Konflik Timur Tengah Memanas, Buku Baru Prof Mas’ud Said Unisma Bedah Solusi Lewat Pendidikan Perdamaian

2 April 2026 15:40 2 Apr 2026 15:40

Thumbnail Konflik Timur Tengah Memanas, Buku Baru Prof Mas’ud Said Unisma Bedah Solusi Lewat Pendidikan Perdamaian

Guru Besar Universitas Islam Malang (Unisma), Prof. M. Mas’ud Said. (Foto: Dok. Pribadi)

KETIK, MALANG – Konflik Timur Tengah yang terus memanas, mulai dari ketegangan Iran dengan Israel hingga keterlibatan Amerika Serikat, kembali menunjukkan bahwa dunia belum benar-benar keluar dari lingkaran konflik. Di tengah situasi global yang tidak menentu ini, gagasan tentang perdamaian justru menjadi semakin relevan.

Hal inilah yang diangkat dalam buku Pengantar Studi Konflik, Perdamaian, dan Resolusi Konflik karya Guru Besar Universitas Islam Malang (Unisma), Prof. M. Mas’ud Said. Buku yang terbit pada 2025 ini tidak hanya membahas konflik sebagai fenomena global, tetapi juga menawarkan pendekatan solusi melalui pendidikan perdamaian.

Berbeda dari banyak kajian konflik yang cenderung teoritis, Prof. Mas’ud justru menekankan bahwa konflik adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari dalam kehidupan manusia. Ia melihat konflik sebagai bagian alami dari perbedaan yang melekat dalam kehidupan sosial, politik, hingga hubungan antarnegara.

Dalam ulasannya, Prof. Mas’ud menegaskan bahwa perbedaan adalah akar dari konflik itu sendiri.

“Secara individual, manusia sebagian kecil saja yang memiliki kesamaan dalam banyak hal. Umumnya terkungkung dalam keadaan berbeda sifat, bermacam karakter dan perbedaan tujuan dengan beragam kepentingan politik atau interest keuntungan, bukan ideologi,” bebernya.

Pandangan ini menjadi penting jika dikaitkan dengan konflik Timur Tengah yang kompleks, di mana perbedaan kepentingan politik, ekonomi, hingga ideologi terus memicu ketegangan.

Salah satu poin menarik dalam buku ini adalah soal paradoks global. Di satu sisi, dunia berbicara tentang perdamaian. Namun di sisi lain, konflik dan peperangan terus terjadi.

Prof. Mas’ud menyoroti fenomena ini dengan tajam.

“Dunia butuh sosok seperti mereka, kini sudah tidak ada lagi. Yang ada hari-hari ini pemimpin yang rakus kekuasaan yang mengatas. Namakan rakyatnya untuk perang, hipokrit, mengatakan ingin damai tapi membunuh orang tak bersalah di berbagai belahan dunia dan menguasai sumber-sumber strategis ekonomi secara tidak sah,” ungkapnya.

Pernyataan tersebut seolah menggambarkan situasi konflik Timur Tengah saat ini, di mana diplomasi berjalan beriringan dengan aksi militer. Perdamaian menjadi wacana, tetapi realitas di lapangan justru sebaliknya.

Dalam bukunya, Prof. Mas’ud juga memperkenalkan konsep manusia sebagai homo conflictus, yakni makhluk yang tidak lepas dari konflik.

“Manusia adalah makhluk Tuhan yang penuh konflik, penuh pertentangan. Manusia itu homo conflictus,” terangnya.

Namun, ia juga menegaskan bahwa tidak semua konflik bersifat negatif. Konflik yang terkelola dengan baik justru bisa menjadi ruang untuk menciptakan perubahan dan kemajuan.

Di tengah kompleksitas konflik global, termasuk konflik Timur Tengah, Prof. Mas’ud menawarkan satu solusi mendasar: pendidikan perdamaian atau peace education.

Menurutnya, perdamaian tidak cukup hanya dibicarakan di level elite atau forum internasional. Perdamaian harus dibangun dari level paling dasar, yakni keluarga dan pendidikan.

Ia menegaskan bahwa setiap manusia pada dasarnya menginginkan kehidupan yang damai.

“Tak dapat dipungkiri, semua manusia ingin kedamaian, baik pribadi maupun dalam hubungannya dengan orang lain,” ujarnya.

Lebih jauh, ia menekankan pentingnya pendidikan sebagai alat untuk membentuk kesadaran damai.

“Pendidikan bertujuan untuk menanamkan komitmen dalam kesadaran manusia terhadap cara-cara hidup yang damai,” tegasnya.

Dalam perspektif ini, konflik seperti yang terjadi di Timur Tengah bukan hanya persoalan politik atau militer, tetapi juga kegagalan dalam membangun budaya damai sejak dini.

Buku ini juga menggarisbawahi bahwa perdamaian tidak bisa hanya mengandalkan kebijakan negara atau kesepakatan politik. Ada enam komponen penting yang harus dipenuhi, mulai dari penegakan hukum yang adil, pengurangan kesenjangan sosial, hingga partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan.

Namun yang paling mendasar, menurut Prof. Mas’ud, adalah pendidikan dalam keluarga.
“Harus ada dasarnya pendidikan perdamaian harus fokus dalam proses yang kontinu dalam keluarga, mengembangkan kebiasaan untuk damai dan terinspirasi oleh pengalaman-pengalaman edukasi Ibu selama hidup dalam keluarga,” pungkasnya.

Gagasan ini menjadi refleksi penting di tengah konflik Timur Tengah yang terus berulang. Perdamaian tidak bisa hanya dicapai melalui perjanjian politik, tetapi harus dibangun dari kesadaran individu dan budaya masyarakat.

Dengan pendekatan ini, buku karya Prof. Mas’ud Said tidak hanya menjadi kajian akademik, tetapi juga menawarkan perspektif baru bahwa jalan menuju perdamaian dunia dimulai dari pendidikan, kesadaran, dan kemauan untuk menghargai perbedaan. (*)

Tombol Google News

Tags:

Guru Besar Universitas Islam Malang (Unisma) Prof M Mas'ud Said Konflik Timur Tengah kajian konflik Prof Mas'ud Resolusi Konflik