KETIK, MALANG – Langkah perjuangan Laskar Hizbullah di Malang, tentu tak lepas dari markasnya yang historis yaitu Masjid Al-Mukarromah Kasin, Kota Malang. Pasalnya, masjid yang terletak di Jalan Arif Margono, Kecamatan Klojen ini memiliki desain dan infrastruktur yang memukau.
Perjalanan pembangunan tentu tak lepas dari perjalanan sejarah. Sebelum menjadi masjid, bangunan tersebut masih berupa langgar atau musala tempat orang berkumpul untuk melaksanakan ibadah salat berjamaah.
"Dulunya ini sebuah langgar atau musala, selain sebagai tempat beribadah juga sebagai markas. Seiring berjalannya waktu sampai merdeka, tempat ini semakin sering dijadikan tempat salat," ujar Ketua Umum Takmir Masjid Al-Mukarromah, Iskandar kepada Ketik.com.
Masjid itu diresmikan langsung oleh KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur pada 8 Mei 1997 sekaligus menandai tranformasi dari langgar atau musala ke masjid. Tak lama setelahnya, Masjid Al-Mukarromah diresmikan sebagai Monumen Laskar Hizbullah oleh Wali Kota Malang saat itu, H.M. Soesamto pada 15 Agustus 1997.
Banyak versi sejarah tentang perkembangan Laskar Hizbullah di Malang, ini. Namun, bangunan Masjid Al-Mukarromah terus berkembang dan bermanfaat bagi masyarakat.
Karena berawal dari sebuah langgar, maka desain bangunan memang kental dengan nuansa Jawa. Penggunaan kayu dan desain jendela khas Jawa, menjadi hal yang menambah keindahan bagian masjid.
"Dari berbagai cerita warga asli kampung sini, memang sudah difokuskan sebagai tempat ibadah, arsitektur kemudian diakulturasikan dengan nuansa masjid arab. Sehingga kini, Masjid Al-Mukarromah dikenal dengan bentuk akulturasi desain dari masjid jawa dan arab," bebernya.
Selain area tempat beribadah, di kawasan Masjid Al-Mukarromah juga terdapat makam bersejarah yang merupakan tempat peristirahatan terakhir Pangeran Fadluddin atau Mbah Muhammad Djalalain.
Oleh sebab itu, Masjid Al-Mukarromah juga menjadi lokasi utama dilaksanakannya peringatan haul almarhum Mbah Muhammad Djalalain.
"Masjid kami saat ini luasnya sudah sekitar 12×12 meter persegi dengan dua lantai. Ini sudah dilakukan pembebasan dengan membeli rumah warga yang menempel masjid untuk perluasan. Kalau saat ini, area masjid bisa menampung sekitar 400 hingga 500 orang dan bisa penuh saat Haul Mbah Muhammad," pungkasnya. (*)
