacan Paparkan Pesan Presiden Prabowo di Istana

18 Januari 2026 10:06 18 Jan 2026 10:06

Thumbnail Rektor UNSAN Bacan Paparkan Pesan Presiden Prabowo di Istana

Rektor UNSAN Bacan Yudhi Eka Prasetia ketika bertemu Presiden Prabowo Subianto Kamis 16 Januari 2026 (Foto: Humas Pemda Halsel For Ketik.com)

KETIK, MALUKU UTARA – Rektor Universitas Nurul Hasan (UNSAN) Bacan, Yudhi Eka Prasetia, membeberkan sejumlah catatan penting usai menghadiri Taklimat dan Diskusi Presiden RI Prabowo Subianto bersama para rektor dan pimpinan perguruan tinggi negeri serta swasta.

Kegiatan tersebut digelar di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis 16 Januari 2026, dan berlangsung lebih dari tiga jam dalam suasana serius namun terbuka.

Yudhi mengatakan, Presiden Prabowo menyampaikan banyak poin strategis terkait arah pengelolaan negara di tengah dinamika global yang kian kompleks. Salah satu penekanan utama adalah perubahan lanskap geopolitik dunia.

“Presiden menegaskan, saat ini pengelolaan negara atau statecraft sudah masuk era realisme. Tujuan bernegara adalah bertahan hidup. Hampir semua negara kini fokus melindungi kepentingan dalam negerinya masing-masing,” ujar Yudhi mengutip arahan Presiden.

Dalam forum itu, Prabowo juga menekankan pentingnya kekompakan elite nasional. Menurutnya, negara akan kuat bila elite politik, ekonomi, agama, hingga ilmuwan mampu bekerja sama secara jujur dan menjunjung tinggi nasionalisme.

Foto Yudhi Eka Prasetia Rektor UNSAN Bacan di Istana Negara (Foto: Humas Pemda Halsel For Ketik.com)Yudhi Eka Prasetia Rektor UNSAN Bacan di Istana Negara (Foto: Humas Pemda Halsel For Ketik.com)

“Presiden menyampaikan, kaum cendekiawan adalah the brain of the country. Negara membutuhkan ilmuwan yang kuat dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat, bukan yang hanya mengejar kepentingan pribadi, materialisme, apalagi kepentingan asing,” kata Yudi.

Presiden turut menyoroti kondisi ekonomi nasional. Meski pertumbuhan ekonomi Indonesia terbilang tinggi, angka kemiskinan masih menjadi pekerjaan besar. Data yang dipaparkan menunjukkan jumlah penduduk miskin pada 2024 mencapai 49,5 juta jiwa, meningkat dibanding 2017 yang berada di angka 46,1 juta jiwa, meski pertumbuhan ekonomi 2025 tercatat 5,04 persen.

Tak hanya itu, Prabowo mengungkap besarnya kebocoran ekonomi nasional. Selama 21 tahun, net outflow disebut mencapai 319 miliar dolar AS. Sementara praktik under invoicing selama 34 tahun ditaksir menembus 908 miliar dolar AS. Rata-rata kebocoran per tahun diperkirakan sekitar 150 miliar dolar AS atau setara Rp2.500 triliun.

Presiden juga menyinggung ketimpangan penyaluran kredit nasional. Dari total kredit korporasi sebesar Rp5.770 triliun, kredit ke industri pengolahan mencapai Rp1.224 triliun. Sementara porsi kredit untuk UMKM dan koperasi dinilai masih relatif kecil.

Dalam penyampaiannya, Prabowo mengutip pernyataan Albert Einstein. “Definisi kegilaan adalah melakukan hal yang sama berulang kali, namun mengharapkan hasil yang berbeda,” ucap Presiden, seperti disampaikan Yudhi.

Sebagai langkah konkret, Presiden memaparkan sejumlah kebijakan strategis. Salah satunya pembentukan Dana Anantara untuk menyatukan pengelolaan BUMN. Presiden juga menegaskan komitmen menutup kebocoran dengan mencabut izin kelapa sawit, kehutanan, dan tambang yang bermasalah agar dana yang kembali bisa dimanfaatkan untuk pembangunan nasional.

Yudhi menambahkan, Presiden berharap para guru besar, rektor, serta pimpinan PTN dan PTS berperan aktif menyampaikan kondisi faktual dunia kepada masyarakat dan berkontribusi langsung bagi kemajuan bangsa.

“Presiden juga berjanji akan menggelar pertemuan lanjutan dalam waktu dekat, dengan format yang lebih interaktif,” tutur Yudhi.

Tombol Google News

Tags:

Unsan Bacan Presiden Prabowo Subianto Yudhi Eka Prasetia Rektor UNSAN Bacan Arahan Presiden ke Rektor Peran Ilmuwan untuk Bangsa Arah Kebijakan Nasional Diskusi Presiden di Istana Isu Strategis Nasional bacan Indonesia