KETIK, SAMPANG – Keterbatasan ekonomi tidak menyurutkan semangat Abd. Qodir (11), seorang santri yatim piatu di Pondok Pesantren Miftahut Thullab, Gedangan, Kedungdung, Kabupaten Sampang, Jawa Timur, untuk terus menuntut ilmu.
Abd. Qodir telah kehilangan kedua orang tuanya sejak usia dini. Ayahnya meninggal dunia saat ia berusia tiga tahun. Duka mendalam kembali menimpanya ketika ibunya menyusul wafat tepat pada peringatan seribu hari kepergian sang ayah.
Kini, Abd. Qodir duduk di bangku kelas 3 Madrasah Ibtidaiyah di pondok pesantren tersebut. Dalam kesehariannya, ia hidup dalam kondisi serba terbatas.
Untuk kebutuhan uang jajan, ia hanya sesekali mendapat kiriman dari bibinya. Sementara kebutuhan makan sehari-hari ditanggung oleh Nyai Sholehah, yang juga membantu lima anak yatim lainnya.
Kondisi ekonomi keluarga turut memengaruhi pendidikan kakaknya yang kini berusia 11 tahun. Sang kakak terpaksa berhenti mondok karena keterbatasan biaya dan memilih membantu bibinya bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup.
Saat ini, Abd. Qodir tinggal bersama neneknya yang hidup dalam kondisi serba kekurangan. Meski demikian, situasi tersebut tidak memadamkan tekadnya untuk terus belajar.
"Saya sangat ingin terus sekolah dan mondok di sini. Walaupun saya tidak punya ayah dan ibu, saya ingin tetap belajar supaya bisa menjadi orang yang berilmu. Saya ingin membahagiakan nenek saya yang sudah merawat saya selama ini," ujar Abd. Qodir dengan suara pelan, Sabtu, 12 April 2026.
Ia mengaku sering menghadapi kesulitan, terutama saat tidak memiliki uang jajan maupun kebutuhan sekolah lainnya. Namun, bantuan dari para dermawan menjadi harapan yang membuatnya tetap bertahan.
"Kadang saya diberi uang jajan oleh orang-orang yang peduli. Saya sangat bersyukur atas bantuan itu. Bagi saya, sekecil apa pun bantuan sangat berarti. Saya tidak ingin menyerah dengan keadaan. Saya ingin terus belajar, karena saya yakin pendidikan bisa mengubah masa depan saya," kata dia.
Lebih lanjut, ia berharap dapat terus melanjutkan pendidikan tanpa terkendala biaya, serta tetap tinggal di pondok pesantren yang telah menjadi tempatnya menimba ilmu dan bertumbuh.
"Saya hanya ingin bisa terus belajar di pondok ini sampai selesai. Saya ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi banyak orang. Saya berharap ada yang bisa membantu saya agar saya tidak berhenti sekolah seperti kakak saya," tuturnya.
Melihat kondisi tersebut, jurnalis Ketik.com Biro Sampang bersama Volunteer Duta Cendekia Robbani Sampang membuka donasi untuk membantu kebutuhan pendidikan dan kehidupan sehari-hari Abd. Qodir di Pondok Pesantren.
Bantuan yang diberikan diharapkan dapat meringankan beban hidup Abd. Qodir, sekaligus memastikan ia dapat terus melanjutkan pendidikannya tanpa hambatan.
Kisah Abd. Qodir menjadi potret nyata perjuangan anak-anak di daerah yang tetap berjuang meraih cita-cita di tengah keterbatasan.
Dukungan dari para dermawan diharapkan mampu menjadi jalan bagi masa depan yang lebih baik bagi dirinya. Bagi dermawan yang ingin membantu bisa hubungi nomor WhatsApp 0877-2306-4160. (*)
