KETIK, MALANG – Gedung parkir baru di Kayutangan Heritage dinilai mampu menata kawasan sekaligus menambah pendapatan asli daerah (PAD). Namun, di sisi lain, sejumlah karyawan toko mengaku terdampak akibat jarak parkir yang cukup jauh serta adanya biaya tambahan.
Salah satu karyawan yang enggan disebutkan namanya mengaku mengalami kesulitan sejak diterapkannya sistem parkir terpusat di gedung parkir. Jarak yang cukup jauh dari tempat kerja membuat aktivitas hariannya menjadi kurang praktis.
“Sebelumnya saya bisa parkir di depan toko, sekarang harus jalan karena motor ditempatkan di gedung parkir,” ujarnya.
Selain persoalan jarak, beban biaya parkir juga menjadi keluhan tersendiri. Ia mengungkapkan bahwa karyawan kini harus mengeluarkan biaya parkir rutin setiap hari.
“Setiap hari harus bayar parkir. Kalau dihitung-hitung, bisa sekitar Rp60 ribu per bulan. Padahal sebelumnya toko juga sudah membayar iuran parkir. Saya tidak tahu apakah setelah parkir di gedung ini masih ada iuran tambahan atau tidak,” katanya.
Dampak lain yang dirasakan adalah berkurangnya jumlah pembeli. Ia menilai kebijakan parkir terpusat membuat sebagian pengunjung enggan datang karena harus berjalan lebih jauh menuju pertokoan.
“Dulu pembeli bisa langsung parkir di depan toko. Sekarang harus jalan agak jauh. Mungkin itu salah satu alasan toko jadi lebih sepi,” ungkapnya.
Atas kondisi tersebut, ia berharap Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang dapat melakukan kajian ulang, khususnya terkait skema parkir bagi karyawan di kawasan Kayutangan Heritage.
