KETIK, NAGAN RAYA – Empat hari pascabanjir besar yang melanda Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, Aceh, kondisi kesehatan warga mulai menunjukkan tanda-tanda mengkhawatirkan. Banyak pengungsi mulai terserang berbagai penyakit seperti infeksi kulit, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), hingga diare.
Lingkungan permukiman yang masih dipenuhi lumpur dan puing banjir menjadi pemicu utama munculnya penyakit. Minimnya pasokan air bersih membuat warga kesulitan menjaga kebersihan diri dan sanitasi dasar.
Pantauan di lapangan menunjukkan posko kesehatan yang berada di Desa Blang Meurandeh dipenuhi warga yang membutuhkan perawatan. Anak-anak dan lansia mendominasi antrean pasien karena daya tahan tubuh mereka yang lemah setelah berhari-hari berada di lokasi banjir dan pengungsian.
“Minimnya pasokan air bersih menyebabkan warga kesulitan menjaga kebersihan, sehingga meningkatkan risiko penularan penyakit, terutama di posko-posko pengungsian yang menampung ratusan warga,” kata Saiful, Kepala Puskesmas Beutong Ateuh Banggalang, Minggu, 30 November 2025.
Ia menjelaskan, sebagian warga bahkan terpaksa menggunakan air yang tidak layak untuk mandi dan mencuci karena tidak ada pilihan lain. Kondisi ini memperburuk situasi dan meningkatkan risiko penyebaran penyakit menular.
Saiful mengaku jumlah pasien terus meningkat sejak hari pertama banjir surut. Namun, keterbatasan tenaga dan fasilitas kesehatan menjadi kendala besar karena akses menuju wilayah terdampak masih terputus dan rawan longsor.
“Menghadapi situasi yang semakin mengkhawatirkan, kami mulai memperketat layanan dengan melakukan pemeriksaan langsung ke setiap titik pengungsian,” ujarnya.
Untuk warga di tiga desa lain yang masih terisolasi, tenaga medis yang kebetulan terjebak di wilayah tersebut diminta tetap memberikan penanganan darurat sambil menunggu bantuan medis tambahan dari luar.
“Alhamdulillah, stok obat untuk beberapa hari ke depan masih cukup. Begitu juga untuk desa lain yang masih terisolir. Mereka masih memiliki tenaga medis yang terus memberikan pelayanan,” jelas Saiful.
Warga kini mendesak pemerintah daerah dan lembaga kemanusiaan segera mengirimkan bantuan sanitasi, air bersih, obat-obatan tambahan, serta fasilitas kesehatan darurat untuk mencegah potensi wabah yang lebih luas.
Hingga berita ini diturunkan, sebagian besar wilayah terdampak masih sulit dijangkau karena kerusakan jalan dan jembatan yang belum diperbaiki. (*)
