KETIK, MALANG – Penataan parkir Kayutangan Heritage tak sekadar membidik nilai estetika. Lebih dari itu, wisata heritage ini disiapkan untuk transformasi Kota Malang sebagai kota metropolitan.
Kendaraan pengunjung tak lagi bebas parkir di sisi jalan sepanjang koridor utama Kayutangan. Seluruh parkir diarahkan ke Gedung Parkir Kayutangan sebagai sentra parkir di kawasan tersebut.
Konsekuensinya, pengunjung harus berjalan kaki dari gedung parkir menuju koridor Kayutangan Heritage. Strategi ini menjadi cara Pemkot Malang mengampanyekan budaya jalan kaki kepada masyarakat.
Hal tersebut dipertegas oleh Kepala Bidang (Kabid) Parkir Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang, Rahmat Hidayat.
"Suka atau tidak suka, kita membiasakan, membudayakan pejalan kaki. Tidak harus orang naik motor atau mobil sampai depan lokasinya. Kalau pas makan bisa beli, terus kelihatan motornya. Ya itu bukan karakter kota besar atau kota metropolitan," ujarnya, Selasa, 13 Januari 2026.
Rahmat menegaskan jarak gedung parkir ke Koridor Kayutangan Heritage relatif dekat. Menurutnya, dengan berjalan kaki, pengunjung bisa lebih menikmati suasana dan memiliki banyak pilihan destinasi.
"Jaraknya nggak terlalu jauh, tempatnya (gedung parkir) strategis," lanjutnya.
Saat ini area kanan jalan Kayutangan Heritage telah steril dari kendaraan. Seluruh kendaraan roda dua (motor) wajib masuk di Gedung Parkir Kayutangan. Sedangkan kendaraan roda empat (mobil) yang tak tertampung di gedung parkir diperkenankan parkir di sisi kiri jalan.
Salah satu pengunjung, Caca, mengaku senang dengan fasilitas parkir baru di Kayutangan. Menurutnya, fasilitas tersebut memudahkan pencarian tempat parkir dan menjamin keamanan kendaraan.
"Lebih aman kayaknya kalau parkir di sana. Cuma ya jalannya memang lebih jauh. Tapi tujuan ke Kayutangan Heritage kan memang untuk jalan-jalan. Mau lihat-lihat orang jualan apa saja yang di trotoar, jadi gak masalah," ujarnya. (*)
