KETIK, TULUNGAGUNG – Di Gedung Dakwah Abi KH. M. Ihya Ulumiddin, yang biasanya diisi kegiatan santri SMP Al Azhaar, hari itu penuh senyum.
Relawan, ahli gizi, akuntan, dan kepala SPPG Khusus Pesantren Al Azhaar Kedungwaru berkumpul pada Minggu, 4 Januari 2026.
Mereka merayakan satu tahun perjalanan dapur sehat MBG sebuah dapur yang menyiapkan masa depan anak-anak Indonesia.
Ucapan selamat datang dari Hj. Indah Binti Kamidi dan suaminya, H. Muhammad Turino Junaedy. Pasangan ini selalu memberi support sekaligus dukungan beliau.
Mereka adalah penyokong setia, yang sejak awal percaya bahwa dapur sehat bisa menjadi jalan dakwah.
“Saya berkali-kali silaturrahim dan survey di SPPG Khusus Pesantren Al Azhaar Kedungwaru," ucap Hj. Indah.
"Para relawan sangat terampil. Bekerja secara tim yang baik. Penerima manfaat sangat puas dan memberi respon positif,” katanya.
Sementara itu Pengasuh Pondok Pesantren Al Azhaar KH. Imam Mawardi Ridlwan menerangkan Kreasi menu dapur ini sudah 15 kali dimuat di media BGN.
Angka yang kecil jika dibandingkan dengan jumlah anak yang dilayani: 3998 penerima manfaat sebelum pemerataan, dan kini 3000 setelah pemerataan.
Tetapi angka itu bukan sekadar statistik.
Di baliknya ada cerita tentang anak-anak di sekolah kecil, di pinggiran, yang jumlah siswanya hanya 30. Justru mereka yang dipilih.
“SPPG Khusus Pesantren Al Azhaar bermaksud berbagi di lembaga yang murid sedikit agar lebih bermanfaat,” tutur Abah Imam.
Pilihan itu bukan tanpa kontroversi. SMA Negeri 1 Kedungwaru, yang hanya berjarak 300 meter dari pesantren, tidak dilayani. Sebaliknya, SMA Katolik Kedungwaru yang berjarak 400 meter justru diberi prioritas.
“Rekan-rekan yang belajar di SMA Katolik Kedungwaru perlu diberi pelayanan awal dan prioritas agar ada kebersamaan sesama anak bangsa,” jelasnya.
Di sinilah pesan kerukunan itu nyata: dapur sehat tidak mengenal sekat agama.
Nurhadi, anggota Komisi IX DPR RI, hadir dalam tasyakuran itu. Ia mengingat kembali keberanian Kyai Imam di awal program MBG.
“Saat itu harus nalangi dana dulu ketika berperan. Saya pernah silaturrahim di SPPG Khusus Pesantren Al Azhaar Tulungagung tahun 2025, membawa rombongan pengusaha Blitar. Diberi semangat oleh Kyai Imam. Kini mereka semua sudah mengelola dapur MBG,” kenangnya.
Milad perdana ini sederhana. Tidak ada kegiatan senam massal atau lomba. Hanya doa, ucapan syukur, dan cerita tentang perjalanan satu tahun.
Tetapi justru dalam kesederhanaan itu, makna terasa lebih dalam.
Pesantren Al Azhaar Kedungwaru hanya mengelola satu dapur sehat MBG. Namun payung hukum Yayasan Pendidikan Islam Al Azhaar kini menaungi beberapa mitra BGN yang ingin mendirikan SPPG.
Satu tahun perjalanan, ribuan anak terlayani, puluhan sekolah kecil tersentuh.
Milad ini bukan sekadar perayaan. Ia adalah pengingat: bahwa dapur sehat bisa menjadi jembatan kerukunan, dakwah, dan masa depan generasi emas Indonesia.
Dalam penutup Abah Imam pada Ketik.com menyampaikan terima kasih pada Kepala SPPG Khusus Pesantren Al Azhaar pertama, Sebrina Mahardika. Ia yang telah tulus membersamai dan membimbing sejak awal Desember 2024.
"Semoga pengabdian Sebrina Mahardika diberi balasan pahala dari Alloh Ta'ala," tutup Abah Imam. (*)
