KETIK, PROBOLINGGO – Menjelang peringatan satu abad Nahdlatul Ulama (NU) menurut kalender Masehi pada 8 Februari 2026 mendatang, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur menggelar rangkaian kegiatan dan konsolidasi organisasi.
Salah satu agenda utamanya adalah ziarah kepada para muassis (pendiri) dan muharrik (penggerak) NU di Probolinggo diantaranya, Kiai Hasan Genggong, Kiai Syaifurijal, Kiai Zaini Mun'im dan Kiai Hasan Abdul Wafi.
Setelah berkunjung ke Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong, dalam rangkaian tersebut, rombongan melakukan ziarah ke makam KH. Zaini Mun’im dan KH. Hasan Abdul Wafi di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo.
Sebelum berziarah rombongan mengikuti acara seremonial yang bertempat di aula mini Pesantren. Kegiatan ini menjadi momentum refleksi atas dedikasi para tokoh besar yang telah meletakkan fondasi kuat bagi jam'iyyah NU.
Kiai Ahsanul Haq, ketua rombongan menyampaikan bahwa puncak harlah satu abad ini akan dipusatkan di Stadion Gajayana, Malang. Seluruh warga Nahdliyin, khususnya dari PCNU Probolinggo, diminta untuk memaksimalkan kehadiran masyarakat dalam acara mujahadah kubro tersebut.
"Peringatan satu abad ini dilaksanakan secara benar-benar mandiri. Kita berharap melalui mujahadah nanti, NU tetap selamat dan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang Baldatun Thoyyibatun Warabbun Ghafur," ujarnya.
Sebagai tuan rumah, dalam sambutannya, KH. Najiburrahman Wahid, mewakili pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, menceritakan kembali sejarah masuknya KH. Zaini Mun’im ke dalam NU.
Ia mengisahkan bahwa Kiai Zaini mantap berkhidmat di NU setelah bermimpi diajak naik mobil bersama pendiri NU, KH. Hasyim Asy’ari.
Kiai Najiburrahman juga menekankan pentingnya loyalitas, seraya menegaskan bahwa para penerus perjuangan Kiai Zaini tetap teguh di jalur NU tanpa berpaling ke organisasi lain. Hal ini selaras dengan bait qosidah karya Kiai Zaini yang sering dilantunkan sebagai penyemangat perjuangan.
"Dan berjuang di Nahdlatul Ulama dan Partai Islam untuk menguatkan posisi umat Islam," tegasnya.
Selain membahas agenda harlah, pertemuan ini juga membangkitkan memori sejarah saat Muktamar NU di Situbondo, di mana Muktamar Fatayat juga turut dilaksanakan.
"Selamat datang di bumi NU," sambut panitia kepada para tamu yang hadir, menegaskan bahwa wilayah Probolinggo dan sekitarnya tetap menjadi basis kuat kaum sarungan.
Acara di Stadion Gajayana mendatang diharapkan menjadi lautan doa bagi keselamatan NU dan umat serta keutuhan NKRI di tengah dinamika zaman. (*)
