KETIK, MALANG – Penyaluran 5.000 ekor benih lele melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) oleh Apotek Slamet Urip di Kelurahan Cemorokandang, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, mendapat respons positif dari pihak kelurahan.
Kasi Pemerintahan, Ketenteraman, dan Ketertiban (Pemtrantib) Kelurahan Cemorokandang, Malindra Disix Sukarno, menilai bahwa program tersebut memiliki dampak langsung bagi masyarakat, terutama dalam mendukung ketahanan pangan di tingkat lokal.
“Pastinya berdampak bagi masyarakat. Namun untuk pemberdayaan, ini juga bisa dikolaborasikan dengan lembaga-lembaga kelurahan yang sudah ada,” ujarnya.
Ia menjelaskan, program tersebut berpotensi dikembangkan lebih jauh melalui kolaborasi lintas sektor. Jika dikelola dengan baik, budidaya lele tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan warga, tetapi juga memiliki nilai ekonomi tambahan.
“Kalau produksinya mencukupi, ke depan bisa menjadi suplai untuk kebutuhan tertentu. Di situ ada nilai ekonomi dan nilai tambah bagi masyarakat,” tambahnya.
Menurutnya, aspek keberlanjutan menjadi hal penting dalam program ini. Tidak hanya berhenti pada penyaluran benih, tetapi juga perlu dipikirkan alur distribusi hasil panen agar memberikan manfaat jangka panjang.
Kelurahan Cemorokandang bahkan melihat peluang untuk mengarahkan hasil panen sebagai pemasok kebutuhan pangan di sejumlah titik, termasuk kemungkinan bekerja sama dengan empat unit Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang ada di lingkungan sekitar.
Lebih jauh, Malindra menekankan bahwa program ini sejalan dengan upaya menjaga ketahanan pangan masyarakat, yakni memastikan kebutuhan gizi terpenuhi dan mencegah munculnya masalah kesehatan akibat kekurangan nutrisi.
“Ketahanan pangan itu memberikan jaminan agar kebutuhan gizi masyarakat terpenuhi. Ini bagian dari langkah nyata,” jelasnya.
Ia juga menyebut, apabila program ini berjalan sukses dan berkelanjutan, bukan tidak mungkin Kelurahan Cemorokandang dapat menjadi percontohan bagi wilayah lain.
“Kalau ini berhasil, bisa menjadi pionir bagi kelurahan lain, bahkan menjadi ikon di tingkat kecamatan,” katanya.
Ke depan, program ini diharapkan tidak hanya berhenti pada ketahanan pangan semata, tetapi juga berkembang menuju kemandirian hingga kedaulatan pangan di tingkat masyarakat. (*)
