KETIK, MALANG – Reda Gaudiamo merupakan seorang seniman Indonesia yang juga penulis sebuah buku best seller bertajuk Na Willa. Reda juga dikenal sebagai musisi yang gemar melakukan musikalisasi puisi karya-karya maestro sastra.
Nama Reda Gaudiamo kembali diperbincangkan usai bukunya, Na Willa dialihwahanakan menjadi sebuah film dengan judul yang sama. Dalam karya tersebut, Reda mencoba mengisahkan kehidupan anak-anak yang menyenangkan dan juga penuh akan makna.
Adapun kariernya sebagai musisi ditampilkan dengan membentuk grup duo AriReda bersama Almarhum Ari Malibu. Banyak puisi-puisi indah yang berhasil mereka gubah menjadi lagu. Mempermudah penikmat sastra untuk menghayati makna dari puisi-puisi tersebut.
Berikut adalah beberapa playlist musikalisasi puisi yang dibawakan oleh Reda Gaudiamo dalam grup AriReda!
1. Hujan Bulan Juni (Sapardi Djoko Damono)
Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu
Tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
Tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
2. Pada Suatu Hari Nanti (Sapardi Djoko Damono)
Pada suatu hari nanti,
Jasadku tak akan ada lagi,
Tapi dalam bait-bait sajak ini,
Kau tak akan kurelakan sendiri.
Pada suatu hari nanti,
Suaraku tak terdengar lagi,
Tapi di antara larik-larik sajak ini
Kau akan tetap kusiasati
Pada suatu hari nanti,
Impianku pun tak dikenal lagi,
Namun di sela-sela huruf sajak ini,
Kau tak akan letih-letihnya kucari
3. Ketika Jari-Jari Bunga Terbuka
ketika jari-jari bunga terbuka
mendadak terasa: betapa sengit
cinta Kita
cahaya bagai kabut, kabut cahaya; di langit.
menyisih awan hari ini: di bumi
meriap sepi yang purba;
ketika kemarau terasa ke bulu-bulu mata, suatu pagi
di sayap kupu-kupu, di sayap warna.
suara burung di ranting-ranting cuaca,
bulu-bulu cahaya: betapa parah
cinta Kita
mabuk berjalan, di antara jerit bunga-bunga rekah
4. Sajak Cinta (Todung Mulya Lubis)
Kau tahu matamu itu
Sinar rembulan yang tak tidur
Di waktu malam
Kau tahu rambut hitammu
Hutan yang tak gundul di kemarau panjang
Kau tahu keringatmu itu
Aroma harum kehidupan
Menyambung zaman
Kau tahu matamu itu
Sinar rembulan yang tak tidur
Di waktu malam
Kau tahu rambut hitammu
Hutan yang tak gundul di kemarau panjang
Kau tahu keringatmu itu
Aroma harum kehidupan
Menyambung zaman
5. Ranjang (Todung Mulya Lubis)
Sebuah dermaga
di mana rindu
dilabuhkan
Sesudah itu
perahu berlayar
beberapa bulan
6. Selesai (Todung Mulya Lubis)
Detik hari berguguran
Awan pagi mendesak
Ke daun jendela
Lalu sebuah janji bergetar
Tak tahu bila kan usai
Namun telah terasa
Segala kan selesai. (*)
