Catatan Perjalanan Jurnalis Ketik.com

Menjemput Damai di Tengah Gemuruh Konflik Timur Tengah

5 Maret 2026 13:38 5 Mar 2026 13:38

Thumbnail Menjemput Damai di Tengah Gemuruh Konflik Timur Tengah

Satu Langkah Menuju Baitullah. Jurnalis Ketik.com Biro Yogyakarta, Fajar Rianto, bersama keluarga dan relasi saat bersiap melakukan proses check-in di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Kamis 5 Februari 2026. (Foto: Gina for Ketik.com)

KETIK, JAKARTA – Duduk di kursi bus Rosalia Indah yang melaju stabil membelah aspal Tol Trans-Jawa pada Rabu pagi, 4 Maret 2026, saya menatap wajah istri dan anak saya yang tertidur lelap di samping.

Di barisan kursi depan, dua sahabat karib istri saya tampak bercengkerama ringan dengan istri dan anak saya. Namun, jujur saja, di balik rasa syukur karena akhirnya bisa berangkat umrah pada tahun 1447 H ini, ada sedikit ganjalan di benak saya sebagai seorang jurnalis.

Layar ponsel saya terus menampilkan pembaruan berita tentang eskalasi konflik antara Iran dan Israel. Sebagai orang media, saya tahu persis bahwa wilayah udara Timur Tengah sedang tidak baik-baik saja. Kabar tentang penutupan ruang udara dan jadwal pesawat yang delay berjam-jam bahkan pembatalan penerbangan menjadi menu harian di grup-grup WhatsApp kami.

Perjalanan darat dari Yogyakarta menuju Jakarta ini seolah menjadi ruang kontemplasi bagi saya. Di satu sisi, ada tanggung jawab menjaga kenyamanan keluarga dan rombongan agar tetap tenang. Di sisi lain, naluri jurnalis saya terus memantau situasi keamanan global.

Kami sengaja menginap semalam di salah satu hotel dekat bandara setelah tiba di Jakarta pada Rabu sore. Bukan sekadar untuk istirahat, tapi juga untuk mengantisipasi ketidakpastian jadwal terbang yang kini sangat fluktuatif akibat situasi perang.

Kecemasan itu kian nyata ketika hingga Rabu malam kami menerima kabar bahwa jadwal penerbangan berubah sebanyak dua kali, terus mundur dari jadwal semula. Menghadapi ketidakpastian ini, kami pun segera berkoordinasi dengan pihak operator armada penjemput di King Abdulaziz International Airport, Jeddah, guna memastikan penyesuaian jadwal penjemputan di tengah karut-marut arus penerbangan global.

Persoalan jadwal terbang ini menjadi ujian kesabaran pertama kami bahkan sebelum meninggalkan tanah air.

Papan informasi keberangkatan di Terminal 3 menunjukkan status "DELAYED" untuk maskapai Saudi Arabian Airlines (SV 817) tujuan Jeddah pada Kamis 5 Februari 2026. Bagi kami dan rombongan, penundaan ini bukan sekadar hambatan teknis akibat konflik di Timur Tengah, melainkan awal dari proses pembersihan hati dalam perjalanan menjemput rida-Nya. (Foto: Gina for Ketik.com)

Kamis pagi, 5 Maret 2026, kami tiba di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Suasana di terminal keberangkatan internasional tampak lebih padat dan sedikit tegang dari biasanya.

Papan informasi keberangkatan menunjukkan beberapa status "Delayed" untuk rute-rute internasional. Hati saya sedikit berdesir melihat wajah anak lelaki saya yang masih polos, bertanya-tanya apakah kami akan berangkat tepat waktu atau harus menunggu dalam ketidakpastian.

Beruntung, maskapai Saudi Arabian Airlines yang kami tumpangi memberikan kepastian. Meski mundur lima jam dari jadwal semula, komitmen keberangkatan, Kamis sore 5 Maret 2026 ini tetap terjaga.

Saat menggandeng tangan anak saya menuju gerbang keberangkatan, saya menyadari bahwa perjalanan umrah kali ini bukan sekadar ritual ibadah. Ini adalah perjalanan iman untuk mencari kedamaian di tengah dunia yang sedang gaduh.

Membawa keluarga dan sahabat di tengah situasi geopolitik yang memanas seperti sekarang menuntut kesabaran ekstra.

Antrean yang lebih panjang karena pemeriksaan keamanan yang ketat serta potensi keterlambatan jadwal adalah konsekuensi yang harus kami terima. Namun, bagi saya, setiap menit penantian di bandara adalah bagian dari ujian kesabaran sebelum menapakkan kaki di tanah haram.

Kini, saat mesin pesawat mulai menderu di landasan pacu Bandara Internasional Soekarno-Hatta, doa saya hanya satu: semoga perjalanan ini membawa kami pada ketenangan, dan semoga konflik di sana segera mereda. Kami berangkat bukan hanya untuk bersujud, tapi juga untuk mendoakan kedamaian bagi dunia yang sedang terluka.(*)

Tombol Google News

Tags:

Yogyakarta konflik Iran Israel Saudi Arabian Airlines Perjalanan Ibadah Bandara Soekarno-Hatta Catatan Perjalanan