KETIK, PROBOLINGGO – Pagi di Probolinggo, pada era 1980 hingga 1990 an selalu diwarnai irama dan pemandangan yang sama. Mesin angkutan kota meraung pelan. Disusul kemudian klakson pendek seperti memberi tanda hari telah dimulai. Jalanan kala itu juga belum padat seperti sekarang. Tapi denyut kehidupan sudah terasa.
Angkot hilir mudik tanpa henti, membawa cerita dari satu sudut kota ke sudut lainnya. Di masa itu, angkot bukan sekadar kendaraan tapi penghubung kehidupan. Semua orang mengandalkannya. Tidak peduli status sosial, semua duduk berdampingan dalam satu ruang sempit yang justru terasa hangat.
Tidak ada sekat. Tidak ada pilihan lain. Dan justru di situlah keistimewaannya. Demikian kata Rusman, warga Jalan Cokroaminoto, kota setempat. Usianya kini 48 tahun, tapi memori masa remajanya tetap utuh. Ia tersenyum saat diminta bercerita. “Dulu itu, kalau pagi, angkot pasti penuh. Kita kadang harus berdiri. Tapi ya sudah biasa,” katanya.
Bagi Rusman, perjalanan naik angkot bukan hanya soal berpindah tempat. Di situ ia juga belajar mengenal kehidupan. “Kadang kita dengar orang ngobrol macam-macam. Ada yang cerita kerjaan, ada yang cerita keluarga. Sopirnya juga kenal penumpang. Kalau kita langganan, dia hafal kita,” katanya.
Ia mengingat bagaimana sopir angkot bisa memanggil penumpang dari kejauhan. Bahkan tak jarang menunggu. “Kalau kita telat sedikit, diteriaki, disuruh cepat. Itu sudah biasa. Rasanya dekat saja,” imbuhnya saat dijumpai ketik.com Minggu 5 April 2026.
Angkot, dalam ingatan pemilik toko onderdil motor itu, seperti ruang sosial yang bergerak. Orang asing bisa terasa seperti tetangga. Percakapan mengalir tanpa dibuat-buat. Semua terasa alami.
Cerita yang sama juga dirasakan Sulastri, kini seorang guru di MAN 2 Kota Probolinggo. Ia mengenang masa sekolahnya yang tak pernah lepas dari angkot. “Setiap hari saya naik angkot. Tidak ada pilihan lain. Tapi justru itu yang membuat semuanya terasa biasa dan aman,” ujarnya.
Pagi hari dan pulang sekolah waktu paling ramai. Pelajar dari berbagai sekolah memenuhi angkot. “Kadang satu angkot hampir semuanya anak sekolah. Seragam beda-beda, tapi tujuannya sama,” katanya.
Di dalam perjalanan itu, lanjut Sulastri, ada tawa, ada cerita, bahkan ada kecemasan kecil saat menghadapi ulangan. “Kadang masih sempat belajar di angkot. Itu momen yang sekarang sudah jarang,” tambah ibu dua anak itu.
Saat itu, orang tua juga merasa tenang. Angkot menjadi moda utama yang dipercaya. “Semua orang pakai. Jadi terasa aman,” kenang Sulastri.
Rudi, warga Ketapang, punya cerita berbeda. Ia menggunakan angkot untuk bekerja ke PG Wonolangan, di Dringu, Kabupaten Probolinggo. Baginya, angkot adalah penghubung antara rumah dan penghidupan. “Setiap hari saya naik angkot. Tidak pernah susah. Keluar rumah, tunggu sebentar, pasti ada,” kata kakek berusia 66 tahun itu.
Perjalanan itu mungkin sederhana, tapi punya arti besar. “Yang penting sampai kerja. Itu saja sudah cukup,” sergahnya. Ia tidak terlalu memikirkan kenyamanan saat menempuh perjalan sekitar 7 kilo meter setiap hari, itu. Panas, penuh, atau berdesakan adalah hal biasa. “Semua orang juga begitu. Jadi ya tidak masalah,” lanjut Rudi.
Samsul Hadi, punya cerita yang tak kalah kuat tentang masa ketika angkutan kota menjadi urat nadi kehidupan. Pria yang pernah bekerja di PT Kertas Leces Probolinggo, itu menggantungkan perjalanannya setiap hari pada angkot. Dari rumahnya di kawasan Brak, Jalan Panglima Sudirman, Probolinggo, ia memulai rutinitas sejak pagi buta.
“Dulu setiap berangkat kerja, saya pasti naik angkot. Jarak dari rumah ke pabrik sekitar 12 kilo meter. Tidak pernah susah. Keluar rumah, jalan sedikit, pasti sudah ada angkot yang lewat,” kenangnya.
Perjalanannya tidak langsung sampai. Ia harus turun di Desa Jorongan, lalu melanjutkan dengan angkutan lain menuju kawasan Leces, tempat pabrik berdiri. Meski harus berganti kendaraan, semua terasa mudah di masa itu. “Sudah biasa oper. Tidak pernah bingung. Angkotnya banyak, jadi tinggal tunggu saja sebentar,” katanya.
Bagi Samsul, perjalanan itu bukan soal nyaman atau tidak. Yang penting adalah sampai ke tempat kerja tepat waktu. “Yang penting sampai kerja. Itu saja. Mau panas, penuh, ya sudah biasa,” ujarnya tegas. Ia mengingat bagaimana suasana di dalam angkot selalu ramai. Para pekerja, pedagang, hingga pelajar bercampur dalam satu ruang.
“Semua orang sama. Tidak ada yang pilih-pilih. Semua naik angkot,” lanjutnya.
Kini, kenangan itu tinggal cerita. Jalur yang dulu ramai, kini tak lagi seramai dulu. Namun bagi Samsul, masa itu adalah bagian penting dari hidupnya. Masa ketika perjalanan sederhana justru terasa paling berarti.
Namun waktu tidak pernah berhenti. Kota berubah. Jalanan yang dulu dipenuhi angkot kini dikuasai kendaraan pribadi. Sepeda motor menjadi raja baru jalanan. Hampir setiap rumah memiliki lebih dari satu motor. Mobil pribadi pun semakin banyak. Perubahan ini perlahan tapi pasti menggeser angkot. Masyarakat mulai memilih yang lebih cepat, lebih praktis, dan lebih privat.
Data terbaru menunjukkan betapa besar perubahan itu. Berdasarkan data resmi Korlantas Polri tahun 2025, jumlah kendaraan di Kota Probolinggo, mencapai sekitar 288 ribu unit. Dari jumlah itu, sekitar 174 ribu adalah sepeda motor, dan 104 ribu merupakan mobil pribadi. Sisanya kendaraan barang dan bus.
Angka ini bahkan melebihi jumlah penduduk kota. Artinya, kendaraan pribadi kini menjadi pilihan utama, bukan lagi angkutan umum. Rusman dan Samsul Hadi, merasakan perubahan itu dengan jelas. “Sekarang sepi. Kadang lama sekali nunggu angkot,” kata Rusman.
Sementara Sulastri melihat dampaknya pada pelajar. “Sekarang anak-anak lebih banyak diantar orang tua atau pakai motor dan sepeda listrik. Sudah jarang yang naik angkot,” katanya. Rudi juga mengakui hal yang sama. “Orang sekarang maunya cepat. Motor lebih praktis,” ucap pria sudah memiliki 4 cucu itu.
Kini para sopir angkot mulai merasakan tekanan. Pendapatan menurun. Penumpang semakin sedikit. Banyak yang bertahan, tapi tidak sedikit yang menyerah.
Kondisi ini sampai ke Tommy Wahyu Prakoso. Ketua DPC PDIP Kota Probolinggo, itu menerima langsung keluhan para sopir yang tergabung dalam Asosiasi Sopir Angkot Probolinggo (ASAP), pada Sabtu 4 April 2026 malam.
Dari situ, ia melihat persoalan ini bukan sekadar soal transportasi, tapi juga soal ekonomi masyarakat kecil. Menurutnya, masalah angkot yang kini tinggal sekitar 80 an unit yang masih beroperasi, tidak bisa diselesaikan dengan cara lama. Harus ada perubahan sistem menyeluruh.
Di hadapan pengurus ASAP, antara lain Ketua Jaenul Hasan dan Sektretaris nya Dodik Suyudi, Tommy, didampingi Heri, juga pengurus DPC PDIP, berjanji membahas masalah tersebut bersama fraksi PDIP DPRD Kota Probolinggo. Tak hanya itu dorongan agar angkot tidak lagi berjalan dengan pola ngetem, melainkan berubah menjadi transportasi terjadwal, juga dia sampaikan.
Kata pria juga Ketua Organda Kota Probolinggo itu, sopir harusnya tidak lagi bergantung pada setoran, tapi digaji dengan sistem yang lebih pasti. Dengan begitu, tidak ada lagi keharusan menunggu penumpang penuh. Selain itu, Tommy, juga menekankan pentingnya transformasi armada.
Angkot yang sudah tua perlu diganti dengan kendaraan yang lebih layak, bersih, dan nyaman. Tidak harus banyak, tapi kualitas harus ditingkatkan. Penataan trayek juga menjadi perhatian. Jalur harus difokuskan pada titik-titik padat seperti sekolah, pasar, dan perkantoran.
Angkot tidak lagi menjadi moda utama, melainkan penghubung atau feeder yang terintegrasi. Soal tarif, ia mendorong skema yang lebih menarik. Tarif murah, bahkan gratis untuk pelajar pada jam tertentu, bisa menjadi cara menarik kembali penumpang. Subsidi dari pemerintah daerah dinilai penting pada tahap awal.
Bahkan sentuhan teknologi juga dianggap perlu, meski sederhana. “Informasi jadwal, pelacakan posisi, hingga pembayaran non-tunai bisa mulai diterapkan secara bertahap. Yang tak kalah penting adalah perubahan citra. Istilah angkot yang sudah melekat dengan kesan lama perlu diganti dengan nama baru yang lebih modern. Warna, logo, hingga seragam sopir menjadi bagian dari pembenahan ini,” kata dia.
Namun, ia menegaskan jika sopir dan pemilik angkot tidak boleh ditinggalkan. Mereka harus dilibatkan dalam sistem baru. Bisa melalui koperasi atau badan usaha, sehingga tetap memiliki peran dan penghasilan. “Langkah awal, tidak perlu langsung besar. Cukup satu trayek sebagai uji coba. Sepuluh hingga lima belas armada. Dari situ dievaluasi, lalu dikembangkan,” kata pria berkacamata minus itu.
Tommy, juga menyinggung pentingnya menciptakan permintaan. ASN, pelajar, hingga kegiatan kota bisa diarahkan untuk menggunakan transportasi umum. Di sisi lain, kendaraan pribadi juga perlu diatur. Tanpa itu, transportasi umum akan selalu kalah.
Di tengah wacana itu, ada juga perhitungan yang mulai muncul. Jika satu unit kendaraan baru dihargai sekitar Rp150 juta, maka untuk 250 unit angkot dibutuhkan sekitar Rp37,5 miliar. Angka ini bisa meningkat menjadi Rp40 hingga Rp45 miliar jika ditambah biaya lain seperti sistem digital, pelatihan, dan operasional awal.
Namun, investasi itu tidak harus dilakukan sekaligus. Bisa bertahap. Dimulai dari skala kecil, lalu berkembang. Di sisi lain, ada juga pemikiran tentang masa depan para pemilik dan sopir angkot jika perubahan terjadi. Mereka tidak harus kehilangan pekerjaan. Ada banyak opsi yang bisa dikembangkan. Dari menjadi bagian sistem transportasi baru, masuk ke sektor logistik, menjadi pengemudi transportasi online, hingga usaha berbasis kendaraan.
"Yang terpenting, perubahan dilakukan secara bertahap. Tidak mendadak. Harus ada pelatihan, pendampingan, dan dukungan," kata Tommy. “Angkot mungkin tidak lagi berjaya seperti dulu. Tapi ia pernah menjadi bagian penting dari kehidupan kota,” ujarnya usai menerima para sopir angkot di Kantor DPC PDIP Kota Probolinggo, di JL Brantas. (*)
