Catatan Perjalanan Jurnalis Ketik.com dari Makkah

Legenda Bakso Mang Oedin: Tiga Dekade Menjaga Lidah Nusantara di Jantung Jeddah

Laporan Muhsin Budiono

21 Maret 2026 21:43 21 Mar 2026 21:43

Thumbnail Legenda Bakso Mang Oedin: Tiga Dekade Menjaga Lidah Nusantara di Jantung Jeddah

Generasi Kedua Penerus Bakso Mang Oedin: Diding Suwandi Al Bantany (kiri) melayani transaksi jemaah Umroh asal Indonesia di kedai barunya di Corniche Commercial Center, Al Balad, Jeddah, Saudi Arabia. Bakso Mang Oedin, yang legendaris, kini dikelola oleh Kang Iding setelah 30 tahun melayani lidah Nusantara di tanah suci. (Foto: Muhsin Budiono/Ketik.com)

KETIK, JAKARTA – Aroma kuah kaldu yang gurih menyeruak di tengah hiruk-pikuk kawasan Corniche Commercial Center, Al Balad. Di tengah suhu Jeddah yang mulai menghangat pada hari kedua Idul Fitri 1447 H ini, sebuah kedai bakso tak pernah sepi dari kepungan jemaah Umroh asal Indonesia.

Inilah Bakso Mang Oedin, destinasi kuliner yang bagi banyak jemaah sudah dianggap sebagai "prosedur tetap" sebelum terbang kembali ke tanah air melalui Bandara King Abdulaziz.

Estafet Rasa dari Pasar Seng

"Baru pindahan minggu ini dari kavling sebelah, supaya pembeli lebih nyaman," ujar Diding Suwandi Al Bantany kepada jurnalis Ketik.com, Muhsin Budiono, Sabtu 21 Maret 2026.

Sosok yang akrab disapa Kang Iding ini adalah nakhoda generasi kedua. Ia meneruskan tongkat estafet dari ayahnya, Haji Mahmudin, yang sudah "babat alas" berjualan bakso di Makkah sejak 30 tahun silam.

​Sejarah Mang Oedin adalah sejarah adaptasi. Mereka memulai kejayaan di Pasar Seng yang legendaris sebelum kawasan itu rata dengan tanah demi perluasan Masjidil Haram pada 2008. Kini, meski lokasinya bertambah dan berekspansi ke pusat grosir Corniche commercial center, Al Balad, memori rasa itu tetap terkunci rapat di hati para pelanggan setianya.

Slogan Ikhlas di Tengah Kompetisi Marketing

Foto Puluhan jemaah Umroh asal Indonesia memadati kedai Bakso Mang Oedin di Corniche Commercial Center, Al Balad, Jeddah, pada hari kedua Idul Fitri 1447H. Kedai yang telah berdiri selama tiga dekade ini seakan menjadi destinasi kuliner wajib bagi jemaah sebelum kembali ke tanah air. (Foto: Muhsin Budiono/Ketik.com)Puluhan jemaah Umroh asal Indonesia memadati kedai Bakso Mang Oedin di Corniche Commercial Center, Al Balad, Jeddah, pada hari kedua Idul Fitri 1447H. Kedai yang telah berdiri selama tiga dekade ini seakan menjadi destinasi kuliner wajib bagi jemaah sebelum kembali ke tanah air. (Foto: Muhsin Budiono/Ketik.com)

Ada satu hal unik yang mungkin terlewat oleh mata yang terburu-buru: sebuah banner bertuliskan "Bayar yang Anda ingat, yang lupa kami ikhlaskan". Slogan ini mencerminkan sistem kepercayaan yang kontras dengan hiruk-pikuk bisnis di sekitarnya.

​Di koridor Al Balad, kompetisi memang ketat. Toko-toko dengan label "Ali Murah" atau "Zia Murah" bertebaran, lengkap dengan pelayan yang fasih berbahasa Indonesia sebuah strategi pemasaran jitu untuk menggaet jemaah Indonesia yang seringkali terkendala bahasa Arab. Namun, Mang Oedin menawarkan lebih dari sekadar komunikasi; mereka menawarkan suasana rumah.

Seluruh pegawai Kedai Mang Oedin cakap berbahasa Indonesia dan ramah dalam menyambut pengunjung yang datang.

Uji Rasa: Antara Kekenyalan dan Sambal

Jurnalis Ketik.com Muhsin Budiono berpose di depan pintu masuk Bakso Mang Oedin, sebuah kedai yang telah "babat alas" melayani jemaah haji dan umroh selama tiga dekade. Kehadiran kedai ini di koridor Al Balad bukan sekadar bisnis kuliner, melainkan titik temu kebudayaan dan rumah bagi jemaah yang merindukan masakan tanah air. (Foto: Dok Muhsin B/Ketik.com)

Bagi dr Ardliani, salah satu pengunjung asal Sidoarjo, Jawa Timur yang kami wawancarai, semangkuk bakso di kedai Mang Oedin adalah pengobat rindu masakan tanah air.

"Struktur kekenyalan baksonya mantap, dagingnya terasa nikmat," ungkapnya.

Meski demikian, sebagai pecinta pedas, ia memberikan catatan kecil. "Kuahnya lezat, hanya saja sambalnya kurang nendang. Mungkin menyesuaikan selera lokal Saudi yang tidak terlalu suka pedas."

​Menariknya, kedai ini kini tak lagi hanya menjual bakso. Kang Iding melakukan diversifikasi menu mulai dari Mie Ayam, Rice Bowl Teriyaki, hingga Udang Saus Padang. Bahkan, transaksi pun bisa dilakukan dengan Rupiah bagi jemaah yang sudah kehabisan Riyal di hari-hari terakhir perjalanan mereka.

Diplomasi Bakso Multinasional

Meski menyajikan cita rasa Nusantara, operasional Mang Oedin adalah potret keberagaman. Kang Iding mempekerjakan belasan karyawan dari berbagai negara, termasuk Bangladesh, Filipina, hingga Afganistan.

Saat ini, ia mengelola empat cabang, termasuk Bakso Boss8055 di Kilometer 200 Al Mawaridh dan cabang lainnya di kota sejuk, Thaif.

Di bawah kepemimpinan Kang Iding, Bakso Mang Oedin bukan sekadar tempat makan. Ia adalah titik temu kebudayaan, sebuah bukti bahwa di manapun orang Indonesia berada, semangkuk bakso hangat akan selalu menjadi bahasa persatuan yang paling universal. (*)

Tombol Google News

Tags:

Ramadandimakkah Lebarandimakkah Bakso Mang Oedin Kuliner Jeddah Jemaah umroh Al Balad Corniche Commercial Center Diding Suwandi Al Bantany Haji Mahmudin Sejarah Pasar Seng Kuliner Nusantara di Arab Saudi Wisata Religi Idul Fitri 1447H Diplomasi Kuliner Bakso Boss8055 Kuliner Makkah Bayar Pakai Rupiah di Jeddah