Fadli Wahda dan Cara Sederhana Merawat Keselamatan Sesama Pekerja di Tambang

24 Februari 2026 12:01 24 Feb 2026 12:01

Thumbnail Fadli Wahda dan Cara Sederhana Merawat Keselamatan Sesama Pekerja di Tambang

Fadli Wahda (Akha) Occupational Health & Safety (OHS) Monitoring Supervisor Harita Nickel (Foto: Mursal/Ketik.com)

KETIK, HALMAHERA SELATAN – Deru alat berat masih terdengar bersahutan. Matahari perlahan turun, tetapi aktivitas di kawasan tambang belum sepenuhnya reda. Para pekerja tetap bergerak di bawah ritme produksi yang tak mengenal waktu puasa. Di tengah kondisi itu, kelelahan menjadi tamu yang datang diam-diam, menguji fokus dan ketahanan tubuh.

Di antara mereka, Fadli Wahda, yang akrab disapa Akha, berjalan menyusuri area kerja dengan helm dan rompi keselamatan. Matanya tak hanya tertuju pada mesin atau jalur kendaraan berat, tetapi juga pada wajah-wajah rekan kerja yang mulai tampak letih. Baginya, Ramadan bukan sekadar soal menahan lapar dan haus, melainkan juga tentang menjaga kesadaran agar setiap orang bisa pulang dengan selamat.

Akha bukan sosok yang lahir tiba-tiba di dunia keselamatan kerja. Lulusan S1 Teknik Pertambangan Universitas Muhammadiyah Ternate ini memulai kariernya pada 2018 di Halmahera Timur. Di sana, ia pertama kali memahami bahwa prosedur tertulis tidak selalu cukup. Keselamatan, menurutnya, tumbuh dari kebiasaan membaca situasi dan mengenali batas diri.

Pengalaman itu semakin mengendap ketika ia bergabung dengan Harita Nickel pada Oktober 2019 sebagai Field Safety. Saat itu, fase konstruksi sedang padat-padatnya. Alat berat hilir-mudik, pekerja dari berbagai kontraktor berbaur, dan target kerja menekan dari berbagai arah. Dalam suasana seperti itu, Akha belajar bahwa satu kelengahan kecil bisa berujung pada risiko besar.

Ia mulai terbiasa menghampiri rekan yang tampak kelelahan, sekadar mengingatkan untuk minum, duduk sejenak, atau menarik napas. Di bulan puasa, kebiasaan itu menjadi semakin penting.

Foto Fadli Wahda saat memimpin briefing lapangan bersama tim Harita Nickel di Pulau Obi. (Foto: Mursal/Ketik.com)Fadli Wahda saat memimpin briefing lapangan bersama tim Harita Nickel di Pulau Obi. (Foto: Mursal/Ketik.com)

“Tidak cukup hanya ceklis. Kita harus memastikan teman-teman tetap fokus dan sadar batas tubuhnya, apalagi saat pola tidur berubah karena puasa,” ujar Akha Selasa 24 Februari 2026.

Kalimat itu bukan sekadar refleksi profesional, melainkan hasil dari tahun-tahun bergelut dengan lapangan. Bagi Akha, keselamatan bukan tentang laporan yang rapi, tetapi tentang manusia di balik angka statistik.

Kepercayaan pun datang pada 2021. Ia diangkat menjadi Foreman. Perannya bertambah, tanggung jawabnya melebar. Ia tak lagi hanya mengawasi prosedur, tetapi juga membangun suasana kerja yang saling peduli. Ia mendorong timnya untuk mengatur waktu istirahat, memperhatikan asupan saat sahur dan berbuka, serta tidak merasa lemah ketika harus mengakui tubuh sedang tidak prima.

Dalam pandangannya, budaya keselamatan tidak lahir dari teriakan perintah, melainkan dari percakapan sederhana di sela kerja: tentang lelah, tentang tidur, tentang keluarga yang menunggu di rumah.

Sejak September 2025, Akha dipercaya menjadi Occupational Health & Safety (OHS) Monitoring Supervisor. Di posisi ini, ia semakin sering menjadi jembatan antara kebijakan perusahaan dan realitas lapangan. Ia berusaha menerjemahkan aturan yang kerap terasa kaku menjadi praktik yang mudah dipahami dan dijalankan oleh para pekerja.

Pendekatan semacam itu mendapat resonansi di luar lingkungan perusahaan. Muchlis Ibrahim, Koordinator Konsorsium Advokasi Tambang (KATAM) Maluku Utara, menilai bahwa Ramadan justru menjadi momen penting untuk memperkuat kepedulian terhadap keselamatan kerja.

“Keselamatan kerja di Maluku Utara tidak boleh kendor di bulan suci. Justru ini momentum untuk saling menjaga, agar para karyawan bisa bekerja dengan baik dan kembali berkumpul bersama keluarga tercinta saat Hari Raya Idulfitri,” ujar Muchlis.

Bagi Akha, pernyataan itu sejalan dengan apa yang ia rasakan setiap hari di lapangan. Ramadan mengajarkan kesabaran, tetapi juga kejujuran pada diri sendiri. Ketika tubuh lelah, ketika konsentrasi menurun, di situlah solidaritas diuji.

Di balik helm, sepatu safety, dan rompi reflektif, para pekerja tambang tetaplah manusia biasa. Mereka menyimpan rindu pada rumah, pada meja berbuka bersama keluarga, pada tawa anak-anak menjelang Idulfitri. Keselamatan kerja, dalam konteks itu, bukan hanya soal pulang tanpa luka, tetapi tentang menjaga harapan agar esok hari tetap bisa kembali.

Di tengah debu, mesin, dan panas matahari Pulau Obi, kisah Akha mengalir pelan sebagai pengingat bahwa di bulan puasa, kerja keras perlu disertai kepedulian. Sebab pada akhirnya, setiap langkah di area tambang selalu menuju tujuan yang sama yakni pulang dengan selamat.

Tombol Google News

Tags:

Harita Nickel Fadli Wahda Occupational Health & Safety (OHS) Monitoring Supervisor Keselamatan Kerja Pertambangan Maluku Utara Halmahera Selatan