KETIK, JAKARTA – Simone de Beauvoir merupakan filsuf dan feminis dari Prancis yang dikenal akrab oleh masyarakat luas dari karyanya, The Second Sex. Dalam karya tersebut membedah keliyanan perempuan dan akar dari opresi (perlakuan kejam dan tidak adil) terhadap perempuan.
Beauvoir juga dikenal sebagai partner intelektual dari filsuf Jean Paul Sartre. Keduanya saling berbagi pikiran terkait filsafat eksistensialisme.
Gagasan Sartre tentang ke-Ada-an manusia menjelaskan bahwa dalam relasi dengan orang lain, manusia sering memandang dirinya sebagai subjek dan melihat orang lain sebagai objek atau Liyan. Manusia berusaha mempertahankan dirinya sebagai subjek bebas, tetapi selalu berhadapan dengan kesadaran orang lain yang juga ingin menjadi subjek.
Dalam menempatkan dirimu sebagai Diri, setiap Diri menggambarkan dan mengatur peran bagai Liyan. Singkatnya, subjek membangun dirinya sendiri sebagai transenden dan bebas, dan memandang Liyan sebagai imanen dan diperbudak.
Bagi seorang Eksistensialis seperti Sartre, eksistensi mendahului esensi. Manusia hanyalah organisme hidup yang tidak punya bentuk ajeg hingga menciptakan identitas yang terpisah dan esensial bagi diri sendiri melalui tindakan yang sadar.
Beauvoir mengemukakan laki-laki kerap dianggap sebagai Diri, dan perempuan adalah Liyan. Agar laki-laki merasa bebas, mereka melakukan subordinasi terhadap perempuan.
Melalui bukunya The Second Sex, Beauvoir menganalisis bagaimana perempuan inferior terhadap laki-laki. Anggapan tersebut bukan semata berasal dari faktor biologis.
Tubuh perempuan memang memiliki fungsi biologis yang berbeda, terutama dalam hal reproduksi. Namun perbedaan biologis tersebut sering kali dijadikan dasar untuk menempatkan perempuan pada peran yang lebih sempit, seperti hanya dikaitkan dengan fungsi keibuan atau domestik.
Beauvoir juga mengkritik pandangan psikoanalisis dari Sigmund Freud yang menjelaskan posisi perempuan melalui konsep “penis envy”. Perempuan menjadi Liyan bukan karena tidak memiliki penis, namun tidak memiliki kekuasaan yang umumnya dimonopoli oleh laki-laki.
Ia berkata, "baik untuk menuntut perempuan tidak merasa rendah karena datang bulannya, merasa konyol karena kehamilannya. Bahwa perempuan dapat bangga akan rubuh, seksualitas perempuannya."
Menurutnya perempuan memiliki hal penuh untuk bangga menjadi perempuan. Tubuh perempuan tidak harus mendasari cara bereksistensi yang ajeg bagi perempuan. Hal tersebut disebabkan perempuan harus membentuk cara bereksistensi sendiri yang seringkali berbeda dengan perempuan lain.
Beauvoir juga menegaskan meskipun terdapat berbagai pembatasan situasi hukum, politik, ekonomi, sosial dan budaya, perempuan tetap memiliki kemungkinan untuk menjadi subjek yang bebas.
Artinya, perempuan diminta melepaskan semua beban yang menghambat kemajuan menuju Diri yang autentik. Beban tersebut dapat diringankan melalui pemberdayaan kolektif.
Bahwa tidak ada seseorang maupun sesuatu yang dapat menghambat perempuan dengan ketetapan hati untuk maju.
(Sumber: Rosemarie Putnam Tong, Feminist Thought)
