KETIK, MALANG – Ki Ageng Gribig dikenal memiliki sejumlah kisah. Bahkan, ada beragam versi ihwal asal-usul sosok penyebar Islam di wilayah Malang tersebut.
Salah satu versi menyatakan bahwa Ki Ageng Gribig memiliki nama asli Maulana Munawwar Al-Maghribi. Nama Gribig disebut berasal dari kata Maghribi.
Maulana Munawwar Al-Maghribi diyakini sebagai putra salah seorang petinggi Kerajaan Kesultanan Demak, Syekh Maulana Muhammad Al-Maghribi. Konon, ia kemudian berguru kepada Sunan Menganti, paman Sunan Giri.
Dalam buku Ekspedisi Samala, disebutkan bahwa Demak melakukan ekspedisi ke timur untuk menaklukkan Kerajaan Sengguruh, yang saat ini terletak di sekitar Kepanjen, Kabupaten Malang. Upaya penaklukan ini disebut mendapat bala bantuan dari daerah Gribig. Hal ini membuktikan bahwa komunitas Islam sudah terbentuk di daerah Gribig pada era Demak.
Hikayat tentang Ki Ageng Gribig ini sempat dituliskan oleh Sunan Giri dalam kitabnya tentang penyebaran Islam di kawasan Malang. Konon, kitab tersebut sempat dipegang oleh almarhum KH Ali Mukhtar, Desa Turi, Lamongan, Jawa Timur.
Keterangan yang terdapat di dekat sepasang makam kuno di pemakaman RW 06 Kelurahan Madyopuro, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang. Berdasar keterangan tersebut, kedua makam ini merupakan makam ibu dan putri Ki Ageng Gribig versi Demak. (Foto: Dendy/Ketik.com)
Peninggalan Ki Ageng Gribig yang masih bisa ditemui sampai saat ini adalah makam putri dan ibundanya, Syarifah Dewi Aisyah binti Syekh Maulana Munawwar Al-Maghribi dan Syarifah Siti Hajar Maisyaroh binti Barkat Zainal Alim.
Makam kedua anggota keluarga Ki Ageng Gribig ini terletak di tengah Makam Warga RW 06, Kelurahan Madyopuro, tak jauh dari kompleks pemakaman Ki Ageng Gribig.
Versi lain menyebut bahwa Ki Ageng Gribig merupakan tokoh asal Mataram. Dalam keterangan yang terdapat di kompleks makam Ki Ageng Gribig, ia disebut memiliki nama asli Aryo Pamoetjong atau Mosi Bagono.
Dalam versi ini disebutkan bahwa ia merupakan salah satu panglima Kesultanan Mataram waktu itu. Ia kemudian menjadi pasukan Mataram kala menaklukkan wilayah Brang Wetan, termasuk Malang, yang dipimpin Rangga Tohjiwa.
Cungkup makam Ki Ageng Gribig yang berada di kompleks pemakaman Ki Ageng Gribig, RW 04 Kelurahan Madyopuro, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang. (Foto: Dendy/Ketik.com)
Setelah penaklukan ini, Ki Ageng Gribig mendapat hadiah untuk memimpin wilayah Gribig. Di situlah kemudian ia mendirikan pondok pesantren untuk menyiarkan Islam.
Diyakini, makam yang saat ini berada di kompleks makam Gribig merupakan pusara Ki Ageng Gribig versi Mataram. (*)
