Layanan Sensor Tembus 32.331 Judul, LSF Perkuat Edukasi Sensor Mandiri ke Sineas Kota Malang

18 November 2025 17:24 18 Nov 2025 17:24

Thumbnail Layanan Sensor Tembus 32.331 Judul, LSF Perkuat Edukasi Sensor Mandiri ke Sineas Kota Malang

LSF memberikan edukasi terkait layanan penyensoran film di Kota Malang. (Foto: Lutfia/Ketik.com)

KETIK, MALANG – Layanan sensor yang dilakukan oleh Lembaga Sensor Film (LSF) Indonesia per November 2025 ini tembus hingga 32.331 judul. Melihat perkembangan dunia perfilman yang semakin masif, LSF mengajak sineas khususnya di Kota Malang untuk melakukan sensor secara mandiri.

Widayat S. Noeswa, Ketua Subkomisi Dialog LSF menjelaskan di tengah perkembangan perfilman nasional maupun daerah, harus didukung dengan edukasi terkait sensor terhadap pelaku industri film maupun masyarakat. Terlebih saat ini film maupun karya audiovisual tak hanya marak di bioskop namun juga platform digital.

Banyak film-film yang belum layak ditonton oleh semua usia. Film bisa membuat masyarakat terinspirasi untuk melakukan tindakan yang memicu dampak negatif bagi masyarakat.

"Di Malang ini kita diskusi bagaimana membuat film sesuai target. Kita punya program yang namanya budaya sensor mandiri. Artinya tidak semua film disensorkan di LSF tapu melalui si pembuat film, sudah melakukan sensor mandiri. Termasuk penonton, orang tua di rumah saat mengajak anak kecil," ujarnya, Selasa 18 November 2025.

Ia menyoroti risiko konten yang dikonsumsi oleh masyarakat yang tidak sesuai dengan usianya, pada layanan Over The Top (OTT), atau layanan streaming konten. Pasalnya, banyak platform yang belum memiliki sistem penyaring usia sehingga berpotensi anak mengkonsumsi konten tanpa batasan.

"Kita punya e-SiAS, tidak perlu datang ke Jakarta kalau punya film yang mau disensor. Cukup menggunakan e-SiAS secara online. Tarifnya juga tidak sampai memakan puluhan juta, pada dasarnya murah sekali," tegasnya.

Agustini Rahayu, Deputi Bidang Kreativitas Media Kementerian Ekraf menjelaskan dibandingkan negara-negara ASEAN, Indonesia menempati proporsi tertinggi hingga 66 persen untuk penonton film lokal. Kondisi tersebut mengalami pertumbuhan signifikan di tahun 2024.

"Indonesia saat ini banyak dijadikan sebagai pasar industri film. Padahal kita harus posisikan diri sebagai mitra produksi yang kompetitif, jadi yang menjual. Itu yang didorong oleh Kemenekraf dengan kerja sama seluruh pihak," ujarnya.

Semenara itu, Reza Safitri Wakil Dekan Bidang Akademik FISIP Universitas Brawijaya (UB) menjelaskan bahwa film maupun tayangan audiovisual lainnya memiliki dampak dan pengaruh besar bagi masyarakat. Salah satu yang dipengaruhi ialah gaya hidup seseorang.

"Tayangan film juga mencerminkan dan membentuk masyarakat itu sendiri. Salah satu hal yang menjadi catatan, film mampu mengaktifkan emosi," ujarnya.

Apabila semakin terbawa pada tayangan sebuah film, maka akan mudah pula film memengaruhi seseorang. Dari situ, dilm juga memiliki fungsi sebagai media propaganda, sekaligus edukasi, di samping fungsinya sebagai hiburan.

"Film bisa diakses kapan saja melalui bermacam platform. Karakterisitik itu yang membuat film memiliki dampak besar bagi individu maupun masyarakat. Sering kita larut dalam cerita di film tersebut," ungkapnya.(*)

Tombol Google News

Tags:

LSF Lembaga Sensor Fil Sensor Film Layanan Sensor Film film Indonesia Kota Malang Fisip UB