Ramadan dan Lonjakan Harga: Bagaimana Mahasiswa Bertahan?

23 Februari 2026 01:05 23 Feb 2026 01:05

Thumbnail Ramadan dan Lonjakan Harga: Bagaimana Mahasiswa Bertahan?

Oleh: Maulidya Hanin Najahah*

Setiap masuk bulan Ramadan, kebutuhan masyarakat biasanya meningkat. Banyak orang membeli beras, minyak goreng, gula, telur, daging, dan cabai lebih banyak dari biasanya. Karena permintaan naik, harga di pasar juga sering ikut naik. Hal seperti ini hampir terjadi setiap tahun dan sudah menjadi pola menjelang hari raya.

Menurut laporan dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, kelompok bahan makanan sering menjadi penyumbang inflasi saat Ramadan hingga Idulfitri. Kenaikan harga biasanya dipicu oleh meningkatnya permintaan rumah tangga, distribusi yang kurang merata, serta faktor cuaca dan produksi. Dampaknya dirasakan oleh semua kalangan, termasuk mahasiswa.

Bagi mahasiswa yang tinggal di kos dan jauh dari orang tua, kenaikan harga ini terasa langsung. Uang saku yang diterima setiap bulan umumnya tetap, sementara harga kebutuhan naik. Kondisi ini membuat ruang gerak keuangan menjadi lebih sempit. Biaya belanja mingguan bertambah.

Selain bahan pokok, pengeluaran juga meningkat karena adanya kebutuhan berbuka puasa, takjil, serta kegiatan sosial seperti buka bersama. Tanpa perencanaan yang matang, anggaran bulanan bisa cepat habis sebelum akhir bulan.

Secara ekonomi, kondisi ini berkaitan dengan konsep demand pull inflation, yaitu kenaikan harga karena permintaan meningkat secara bersamaan. Ramadan menjadi periode dengan konsumsi rumah tangga tinggi, sehingga harga menyesuaikan. Jika distribusi tidak lancar, harga komoditas segar seperti cabai dan sayuran bisa naik lebih tajam.

Mahasiswa sebagai kelompok dengan daya beli terbatas biasanya melakukan penyesuaian. Mereka mengurangi frekuensi membeli makanan jadi, lebih sering memasak sendiri, atau berbagi biaya belanja dengan teman sekamar. Sebagian juga mencari pemasukan tambahan melalui pekerjaan paruh waktu atau usaha kecil selama Ramadan. Namun penyesuaian saja tidak selalu cukup. Diperlukan langkah yang lebih terencana agar kondisi keuangan tetap stabil.

Strategi Menghadapi Lonjakan Harga

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan mahasiswa untuk mengatasi tekanan keuangan selama Ramadan:

  1. Menyusun anggaran khusus Ramadan
    Membuat rincian pengeluaran sejak awal bulan membantu mengetahui batas kemampuan belanja. Kebutuhan pokok harus menjadi prioritas utama.
  2. Membedakan kebutuhan dan keinginan
    Tidak semua pengeluaran selama Ramadan bersifat mendesak. Mengurangi pembelian takjil berlebihan atau menahan diri dari belanja impulsif dapat menekan pengeluaran.
  3. Belanja lebih awal dan terencana
    Membeli bahan pokok sebelum harga melonjak terlalu tinggi dapat menjadi langkah antisipatif. Membandingkan harga di beberapa tempat juga membantu menghemat biaya.
  4. Memasak dalam jumlah cukup untuk beberapa hari
    Cara ini lebih hemat dibanding membeli makanan jadi setiap hari. Selain itu, biaya bisa ditekan dengan membeli bahan dalam jumlah yang efisien.
  5. Mencari peluang tambahan secara realistis
    Jika memungkinkan, mahasiswa dapat memanfaatkan peluang ekonomi musiman, seperti membantu usaha keluarga, berjualan kecil-kecilan, atau pekerjaan paruh waktu yang tidak mengganggu studi.

Langkah-langkah tersebut pada dasarnya menekankan pentingnya perencanaan dan pengendalian diri.

Ramadan mengajarkan kesederhanaan dan pengendalian hawa nafsu. Namun secara faktual, periode ini sering diiringi peningkatan konsumsi. Bagi mahasiswa, tantangan bukan hanya menjalankan ibadah puasa, tetapi juga menjaga keseimbangan finansial di tengah fluktuasi harga pasar.

Lonjakan harga menjelang Ramadan adalah fenomena yang berulang dan dapat diperkirakan setiap tahun. Karena itu, kesiapan dalam mengelola anggaran menjadi kunci utama. Ramadan tidak hanya menjadi momentum spiritual, tetapi juga menjadi latihan nyata untuk membangun kemandirian ekonomi sejak bangku kuliah.

Di sisi lain, situasi ini juga memperlihatkan bahwa mahasiswa berada pada fase belajar yang sangat penting, bukan hanya secara akademik, tetapi juga secara finansial. Kenaikan harga selama Ramadan bisa menjadi pengalaman nyata untuk memahami bagaimana dinamika ekonomi bekerja dalam kehidupan sehari-hari. Apa yang sebelumnya hanya dipelajari dalam teori, kini terasa langsung dampaknya di dompet sendiri.

Ketika harga beras atau telur naik, mahasiswa belajar bahwa pasar dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari permintaan yang meningkat hingga distribusi barang. Mereka juga belajar bahwa keputusan kecil seperti membeli kopi kekinian setiap hari atau memasak sendiri di kos bisa memberi pengaruh besar terhadap kondisi keuangan di akhir bulan. Dari situ tumbuh kesadaran bahwa mengatur uang bukan sekadar soal cukup atau tidak cukup, tetapi soal prioritas.

Ramadan juga sering diwarnai dengan dorongan sosial yang kuat. Ajakan buka bersama datang silih berganti. Ada keinginan untuk ikut berbagi, membeli pakaian baru menjelang Idulfitri, atau sekadar menikmati suasana bulan suci dengan lebih meriah. Semua itu wajar. Namun tanpa kontrol, pengeluaran bisa membengkak tanpa terasa. Di sinilah mahasiswa diuji untuk bersikap bijak, memilih mana yang benar-benar perlu dan mana yang bisa ditunda.

Selain strategi individu, dukungan lingkungan juga berperan penting. Beberapa kampus atau komunitas mahasiswa biasanya mengadakan pasar murah, dapur bersama, atau kegiatan berbagi bahan pokok. Inisiatif seperti ini dapat membantu meringankan beban sekaligus memperkuat solidaritas. Ramadan pada akhirnya bukan hanya tentang konsumsi, tetapi juga tentang kepedulian sosial.

Di tengah tantangan tersebut, mahasiswa sebenarnya memiliki satu keunggulan: kemampuan beradaptasi. Mereka terbiasa hidup sederhana, berbagi ruang, dan mencari solusi kreatif. Ketika harga naik, mereka menyesuaikan pola belanja. Ketika anggaran menipis, mereka mencari alternatif. Fleksibilitas ini menjadi modal penting untuk menghadapi situasi ekonomi yang tidak selalu stabil.

Lebih jauh lagi, pengalaman menghadapi lonjakan harga di masa kuliah bisa menjadi bekal berharga untuk kehidupan setelah lulus. Kemampuan menyusun anggaran, menahan diri dari pengeluaran impulsif, serta mencari peluang tambahan adalah keterampilan yang relevan dalam jangka panjang.

Dengan demikian, Ramadan memang menghadirkan tantangan ekonomi yang nyata bagi mahasiswa. Namun di balik tantangan itu, terdapat proses pembelajaran yang tidak kalah penting. Ramadan bukan hanya menguatkan spiritualitas, tetapi juga melatih ketahanan finansial dan kedewasaan dalam mengambil keputusan. (*)

*) Maulidya Hanin Najahah adalah Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya dan sedang mengikuti program magang di Ketik.com

**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis
Baca Juga:
Mahasiswa IAINATA Sampang Masuk Grand Finalis Putra Putri Kebudayaan Jawa Timur 2026

***) Ketentuan pengiriman naskah opini:

  • Naskah dikirim ke alamat email redaksi@ketik.com
  • Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
  • Panjang naskah maksimal 800 kata
  • Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
  • Hak muat redaksi. (*)

Tombol Google News

Tags:

Ramadan harga mahasiswa