Pedagogi Baru Mendidik Gen Z

7 Januari 2026 10:13 7 Jan 2026 10:13

Thumbnail Pedagogi Baru Mendidik Gen Z
Oleh: Mohammad Hairul*

Sebagai generasi yang tumbuh dalam tradisi belajar konvensional, guru terbiasa dengan atmosfer kelas yang teratur. Murid duduk rapi, mencatat, dan mendengarkan secara pasif, kemudian diuji. Pola ini memberikan rasa aman karena segala sesuatunya terasa terukur. Namun, zona nyaman tersebut kini terusik oleh kehadiran generasi baru yang membawa dinamika berbeda dalam ruang kelas.

Gen Z dan Alpha yang cenderung lebih kritis, ekspresif, dan berani bertanya, sering kali memicu kegelisahan. Muncul keluhan bahwa anak zaman sekarang sulit diatur. Karakter yang tampak tidak sabaran dirasa sangat kontras dengan kedisiplinan masa lalu. Fenomena ini menjadi tantangan besar bagi guru untuk menjembatani kesenjangan antara nilai ketertiban lama dengan kebutuhan belajar generasi yang lebih dinamis.

Generasi hari ini tumbuh dalam ekosistem dunia TUNA (Turbulence, Uncertainty, Novelty, dan Ambiguity). Perubahan terjadi begitu cepat dan penuh ketidakpastian. Kondisi global ini secara alami membentuk pola pikir yang berbeda. Mereka tidak lagi puas dengan jawaban-jawaban normatif. Bagi mereka, kecepatan arus informasi menuntut pemahaman yang lebih dalam daripada sekadar mengikuti instruksi.

Di tengah kegaduhan tersebut, para murid lebih memprioritaskan relevansi dan makna. Mereka cenderung mempertanyakan "untuk apa" suatu ilmu dipelajari sebelum mendalami "bagaimana" cara menguasainya. Belajar bukan lagi soal mengumpulkan nilai di atas kertas. Mereka berupaya memahami posisi diri agar mampu bertahan di tengah lingkungan yang terus berubah.

Generasi sebelumnya tumbuh dengan budaya kepatuhan. Generasi saat ini justru hidup dalam semangat eksplorasi dan negosiasi makna. Mereka pada dasarnya tidak anti-aturan maupun anti-otoritas. Mereka hanya lebih kritis dalam memahami alasan logis di balik sebuah kebijakan. Bagi mereka, otoritas yang menutup diri dari dialog dianggap usang. Mereka lebih menghargai keterbukaan dalam berinteraksi.

Benturan pendidikan akan terjadi ketika guru masih memilih berdiri di atas "menara otoritas" yang sulit dijangkau, sedangkan murid melangkah jauh di lanskap kolaborasi. Ketidaksinkronan ini menuntut perubahan peran pendidik dari sekadar pemberi instruksi menjadi mitra dialog yang mampu berjalan beriringan dengan dinamika pemikiran murid.

Inti persoalannya bukan pada karakter anak sekarang, melainkan pada kemampuan guru dalam membaca perubahan zaman. Mengajar di era ini bukan lagi tentang siapa yang paling tahu, melainkan tentang siapa yang paling bersedia untuk belajar ulang. Fokus pendidik harus bergeser dari sekadar mempertahankan wibawa lama menuju upaya membangun kepercayaan baru yang lebih relevan.

Pada titik inilah ego seorang guru benar-benar diuji. Kita dihadapkan pada pilihan: tetap bertahan dengan metode lama yang terasa aman namun usang, atau berani melangkah keluar untuk bertumbuh bersama perubahan. Keberanian melepaskan kendali absolut menjadi kunci agar proses belajar tetap memiliki makna bagi generasi masa depan.

Kehadiran Gen Z dan Alpha memaksa para pendidik keluar dari zona nyaman. Bukan untuk menjatuhkan wibawa, namun untuk mengajak terus bertumbuh. Melalui murid, kita diingatkan bahwa peran guru bukanlah sebagai penjaga masa lalu, melainkan sebagai penggerak di tengah perubahan.

Ruang kelas bukan museum tempat menyimpan cara-cara lama, melainkan ruang hidup penuh energi kolaborasi. Saatnya guru hadir sebagai pembelajar abadi yang berjalan beriringan dengan muridnya. Ketika guru bersedia membuka diri, bukan hanya pelajaran yang menjadi lebih hidup, guru pun akan menemukan kembali makna terdalam saat menjalankan profesinya.

Apakah kita membutuhkan pedagogi baru? Jawabannya bukan mengganti seluruh fondasi pendidikan, melainkan memperbarui cara kita memaknainya. Pedagogi sejatinya bukan sekadar metode mengajar, melainkan cara memandang manusia yang belajar. Nilai dasarnya—relasi, makna, dialog, dan pertumbuhan—adalah prinsip abadi yang tidak pernah usang.

Dahulu guru merupakan pusat tunggal pengetahuan, namun kini informasi tersedia melimpah di mana saja. Pergeseran itu menuntut perubahan peran pendidik secara fundamental. Bukan lagi satu-satunya sumber jawaban, melainkan penuntun arah; bukan penguasa kelas, melainkan fasilitator yang membuka ruang berpikir.

Pedagogi kontemporer menuntut perubahan sikap: dari mengajar ke menemani, dari mengatur ke mendengarkan, serta dari menilai ke memahami. Perubahan ini tidak melunturkan wibawa guru. Sebaliknya, wibawa sejati justru terbangun lebih kokoh melalui fondasi kepercayaan dan rasa hormat, bukan lagi didasarkan pada rasa takut atau dominasi kekuasaan.

*) Mohammad Hairul adalah Kepala SMP Negeri 1 Curahdami, Bondowoso, Jawa Timur Sekaligus Instruktur Nasional Literasi Baca-Tulis

**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis

***) Ketentuan pengiriman naskah opini:

  • Naskah dikirim ke alamat email redaksi@ketik.com
  • Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
  • Panjang naskah maksimal 800 kata
  • Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
  • Hak muat redaksi.(*)

Tombol Google News

Tags:

opini Gen Z Mohammad Hairul