KETIK, MALANG – Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Universitas Islam Malang (Unisma), Deonaldo Maria Pacheco sukses menjadi fellow dalam ASEAN 1967 Fellowship 2026. Ia ikut berpartisipasi dalam diskusi energi berkelanjutan di forum global.
ASEAN 1967 Fellowship 2026 merupakan program bergengsi dari SEA Bridge NextGen Fellowship dan diselenggarakan oleh SEA Bridge Institute of Entrepreneurship. Fellowship musim panas intensif ini mempertemukan anak muda dari negara ASEAN untuk mengembangkan kewirausahaan, ekspansi pasar regional, hingga menguatkan ekosistem ekonomi lintas negara.
"Jadi saya bukan hanya ikut sebagai peserta, tetapi juga diterima sebagai full-time on-site participant di Thailand dan ditempatkan dalam Regional Entrepreneurial Management Division. Fokus pada pengelolaan inisiatif kolaborasi regional, penguatan ekosistem bisnis, serta pengembangan strategi pertumbuhan pasar di kawasan Asia Tenggara," ujarnya, Rabu, 25 Maret 2026.
Capaian tersebut membawanya menjadi mahasiswa Unisma pertama yang bergabung dalam ASEAN 1967 Fellowship 2026 sekaligus mewakili Timor Leste pada cohort 2026. Deonaldo sendiri mengaku tertarik dengan isu keberlanjutan dan energi terbarukan. Tak heran jika ia mampu tergabung dalam berbagai forum internasional, termasuk IRENA Youth Forum 2026 di Abu Dhabi serta Southeast Asia Youth Energy Forum (SAYEF) di Malaysia.
"Perkuliahan di Pendidikan Bahasa Inggris membuat saya memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuan komunikasi lintas budaya dan kepemimpinan global. Saya ikut diskusi mengenai transisi energi berkelanjutan serta pentingnya keterlibatan generasi muda dalam merumuskan kebijakan energi di kawasan Asia Tenggara," jelasnya.
Di forum SAYEF, para peserta melakukan Handover Declaration yang memberikan rekomendasi terkait percepatan implementasi Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 7 (Clean Energy) dan SDG 13 (Climate Action). Di Unisma, ia mendapat bekal untuk berkomunikasi efektif, memahami konteks budaya yang beragam, serta menyampaikan gagasan secara persuasif—keterampilan yang sangat dibutuhkan dalam forum global.
“Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga jembatan untuk membangun kolaborasi dan menyampaikan gagasan yang dapat membawa perubahan,” pungkasnya. (*)
