Kusmiati, Relawan Eco Enzym Kota Batu Dorong Gerakan Olah Sampah Dari Rumah

27 Desember 2025 17:01 27 Des 2025 17:01

Thumbnail Kusmiati, Relawan Eco Enzym Kota Batu Dorong Gerakan Olah Sampah Dari Rumah

Kusmiati, salah satu relawan yang mengenalkan Eco Enzym di Kota Batu. (Foto: Dafa Wahyu Pratama/Ketik.com)

KETIK, BATU Kepedulian terhadap persoalan sampah mendorong Kusmiati, seorang ibu rumah tangga sekaligus relawan eco enzym dan classic enzym di Kota Batu, mengambil peran aktif menjaga lingkungan mulai dari rumahnya sendiri.

Berawal dari kebiasaan mengolah limbah dapur, ia kini menjadi penggerak kesadaran lingkungan di wilayah tempat tinggalnya.

Langkah tersebut dimulai sejak pandemi Covid-19, ketika Kusmiati mengikuti kelas daring tentang pengolahan sampah organik menjadi eco enzym pada masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Dari proses belajar itulah, ia mulai rutin memanfaatkan sisa sayur dan kulit buah rumah tangga untuk difermentasi.

“Saya pertama kali mengenal eco enzym lewat kelas Zoom saat pandemi. Awalnya hanya mencoba, tapi setelah merasakan manfaatnya, saya terus mengolah limbah dapur menjadi eco enzym,” ujar Kusmiati.

Foto Fermentasi Eco Enzym yang berada di halaman rumah Kusmiati. (Foto: Dafa Wahyu Pratama/Ketik.com)Fermentasi Eco Enzym yang berada di halaman rumah Kusmiati. (Foto: Dafa Wahyu Pratama/Ketik.com)

Seiring waktu, kebiasaan tersebut berkembang menjadi aktivitas yang berdampak positif bagi lingkungan sekitar.

Menurut Kusmiati, pengolahan sampah organik menjadi eco enzym tidak hanya mampu mengurangi bau dan pencemaran, tetapi juga berperan menekan terbentuknya gas metana yang berbahaya bagi lapisan ozon.

Ia pun menekankan pentingnya pemilahan sampah sejak dari rumah. Pemisahan antara sampah basah dan kering, kata dia, perlu dilakukan untuk menghindari reaksi kimia yang berpotensi membahayakan lingkungan.

Aktivitas peduli lingkungan sejatinya telah lama dijalani Kusmiati. Sejak 2014, ia aktif mengedukasi warga sekitar tentang pentingnya memilah sampah.

Dari awalnya hanya melibatkan enam orang, gerakan tersebut terus berkembang dan mendapat respons positif dari masyarakat.

Rumah Kusmiati bahkan menjadi titik awal terbentuknya bank sampah pertama di wilayah Dadaprejo. Hingga kini, tercatat sebanyak 19 bank sampah telah berdiri dan tersebar di seluruh kelurahan tersebut.

“Saya memang bukan siapa-siapa, tetapi saya sadar kerusakan bumi disebabkan oleh perilaku manusia. Kalau bukan kita yang mulai peduli, lalu siapa lagi?” tegasnya.

Dari proses fermentasi eco enzym yang dijalani, Kusmiati mampu menghasilkan berbagai produk ramah lingkungan untuk kebutuhan rumah tangga, mulai dari sabun, cairan pembersih lantai, deterjen cair, hingga pengusir hama.

Bahkan, larutan eco enzym buatannya sempat dimanfaatkan oleh pemerintah sebagai alternatif cairan disinfektan pada masa pandemi.

Ia juga menyatakan dukungannya terhadap kebijakan Tempat Buang Sampah (TBS) terjadwal yang diterapkan pemerintah setempat.

Menurutnya, pengaturan hari pembuangan sampah basah dan kering sangat membantu masyarakat membiasakan pemilahan sejak dari rumah.

“Dengan jadwal yang sudah ditentukan, seperti Senin untuk sampah basah dan Selasa untuk sampah kering, warga jadi lebih terbiasa memilah sampah,” tambahnya.

Meski aktivitas yang dijalaninya pernah mendapat perhatian dan dukungan dari organisasi internasional, Lions Club, berupa bantuan peralatan fermentasi, Kusmiati menegaskan tidak berniat menjadikan eco enzym sebagai ladang usaha.

“Ini bukan tentang mencari keuntungan. Yang terpenting adalah tanggung jawab kita bersama dalam menjaga bumi,” tandasnya.

Kusmiati meyakini persoalan sampah tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengandalkan peran pemerintah.

Menurutnya, kunci utama terletak pada kesadaran setiap individu untuk mulai memilah dan mengolah sampah dari rumah masing-masing. (*)

Tombol Google News

Tags:

eco enzym sampah organik Kota Batu