KETIK, JAKARTA – Di balik prosesi sidang adat yang dijalaninya, Pandji Pragiwaksono justru mengaku mendapat pengalaman yang mendalam dari masyarakat Toraja. Ia menyampaikan kesan positif atas sambutan hangat dan keramahan warga selama berada di Tana Toraja.
Pandji menilai masyarakat Toraja menunjukkan sikap terbuka dan dewasa dalam menyikapi persoalan yang terjadi. Meski sempat muncul ketersinggungan akibat materi lawakannya, proses penyelesaian dilakukan melalui dialog adat yang tertib dan bermartabat.
Ia mengungkapkan bahwa keramahan yang diterimanya bukan sekadar formalitas, melainkan cerminan nilai budaya Toraja yang menjunjung tinggi penghormatan terhadap tamu serta penyelesaian masalah secara kolektif. Pengalaman tersebut, menurut Pandji, akan membekas dan menjadi pelajaran penting dalam perjalanan hidup dan kariernya.
"Saya tidak pernah mendapatkan sambutan sehangat ini dari masyarakat adat seperti di Toraja," tutur Pandji seperti dikutip dari Suara.com, jejaring media Ketik.com pada Selasa, 10 Februari 2026.
Bagi Pandji, sidang adat yang dijalani bukan hanya tentang sanksi, tetapi juga ruang refleksi untuk memahami keberagaman budaya di Indonesia.
Sidang adat tidak berhenti pada formalitas permohonan maaf. Proses tersebut diwarnai sesi tanya jawab yang intens antara Pandji dan perwakilan dari 32 wilayah adat se-Toraja sebagai bagian dari mekanisme klarifikasi dan refleksi bersama.
"Proses adat Toraja yang saya jalani ini memberikan contoh bagaimana kearifan lokal dapat menjadi sarana edukasi sekaligus rekonsiliasi," ujarnya.
Pengalaman di Toraja ini disebut Pandji sebagai pengingat bahwa dialog budaya dan sikap saling menghormati tetap menjadi kunci dalam menjaga keberagaman di tengah ruang publik yang semakin terbuka.
