KETIK, BATU – Dinas Lingkungan Hidup Kota Batu (DLH) merancang pembangunan biodigester di Pasar Induk Among Tani. Manfaat besarnya sebagai solusi pengelolaan sampah organik yang lebih mandiri dan berkelanjutan.
Proyek tersebut ditargetkan mulai diajukan pada 2027 melalui skema pendanaan LSDP, bersamaan dengan pembangunan enam unit TPS 3R komunal baru.
Kepala DLH Kota Batu, Dian Fachroni, menyatakan pihaknya optimistis tata kelola sampah di pasar tersebut dapat ditangani lebih efektif, mulai dari pengangkutan hingga proses pengolahan.
“Kami optimistis tata kelola sampah di Pasar Induk Among Tani bisa dilakukan dengan pola sekali angkut dan sekali proses. Untuk saat ini, TPA Tlekung masih memungkinkan mengakomodasi sampah pasar,” ujarnya, Kamis, 26 Februari 2026.
Namun ke depan, DLH menargetkan pengelolaan sampah pasar dapat berjalan secara mandiri tanpa sepenuhnya bergantung pada tempat pemrosesan akhir (TPA).
Salah satu konsep yang tengah disiapkan adalah pembangunan biodigester untuk mengolah sampah organik menjadi biogas.
“Jika memungkinkan, kami akan menghadap Wali Kota dan Wakil Wali Kota untuk memaparkan konsep tata kelola sampah pasar. Salah satu rencananya adalah mengosongkan sebagian ruang untuk proyek biodigester,” jelas Dian.
Menurutnya, biodigester tersebut akan memanfaatkan sampah organik pasar untuk menghasilkan biogas yang kemudian dialirkan ke fasilitas umum di lingkungan pasar.
“Biogas yang dihasilkan rencananya akan dialirkan ke kamar mandi dan area kuliner di lantai tiga. Itu konsep yang sedang kami siapkan,” katanya.
Ia menjelaskan, pemanfaatan biogas untuk toilet sejalan dengan rencana pengembangan pasar sebagai pusat UMKM dan destinasi wisata belanja.
“Ke depan, Pasar Induk Among Tani direncanakan menjadi mall UMKM sekaligus pasar pariwisata. Setidaknya tersedia rest area bagi pengunjung yang masuk ke Kota Batu, sehingga tidak hanya bertumpu pada kawasan alun-alun. Pengunjung bisa transit di pasar, memanfaatkan fasilitas mandi dan lainnya,” paparnya.
Untuk merealisasikan proyek tersebut, DLH membutuhkan ruang yang representatif. Karena itu, koordinasi dilakukan dengan pengelola pasar pagi dan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM), terutama terkait penataan area parkir belakang.
“Kami membutuhkan space yang cukup. Area parkir belakang harus ditata rapi karena pelaksanaan proyek biodigester ini tentu memerlukan waktu,” ungkapnya.
Dian menambahkan, pada 2027 pihaknya berencana mengajukan proposal melalui LSDP yang mencakup pembangunan enam TPS 3R komunal baru. Salah satu unit akan difungsikan sebagai lokasi biodigester di Pasar Induk Among Tani. (*)
