KETIK, MALANG – Kasus bunuh diri kembali marak terjadi di Kota Malang. Berdasarkan catatan Polsek Lowokwaru sepanjang tahun 2024 hingga 2025, sudah ada empat kali kejadian bunuh diri dari Jembatan Soekarno-Hatta (Soehat).
Memasuki tahun 2026 atau tepatnya pada Senin, 19 Januari 2026, dini hari, terjadi satu kali upaya percobaan bunuh diri dari Jembatan Soehat.
Kemudian pada Rabu, 25 Maret 2026 ini, seorang mahasiswa semester dua di salah satu perguruan tinggi negeri (PTN) di Kota Malang berinisial CLS (20), asal Kecamatan Sawah Besar, Jakarta Pusat, ditemukan meninggal di lantai dasar Apartemen Soehat. Diketahui, korban diduga menjatuhkan diri dari kamar nomor 51 lantai 11 apartemen tersebut.
Dari berbagai kejadian tersebut, semua korban merupakan mahasiswa dengan rentang usia rata-rata 19 hingga 25 tahun.
Psikolog Universitas Merdeka Malang (Unmer), Al Thuba Septa Priyanggasari, menuturkan ada dua faktor yang memengaruhi seseorang untuk melakukan bunuh diri.
Yang pertama adalah faktor internal, di mana faktor ini berkaitan dengan kondisi biologis seseorang. Bahkan ada juga yang memang rentan mengalami depresi.
"Semua orang memiliki stres. Namun ada beberapa orang tertentu yang ketika hormonalnya terkena stres sedikit langsung depresi. Kemudian orang yang memiliki sifat introvert atau yang cenderung memiliki ketahanan psikis yang rendah," jelasnya, Rabu, 25 Maret 2026.
Sedangkan faktor kedua, yaitu faktor eksternal seperti kondisi lingkungan sekitar. Pola asuh dan kebiasaan lingkungan yang buruk dapat membuat seseorang stres dan ingin mengakhiri hidupnya.
"Seperti di rumah sering tertekan melihat orang tua bertengkar atau mengalami kondisi perpisahan orang tua, bisa membuat seseorang menjadi trauma. Lalu lingkungan pergaulan juga dapat menjadi faktor eksternal, seperti soal perundungan," ungkapnya.
Dirinya mengungkapkan bahwa masalah ekonomi juga bisa menjadi penyebab seseorang mudah berpikir untuk mengakhiri hidup. Apalagi saat ini, banyak orang yang ingin dianggap selevel dengan lingkungan yang memiliki kondisi ekonomi lebih dari cukup.
"Terkadang, kita terjebak di kondisi ekonomi yang tidak sehat. Bukan karena kebutuhan mendesak, melainkan hanya ingin sekadar bergaya," tambahnya.
Sementara itu, Psikolog Universitas Islam Negeri (UIN) Malang, Anindita Aghniacakti, menyampaikan ada tiga ciri krusial seseorang memiliki niatan untuk bunuh diri.
Yang pertama, memberikan pernyataan secara lugas maupun verbal, seperti pernyataan "mending aku mati saja" atau "mati adalah cara paling tepat".
Kedua, melalui tanda-tanda yang tidak diungkapkan secara langsung, misalnya mendadak mengurung diri atau menghindari kontak dari lingkungan sosial.
"Lalu yang ketiga, yakni melukai dirinya sendiri secara sadar, seperti sengaja melukai tangan atau membakar bagian tubuh. Mungkin banyak yang menganggap ini bentuk pelampiasan, padahal ini tidak wajar dan menjadi suatu peringatan," bebernya.
Ia pun menambahkan bahwa seseorang yang memiliki masalah psikologis dan mempunyai niatan untuk bunuh diri sebenarnya membutuhkan teman untuk berbicara.
"Yang perlu dipahami saat menjadi teman bicara, jangan sampai kita menghakimi atau menyalahkan mereka. Orang yang memiliki pikiran bunuh diri cenderung ingin didengarkan, dikuatkan, dimengerti, dan dipahami," imbuhnya.
Oleh karena itu, ia menyarankan masyarakat untuk berhati-hati dalam membantu seseorang yang tengah mengalami depresi dan berpotensi melakukan bunuh diri.
"Kita harus hati-hati melakukan pendekatan. Jadi orang terdekat atau sahabat harus waspada terhadap lingkungan sekitar. Misalnya, ada perubahan secara mendadak dari orang sekitar, coba didekati dan didengarkan," tandasnya. (*)
