Leluhur Bacan dan 4 Kue Manis yang Mengajarkan Kita Bersaudara

9 Januari 2026 12:17 9 Jan 2026 12:17

Thumbnail Leluhur Bacan dan 4 Kue Manis yang Mengajarkan Kita Bersaudara

Empat Kue Khas saat acara nikahan di Bacan sebagai pesan moral (Foto: Mursal/Ketik.com)

Di Bacan, pernikahan bukan sekadar pertautan dua nama dalam buku nikah. Ia adalah perayaan kolektif, pesta batin, tempat dapur menjadi mimbar, dan kue-kue penganan berubah menjadi bahasa. 

Para tetua dulu tak menulis petuah dalam kitab tebal; mereka menitipkannya pada rasa. Manis, lengket, berlapis, dipanggang perlahan empat kue, satu ajaran: persaudaraan yang dikerjakan bersama.

Wajik hadir pertama, tenang dan setia pada asal-usulnya. Beras ketan dan gula aren dipertemukan oleh tangan-tangan yang tak terburu. Membuatnya tak mungkin sendirian. Ada yang menanak, ada yang mengaduk, ada yang menjaga api agar sabar. Lengketnya wajik adalah pelajaran paling jujur: kebersamaan tak selalu mulus, tetapi ketika panas dihadapi bersama, ia menyatu. Manisnya bukan sekadar rasa; ia adalah ganjaran gotong royong, buah dari kesediaan menunggu, berbagi tugas, dan tidak merasa paling penting.

Lalu kue lapis, dengan warna yang berani berbeda. Ia tak menyembunyikan perbedaan; ia memajangnya. Setiap lapis dikerjakan dengan cermat, menunggu lapisan sebelumnya matang agar tak runtuh. Di sini leluhur Bacan mengajarkan etika hidup: perbedaan bukan untuk disamakan, melainkan dirawat agar berdiri rapi. Tak ada lapisan yang lebih utama semuanya perlu. 

Saat disantap, warna-warna itu lenyap dalam satu rasa manis. Seperti hidup bermasyarakat, ketika empati bekerja, perbedaan berhenti berisik dan berubah menjadi rasa kasih sayang.

Apam membawa kita ke halaman rumah, ke api unggun yang dijaga lelaki, ke bara yang dibagi, ke ibu-ibu yang duduk teratur dengan tungku kecil masing-masing. Ini bukan sekadar logistik hajatan; ini koreografi sosial. Bara berpindah tangan, senyum berpindah cerita. Lelaki menyiapkan panas, perempuan mengolahnya menjadi pangan, sebuah metafora rumah tangga yang tak pernah diajarkan dengan kata-kata, tetapi ditunjukkan dengan kerja. 

Manis apam adalah hasil silaturahmi lintas peran: tak ada yang lebih tinggi, tak ada yang lebih rendah; yang ada saling melengkapi.

Terakhir, roti yang polos, sederhana, nyaris tak bersuara. Dua irisan atau lebih disuguhkan kepada tamu, mengingatkan bahwa kemewahan sejati sering berwujud kesahajaan. Roti tak berlapis warna, tak lengket seperti wajik, tak dipanggang ramai seperti apam. Namun ia manis, jujur, dan cukup. Ia berbisik tentang syariat hidup: jangan berlebihan, jangan pula kekurangan. Dalam kesederhanaan, ada kelapangan.

Empat kue ini selalu hadir bersama. Bukan kebetulan. Para tetua percaya, jalan hidup memang beragam, seperti bentuk kue yang berbeda namun tujuan tetap satu yakni kebaikan bersama. Rasa manis yang sama adalah penegasan bahwa perbedaan cara tidak perlu memecah niat.

Di awal 2026 ini, ajaran itu kian sunyi. Pagar belakang ditinggikan, bukan hanya untuk keamanan, tetapi tanpa sadar untuk menutup kemungkinan saling meminjam bumbu. Dapur menjadi privat, gotong royong menjadi nostalgia, dan kue-kue mulai dipesan, bukan dibuat. 

Kita memesan rasa, tapi melupakan proses; menikmati manis, namun meniadakan perjumpaan. Kita mengklaim sibuk menjaga tradisi, sambil menyerahkan tradisi pada plastik dan struk pembayaran.

Padahal, leluhur Bacan telah lama menanamkan pesan: persaudaraan tidak diwariskan lewat pidato, melainkan dikerjakan lewat adonan. Jika hari ini kita rindu kebersamaan, mungkin yang perlu diturunkan bukan pagar, melainkan ego. Mungkin yang perlu dipanaskan kembali bukan bara, tetapi niat.

Empat kue itu masih ada. Wajik masih lengket, lapis masih berwarna, apam masih menunggu bara, roti masih sederhana. Yang mulai menghilang adalah kita yang dulu duduk melingkar, berbagi api, berbagi cerita. Barangkali, untuk kembali pulang, kita hanya perlu satu hal: berani memasuki dapur bersama, dan membiarkan manisnya bekerja lagi.

 

Tombol Google News

Tags:

Budaya Leluhur Bacan Tradisi Pernikahan Bacan Kearifan Lokal Maluku Utara Gotong Royong Masyarakat Bacan Warisan Budaya Nusantara bacan