KETIK, SURABAYA – Tak banyak yang menyangka, sosok qoriah yang tampil melantunkan ayat suci Al-Qur’an di hadapan Gubernur ternyata bukan berasal dari pondok pesantren murni. Ia adalah Aidah Nur Fitriah, remaja kelahiran 3 November 2005, yang masih berstatus sebagai siswi SMA.
Aida menuturkan, meski mengenyam pendidikan formal di SMA Negeri 8 Surabaya, dirinya tetap berstatus sebagai santri. Hal itu karena sistem pendidikan yang dijalaninya berada di bawah yayasan yang terpisah antara sekolah formal dan pendidikan kepesantrenan.
“Saya sekolah di SMA, tapi statusnya tetap santri karena yayasannya memang terpisah,” ujarnya.
Kesempatan tampil sebagai qoriah di hadapan orang nomor satu di Jawa Timur itu bukan datang secara tiba-tiba. Aidah mengaku telah memiliki rekam jejak panjang di dunia tilawah sejak usia dini. Berbagai perlombaan qori kerap diikutinya, dan tak sedikit yang berhasil ia menangkan.
"Dari kecil saya sering ikut lomba-lomba qori. Alhamdulillah, sering dapat juara. Mungkin karena itu jadi sering dipanggil untuk mengisi acara,” tuturnya.
Menariknya, kemampuan tilawah Aida tidak diperoleh dari lembaga khusus, melainkan tumbuh dari lingkungan keluarga. Orang tua Aida menjadi sosok penting dalam perjalanan tilawahnya.
“Belajarnya langsung dari orang tua saya sendiri,” kata Aida.
Perpaduan pendidikan formal, status sebagai santri, serta bimbingan langsung dari orang tua menjadikan Aidah Nur Fitriah contoh generasi muda yang mampu berprestasi di bidang keagamaan tanpa meninggalkan pendidikan umum.
Kisahnya menjadi bukti bahwa qoriah berprestasi dapat lahir dari berbagai latar belakang pendidikan, selama diiringi dengan ketekunan dan konsistensi sejak dini. (*)
