KETIK, BLITAR – Langit siang di Wlingi seolah ikut bergetar oleh semangat ribuan warga yang memadati Ruang Terbuka Hijau (RTH) Wlingi, Kabupaten Blitar, Rabu, 18 Maret 2026. Puluhan ogoh-ogoh dengan rupa beragam diarak dalam pawai yang menjadi bagian dari rangkaian Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1947.
Bupati Blitar, Rijanto, secara langsung memberangkatkan pawai budaya tersebut. Hadir pula Wakil Bupati, jajaran Forkopimda, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Blitar, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta ratusan peserta yang terlibat dalam kemeriahan itu.
Dalam sambutannya, Rijanto menegaskan bahwa pawai ogoh-ogoh bukan sekadar tontonan, melainkan representasi nilai luhur yang hidup di tengah masyarakat.
“Ini bukan hanya pawai budaya, tapi wujud kreativitas, gotong royong, dan pesan moral tentang bagaimana manusia mengendalikan sifat negatif demi kehidupan yang harmonis,” ujarnya.
Sebanyak 54 ogoh-ogoh dengan berbagai karakter diarak mengelilingi kawasan Taman Idaman Hati. Bentuknya beragam dari figur raksasa hingga simbol-simbol mitologis yang mencerminkan kreativitas tinggi para peserta.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Upacara Tawur Agung Kasanga, yang sebelumnya diawali dengan prosesi Melasti di Pantai Jolosutro. Rangkaian tersebut menjadi pembuka sebelum umat Hindu menjalankan Catur Brata Penyepian saat Hari Raya Nyepi.
Ketua panitia, Triyoko, menjelaskan bahwa pelaksanaan tahun ini sengaja menyesuaikan waktu agar tetap menghormati umat Muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa.
“Peserta sebenarnya banyak, tapi kami batasi karena waktunya berdekatan dengan berbuka puasa. Ini bentuk toleransi kami,” jelasnya.
Menariknya, antusiasme tidak hanya datang dari umat Hindu. Warga lintas agama turut memadati sepanjang rute pawai. Salah satunya Arif, warga Wlingi, yang mengaku selalu menantikan momen ini setiap tahun.
“Seru, ogoh-ogohnya selalu beda. Ini sekalian ngabuburit, jadi makin ramai,” katanya.
Di sejumlah titik, lautan manusia tampak berdesakan menyaksikan iring-iringan ogoh-ogoh. Usai pawai, beberapa ogoh-ogoh akan dibakar sebagai simbol pemurnian diri dari energi negatif.
Rijanto menilai kegiatan ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai agenda wisata budaya unggulan di Kabupaten Blitar.
“Kalau dikemas dengan baik, ini bisa menarik wisatawan dan menggerakkan ekonomi masyarakat, terutama UMKM dan pedagang kecil,” ungkapnya.
Ia berharap, ke depan pawai ogoh-ogoh bisa terus berkembang, baik dari sisi kreativitas maupun pengelolaan event, sehingga menjadi agenda tahunan yang dinanti masyarakat.(*)
