KETIK, BLITAR – Keputusan pembekuan kepengurusan Majelis Wakil Cabang (MWC) Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Sutojayan oleh Pengurus Cabang NU Kabupaten Blitar tak serta-merta menghentikan denyut kegiatan keagamaan di tingkat akar rumput.
Di tengah polemik organisasi, para kiai dan jamaah NU di Sutojayan justru memilih tetap bergerak, merawat umat seperti sediakala.
Sikap tersebut mengemuka dalam peringatan Satu Abad NU yang digelar di Masjid NU Sutojayan, Sabtu malam 31 Januari 2026. Ratusan warga Nahdliyin memadati masjid, mengikuti istighotsah dan selamatan yang berlangsung khidmat.
Ketua MWC NU Sutojayan, Kiai Sonhaji, menegaskan bahwa perbedaan pandangan di tubuh NU seharusnya disikapi dengan kebijaksanaan, bukan saling meniadakan.
“Di NU, beda pendapat itu biasa dan justru menjadi rahmat. Yang utama adalah adab kepada para kiai dan keberlanjutan khidmah kepada umat,” ujar Kiai Sonhaji di hadapan jamaah.
Menurutnya, surat pembekuan kepengurusan tidak berdampak pada aktivitas keagamaan dan sosial yang selama ini dijalankan MWC bersama badan otonom NU.
“Kalau organisasi di tingkat MWC berhenti, lalu siapa yang akan mengurusi umat di bawah?” ucapnya retoris.
Ia menjelaskan, perbedaan pandangan antara MWC NU Sutojayan dan PC NU Kabupaten Blitar berawal dari hasil Musyawarah Cabang NU tahun 2023. Dalam forum tersebut, Kiai Arief Fuadi disebut memenangkan pemilihan secara prosedural dan sesuai aturan organisasi, namun hingga kini belum dilantik.
Situasi itu memicu sikap kolektif dari pengurus NU di tingkat kecamatan. Kiai Sonhaji menyebut seluruh pengurus ranting telah menyatakan sikap bersama.
“Kami sepakat tetap menjalankan kegiatan. Khidmah kepada umat tidak boleh berhenti hanya karena persoalan administratif,” tegasnya.
Solidaritas antar-kiai pun terlihat malam itu. Ketua MWC NU Srengat, Kiai Hanafi, hadir langsung dan menyampaikan keprihatinannya atas dinamika yang terjadi.
“Kalau ada perbedaan pandangan, mestinya ditempuh dengan tabayun dan musyawarah. NU itu rumah besar, jangan sampai retak karena salah kelola,” katanya.
Dukungan juga datang dari MWC NU Kanigoro. Wakil Ketua MWC, Kiai Ismail, menilai keputusan pembekuan berpotensi mencederai nilai demokrasi organisasi.
“Yang kami jaga bukan soal figur, tapi marwah NU. Proses musyawarah harus dihormati agar organisasi tetap sehat,” ujarnya.
Sementara itu, perwakilan Rois Syuriyah NU Ranting Sumberejo menyampaikan sikap tegas mengikuti keputusan para kiai.
“Kami sami’na wa atho’na kepada para kiai. Kalau hasil musyawarah dulu memenangkan Kiai Arief Fuadi, itu yang kami pegang,” katanya.
Acara peringatan satu abad NU di Sutojayan juga dihadiri unsur Forkopimcam, di antaranya Kapolsek Lodoyo Timur, Danramil Sutojayan, dan Camat Sutojayan. Sejumlah tokoh masyarakat dan politisi turut hadir, termasuk Wakil Ketua DPRD Kabupaten Blitar Gus Rifai.
Dalam pernyataannya, Gus Rifai mengibaratkan posisi Kiai Arief Fuadi seperti atlet yang menang namun belum menerima penghargaan.
“Ibarat menang pertandingan, tapi pialanya belum diserahkan,” ujarnya.
Adapun Kiai Arief Fuadi, yang hadir sebagai tokoh sentral dalam acara tersebut, menegaskan bahwa perjuangan di NU tidak berorientasi pada jabatan.
“Pengurus NU di tingkat bawah itu bekerja tanpa gaji. Tidak ada yang berebut kursi. Ini murni pengabdian untuk umat,” tandasnya.(*)
